Ternyata Pola Pendidikan yang Diterima Guru Matematika Lokal Berbeda dengan Guru di Eropa

Senin, 15 September 2014 12:40 WIB
Ternyata Pola Pendidikan yang Diterima Guru Matematika Lokal Berbeda dengan Guru di Eropa

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra Kumala (Foto Ilustrasi) Guru bahasa Inggris mengajar siswa kelas VI sekolah dasar di lembaga bimbingan belajar Primagama Jl. Adi Sucipto, Manahan, Solo, Jumat (24/1). Sejumlah siswa memilih untuk masuk lembaga bimbingan belajar untuk persiapan menghadapi Ujian Sekolah.

Harianjogja.com, JOGJA-Penyebab anak merasa kesulitan mengikuti pelajaran matematika tidak hanya disebabkan kurangnya kreativitas guru pengampu. Pola pendidikan yang diterima guru semasa kuliah pun ternyata menjadi penyumbang persoalan.

Pakar Matematika Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, YG. Hartono menilai guru matematika di Indonesia kurang kreatif sehingga mengakibatkan siswa merasa bosan. Kendati demikian, Hartono pun memaklumi. Sebab hampir semua guru matematika di Indonesia kurang memiliki landasan teori yang kuat. Adapun, rata-rata guru di negara-negara Eropa memiliki landasan kuat pada teori matematika.

"Para guru di negara-negara Eropa selalu berangkat dari teori lebih dulu, baru kemudian mendalami tentang teori pengajaran atau pedagogi," jelas Seminar Nasional Peran Matematika dan Pendidikan Matematika untuk Pembangunan Nasional, Sabtu (13/9/2014).

Selama kuliah, kata dia, calon guru di Indonesia mempelajari teori dan pedagogi secara bersamaan. Akibatnya, pengetahuan mengenai teori maupun pedagogik guru lokal mengenai kajiannya lebih sedikit.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online