JOKOWI PERSIDEN : Ini Saran Pakar Untuk Duet Jokowi-JK (Bagian 1/3)

Senin, 29 September 2014 12:40 WIB
JOKOWI PERSIDEN : Ini Saran Pakar Untuk Duet Jokowi-JK (Bagian 1/3)

Calon presiden terpilih dalam Pilpres 2014 Joko Widodo (kiri) bersama calon wakil presiden terpilih Jusuf Kalla (kanan) berjalan menuju teras untuk memberikan keterangan pers tentang postur kabinet mereka kelak di Kantor Transisi Jokowi-JK di Jl. Situbondo No. 10, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/9/2014). Joko Widodo dan Jusuf Kalla memastikan postur kabinetnya akan berjumlah 34 kementerian yang akan diisi oleh 18 orang menteri dari kalangan profesional dan 16 orang dari profesional perwakilan partai polit

Harianjogja.com, JOGJA—Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) diperkirakan bakal mengarungi lima tahun yang tak mudah dalam memimpin pemerintahan. Perimbangan kekuasaan yang kurang mendukung duet tersebut dinilai menjadi pengganjal kinerja pemerintahan.

Pakar politik dari Universitas Muhammadyah Yogyakarta (UMY) Bambang Wahyu Nugroho mengatakan partai pendukung Jokowi-JK di parlemen kurang kuat di parlemen. Oleh karena itu, rezim Jokowi perlu merangkul Koalisi Merah Putih (pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa) dalam menjalankan roda pemerintahan. Hal itu penting untuk menciptakan stabilitas politik selama lima tahun ke depan.

Bambang memberikan gambaran, dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2014, selisih perolehan suara Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta tidak terpaut jauh. Sementara, kekuatan Koalisi Merah Putih lebih dominan di parlemen. Imbasnya, situasi saling menjatuhkan potensial terjadi. Solusianya adalah rekonsiliasi untuk menciptakan keseimbangan baru di parlemen. Tanpa rekonsialiasi, Jokowi-JK kemungkinan akan selalu “dihabisi” di parlemen.

Di DPR, Koalisi Merah Putih menguasai 63% kursi atau 353 dari 560 kursi. Kekuatan pengusung Prabowo-Hatta meliputi Partai Gerindra (73 kursi), Partai Golkar (91), Partai Demokrat (61), Partai Amanat Nasional (PAN) (49), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) (40), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (39). Sementara, pendukung Jokowi-JK hanya memegang 207 kursi yang meliputi PDI Perjuangan (109), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (47), Nasdem (35), dan Hanura (16). Komposisi tersebut tak akan berubah kecual Jokowi-JK merangkul sebagian partai di Koalisi Merah Putih sehingga muncul perimbangan kekuatan baru di parlemen.

“Akan jadi solusi apabila Jokowi-JK yang mendahului mengulurkan tangan untuk merangkul Koalisi Merah Putih dalam menjalankan roda pemerintahan,” ujarnya kepada Harianjogja.com, Sabtu (27/9/2014).

Sejauh ini Bambang belum melihat adanya realisasi upaya rekonsiliasi dari kedua pihak untuk menyatukan visi misi dalam menata roda pemerintahan ke depan. Menurutnya program kerja yang dirancang Jokowi-JK akan sia-sia apabila Jokowi kukuh pada koalisi yang mengusungnya sejak awal. “Ini politik, jika koalisi yang pernah dikalahkan tidak dirangkul, si lawan ini bermain lewat jalur parlemen,”
ujarnya.

Menurutnya kemenangan Koalisi Merah Putih dalam penetapan Rancangan Undang-undang (RUU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) menjadi gambaran adanya indikasi kurang menguntungkan bagi Jokowi-JK. Apabila hal tersebut dibiarkan terus berkembang,
pengambilan keputusan antara pemerintah dan parlemen akan lebih sering buntu.

“Apabila sering deadlock [buntu], yang rugi justru pemerintahan Jokowi. Imbas yang lebih parah dari berkembangnya situasi ini tentu
saja mengarah ke aspek politik dan ekonomi,” terangnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online