Selat Hormuz Tertutup, Ekonomi Inggris Terancam Resesi 2027
Inggris terancam resesi 2027 jika Selat Hormuz tertutup. Inflasi bisa tembus 6,4%, pertumbuhan minus 0,2%. Simak skenario lengkap EY.
Truth Social
Harianjogja.com, JOGJA—Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah membagikan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya sebagai legenda rock and roll, Elvis Presley. Unggahan tersebut langsung memicu beragam reaksi di media sosial, termasuk kritik dari para penggemar Elvis yang menilai tindakan itu tidak menghormati ikon musik dunia tersebut.
Melansir Euro News, Senin (3/8/2026), Trump dalam rentang Sabtu hingga Minggu mengunggah sekitar 40 konten melalui platform Truth Social. Sebagian besar unggahan tersebut berupa gambar yang dibuat menggunakan teknologi AI.
Di antara berbagai gambar yang dibagikan, terdapat ilustrasi peta Venezuela yang ditutupi bendera Amerika Serikat dengan tulisan "Negara Bagian ke-51". Trump juga mengunggah gambar wajahnya yang tampak melayang di atas Greenland dengan pesan singkat bertuliskan "Halo, Greenland!".
Namun, unggahan yang paling banyak menyita perhatian publik adalah gambar Trump yang mengenakan kostum khas Elvis Presley.
Ilustrasi tersebut terinspirasi dari jumpsuit berpayet yang dikenakan Elvis Presley saat konser legendaris Aloha from Hawaii pada 1973, salah satu penampilan paling ikonik dalam sejarah musik dunia.
Bukan Kali Pertama Trump Kaitkan Diri dengan Elvis
Hubungan simbolik antara Trump dan Elvis sebenarnya bukan hal baru.
Pada awal tahun ini, Trump sempat membandingkan popularitas dirinya dengan sang legenda musik ketika menawarkan diri tampil dalam perayaan Freedom 250 di Great American State Fair setelah sejumlah pengisi acara membatalkan kehadiran mereka.
Saat itu, Trump menulis bahwa dirinya merupakan "daya tarik nomor satu di dunia" dan mengklaim mampu menarik massa lebih besar dibanding Elvis Presley pada masa kejayaannya, meskipun tidak memainkan gitar.
Pernyataan tersebut memicu kritik luas di media sosial dan kembali menjadi bahan perbincangan setelah unggahan AI terbaru yang menampilkan dirinya sebagai Elvis beredar.
Penggemar Elvis Beri Respons Pedas
Tidak sedikit pengguna media sosial yang mengecam unggahan tersebut.
Salah seorang warganet menyebut gambar AI itu sebagai "penghinaan bagi semua orang yang mencintai Elvis".
Komentar lain menilai Trump telah menjadikan dirinya bahan tertawaan di berbagai negara.
Ada pula pengguna yang membandingkan rekam jejak keduanya dengan menyatakan, "Berbeda dengan Trump, Elvis mengabdi kepada negara dengan kehormatan, dedikasi, dan rock and roll."
Sementara itu, pengguna lain menilai Trump tidak hanya ingin menjadi pusat perhatian, tetapi juga berusaha menempatkan dirinya sebagai sosok Elvis Presley pada masa kejayaannya.
Reaksi tersebut memperlihatkan bahwa figur Elvis Presley masih memiliki tempat khusus di hati banyak penggemar sehingga penggunaan citranya dalam konteks politik maupun promosi pribadi kerap memicu sensitivitas publik.
Kerap Gunakan Karakter Populer dalam Gambar AI
Unggahan Trump sebagai Elvis Presley menambah daftar panjang konten AI yang pernah dibagikannya dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, Trump juga pernah mengunggah gambar yang menggambarkan dirinya sebagai Superman, Hannibal Lecter, hingga karakter Jedi dari waralaba Star Wars.
Sejumlah unggahan tersebut juga menuai kritik dari penggemar budaya populer dan kreator karena dianggap tidak memahami makna maupun latar belakang karakter yang digunakan.
Meski demikian, strategi komunikasi semacam itu terus digunakan Trump untuk menarik perhatian publik dan mempertahankan eksistensinya di ruang digital.
Kontroversi Bertambah dengan Isu Trump 2028
Di tengah polemik gambar AI tersebut, Trump juga kembali menjadi bahan perdebatan setelah beberapa kali memberi sinyal ingin kembali mencalonkan diri sebagai presiden untuk masa jabatan ketiga.
Keinginan itu menjadi kontroversial karena Amendemen ke-22 Konstitusi Amerika Serikat membatasi seorang presiden hanya dapat dipilih maksimal dua kali.
Dalam wawancara dengan Real America's Voice, Trump bahkan mengaku "ingin menjadi orang berikutnya yang menjabat."
Pernyataan tersebut muncul setelah sebelumnya ia mengunggah sejumlah foto dirinya mengenakan topi bertuliskan "Trump 2028".
Unggahan tersebut kembali memicu diskusi publik mengenai batas masa jabatan presiden serta ambisi politik Trump di masa mendatang.
Kontroversi terbaru ini memperlihatkan bagaimana media sosial tetap menjadi salah satu alat utama Donald Trump untuk membangun narasi dan menarik perhatian publik, meskipun sering kali memunculkan kritik dari berbagai kalangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Inggris terancam resesi 2027 jika Selat Hormuz tertutup. Inflasi bisa tembus 6,4%, pertumbuhan minus 0,2%. Simak skenario lengkap EY.
Massive Attack mengaku ditahan dan diinterogasi di Singapura setelah mengibarkan bendera Palestina saat konser. Dua anggota juga dicekal masuk kembali.
5 aplikasi Google seperti YouTube, Chrome, Maps, Gmail, dan Google Home disebut paling banyak menguras baterai HP. Simak cara mengatasinya.
Sebanyak 39 pelajar SMA asal Bantul mulai belajar di Sekolah Rakyat Terpadu Kulon Progo. Seleksi dilakukan melalui asesmen kondisi keluarga.
Aldila Sutjiadi dan Erin Routliffe juara Washington Open 2026 usai menang di final. Gelar ini menjadi trofi WTA kedelapan Aldila.
WNI berusia 25 tahun ditahan di KLIA Malaysia setelah mengamuk akibat penerbangan tertunda lima jam dan mengancam staf maskapai.