Pesta Miras di Permukiman Solo Digerebek, Empat Pria Ditangkap
Tim Sparta Polresta Solo mengamankan empat pria dan menyita sejumlah miras usai menggerebek pesta minuman keras di kawasan Gilingan, Solo.
Tim Wooden Windmill Universitas Sanata Dharma Jogja meluapkan kegembiaraan seusai menerima penghargaan juara pertama dalam Kejuaraan Kincir Angin Indonesia (KKAI) 2014 di Kampus Mrican USD, Jumat (19/9/2014). (JIBI/Harian Jogja/Arif Wahyudi)
Harianjogja.com, JOGJA—Tim Wooden Windmill Universitas Sanata Dharma (USD) Jogja berhasil mempertahankan gelar juara dalam Kejuaraan Kincir Angin Indonesia (KKAI) 2014 yang berlangsung di Pantai Baru, Bantul, 16-19 September lalu. Pada ajang serupa 2013 lalu, posisi juara juga disabet USD.
Anggota tim Wooden terdiri dari lima mahasiswa program studi Teknik Mesin dan Elektro, yakni Ignatius Rio Christy Bagaskara, Andreas Bagus Sadewo, Tito Dwi Nugroho, Bernardus Morgan Wijayanto dan Teddy Haribertus. Mereka melakukan serangkaian inovasi selama satu tahun sejak kemenangan di KKAI 2013.
“Perbedaan paling signifikan yang kami lakukan ialah pada sistem pengontrol dari kincir angin kami. Kali ini kami sudah menggunakan pengontrol otomatis, di mana setiap energi yang dihasilkan secara otomatis akan terseleksi yang paling maksimal,” ujar Andreas seusai menerima piala kemenangan, Jumat (19/9/2014).
Andreas menuturkan inovasi kincir angin karya mahasiswa USD tersebut mampu menghasilkan energi dua kali lipat lebih besar dari kincir angin sebelumnya. Apabila kincin angin buatan tim USD pada 2013 lalu menghasilkan energi sebesar 2000 watt, kini inovasi mereka bisa menghasilkan energi mencapai 4000 watt. Bertambahnya energi yang dihasilkan terjadi karena tim menambah jumlah baling-baling atau sudu yang semula empat kini jadi enam.
Kelebihan kincir angin buatan mereka terletak pada bahan kayu yang menjadi bahan utama baling-balingnya. Kayu yang dipilih ialah kayu jati yang memiliki ketahanan lebih baik. Tim ini mengaku mengeluarkan biaya antara Rp10juta dan Rp12juta untuk membuat kincir angin tersebut, lengkap dengan menara dan generatornya.
Ketua Dewan Juri KKAI 2014 Heru Santoso Budi Harjo menuturkan jika dibandingkan dengan penyelenggaraan KKAI tahun lalu, energi rata-rata yang dihasilkan dalam kompetisi tahun ini jauh lebih baik. Dari 50 jam penyelenggaraan kompetisi, tercatat akumulasi energi sebesar 4.000,69 watt hour atau rata-rata 80 watt/hour.
Dengan kecepatan angin 6,25meter/detik, angka tersebut bisa dikatakan mencapai 74% dari energi ideal yang seharusnya terkumpulkan. Dengan turbin berdiameter 2,5-3meter, energi maksimal yang bisa terkumpul seharusnya bisa mencapai 108watt/hour.
“Ini sudah jauh lebih baik dibanding tahun lalu yang maksimal hanya 30watt/hour,” papar peneliti kincir angin Jurusan Teknik Mesin dan
Industri Universitas Gadjah Mada ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tim Sparta Polresta Solo mengamankan empat pria dan menyita sejumlah miras usai menggerebek pesta minuman keras di kawasan Gilingan, Solo.
PSI Bantul merampungkan kepengurusan di 17 kapanewon dan 76 DPRt, lalu memulai konsolidasi dan pendidikan politik menuju Pemilu 2029.
Kasus HIV/AIDS di Gunungkidul bertambah 36 hingga Mei 2026. Dinkes mencatat 372 pasien rutin berobat, termasuk 13 anak.
Survei LKPI mencatat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,3% pada semester I 2026.
Program Listrik Desa ditargetkan diluncurkan pada Agustus 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut jadwal peresmian masih difinalisasi.
Dewas KPK mengkaji dugaan pelanggaran etik Staf Administrasi KPK Setya Budi Dias dalam kasus dugaan pemerasan terhadap Bupati Pemalang.