Marc Marquez Dibayangi Kutukan Mandalika Jelang GP Indonesia
Marc Marquez menghadapi GP Indonesia 2026 dengan bayang-bayang kutukan Mandalika dan persaingan ketat perebutan gelar juara dunia MotoGP.
Ilustrasi mahasiswa. (Reuters/Fabian Bimmer)
Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menilai dosen lebih banyak mengajar dibandingkan meneliti.
Penyebabnya pendapatan dosen dari hasil mengajar lebih banyak ketimbang dari penelitian. Demikian diungkap Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, di Jakarta, Selasa (30/10/2018).
Ghufron menambahkan ada kesenjangan dalam penelitian di Tanah Air, terutama terkait potensi dan apa yang diteliti. "Potensi penelitian di Tanah Air sangat banyak. Sayangnya potensi itu tidak digarap maksimal," ujar Ghufron.
Potensi tersebut tidak digarap maksimal karena dosen lebih banyak mengajar dibandingkan meneliti. Ghufron mengatakan pendapatan dosen lebih banyak dari hasil mengajar dibandingkan meneliti.
Seharusnya baik mengajar maupun meneliti harus seimbang. Permenristekdikti No.17/2017 memberi peluang dosen untuk tidak hanya mengajar, tapi juga meneliti. "Budaya meneliti sudah ada di kita, tapi masih kurang kuat. Masih sangat kurang menceritakan atmosfer akademik. Akhirnya hasil penelitiannya kurang," kata dia.
Selain itu, di sejumlah Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK) terjadi kesenjangan peneliti muda dan peneliti tua. Saat ini lebih banyak peneliti berusia tua dibandingkan yang muda. Menurut Ghufron, hal tersebut harus segera diatasi agar kesenjangan tidak semakin berlarut.
Melalui Program Riset Inovatif Produktif (Rispro), Ghufron yakin kesenjangan tersebut dapat diatasi. Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas dan kualitas peneliti serta mentransfer pengetahuan dari peneliti yang berusia tua ke yang muda.
"Sekarang perkembangan teknologi dan seni luar biasa. Jika kapasitas peneliti tidak diperkuat, akan semakin susah. Apalagi sekarang eranya teknologi revolusi industri 4.0," kata dia lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Marc Marquez menghadapi GP Indonesia 2026 dengan bayang-bayang kutukan Mandalika dan persaingan ketat perebutan gelar juara dunia MotoGP.
Sleman mengingatkan risiko zoonosis dari anabul dan mendorong vaksinasi rabies berkala meski DIY berstatus bebas rabies.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 1 Oktober 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Cek jam keberangkatan dan kedatangan di tiap stasiun.
UMKM Keparakan didorong memperkuat higienitas produk agar mampu meningkatkan kepercayaan konsumen dan membidik wisatawan.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo 1 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jam keberangkatan dari Jogja dan Kutoarjo.
Dua anak perempuan diduga diculik saat hendak les di Menceng, Kalideres. Keduanya ditemukan terpisah dan kalung emas diduga dirampas.