Rumah Adat Sade Lombok Terbakar, Penyebab Masih Diselidiki
Kebakaran melanda rumah adat Sade di Lombok Tengah, Sabtu malam. Petugas pemadam dikerahkan dan penyebab kebakaran masih diselidiki.
Petugas melakukan pemadaman pada lahan yang terbakar. Fenomena El Nino yang berlangsung sejak Juli 2026 telah menaikkan risiko karhutla di Indonesia./Dok. KLH\r\n\r\n
Harianjogja.com, BANJARBARU—Sebanyak 696 titik panas atau hotspot terdeteksi di Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan pemutakhiran data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (23/8). Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada pada tingkat sedang, sementara indikator tingkat tinggi menunjukkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang perlu diwaspadai.
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru Fitma Surya Arghani mengatakan 696 titik panas tersebut terdiri atas 45 titik dengan tingkat rendah, 622 titik tingkat sedang, dan 29 titik tingkat tinggi.
Fitma menjelaskan hasil pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru menunjukkan evaluasi Fire Weather Index (FWI) di wilayah Kalimantan Selatan didominasi indikator tingkat tinggi atau zona merah.
Indikator tersebut menunjukkan tingkat intensitas api sekaligus risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang terdeteksi.
“Data koordinat dan lokasi administratif, sebaran titik panas utama meliputi Kabupaten Banjar 127 titik, Hulu Sungai Selatan [115 titik], Tapin [104 titik], Hulu Sungai Utara [65 titik], Tanah Laut [58 titik], Hulu Sungai Tengah [48 titik], serta Kotabaru 46 titik,” ujar Fitma.
Selain wilayah tersebut, titik panas juga terdeteksi di Kabupaten Balangan dan Tanah Bumbu yang masing-masing mencatat 33 titik. Kota Banjarbaru memiliki 28 titik, Kabupaten Barito Kuala 21 titik, dan Kabupaten Tabalong 18 titik.
Dengan demikian, 696 titik panas yang terdeteksi BMKG tersebar di berbagai wilayah kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.
BMKG mengelompokkan tingkat kepastian fenomena titik panas menjadi tiga kategori. Tingkat 7 dikategorikan rendah dan menjadi indikasi awal adanya kenaikan suhu permukaan, tingkat 8 masuk kategori sedang yang mendominasi laporan, sedangkan tingkat 9 merupakan kategori tinggi dengan kepastian karhutla yang sangat tinggi.
Sejumlah titik panas tingkat 9 terdeteksi di Karang Intan, Daha Selatan, Batang Alai Utara, Tapin Selatan, dan Pulau Laut Barat. Sementara itu, kategori tingkat 8 menjadi kategori yang mendominasi keseluruhan titik panas yang terpantau.
Deteksi hotspot oleh BMKG dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang terdapat pada satelit polar NOAA20, S-NPP, TERRA, dan AQUA.
Sensor tersebut digunakan untuk mengidentifikasi anomali suhu panas dibandingkan wilayah di sekitarnya melalui observasi pada siang dan malam hari. Namun, BMKG mengingatkan titik panas tidak dapat terdeteksi pada wilayah yang tertutup awan maupun blank zone.
Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan kondisi karhutla di Kalimantan Selatan, terutama ketika indikator risiko kebakaran menunjukkan tingkat tinggi.
Besarnya potensi karhutla juga tercermin dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalsel. Hingga 21 Agustus 2026, tercatat 1.651 kejadian karhutla di provinsi tersebut.
Dari jumlah kejadian itu, perkiraan luas wilayah yang terbakar mencapai sekitar 6.905,67 hektare.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kebakaran melanda rumah adat Sade di Lombok Tengah, Sabtu malam. Petugas pemadam dikerahkan dan penyebab kebakaran masih diselidiki.
BEI berencana menghapus batas minimum Rp50. Saham GOTO secara teori bisa turun hingga Rp1, tetapi tetap bergantung pada fundamental.
Tim Sparta Polresta Solo mengamankan warga Gilingan yang mengamuk dan mengancam warga dengan obeng sebelum dibawa ke RSJ Kentingan.
BPS menjelaskan arti desil 1-10 dalam DTSEN, indikator yang digunakan, serta alasan desil bukan penentu tunggal penerima bansos.
Kemenhub memproses 35 izin khusus pesawat registrasi asing untuk mendukung pemadaman karhutla dengan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan.
Gempa M4,0 kembali mengguncang NTT pada 23 Agustus 2026. BNPB mencatat 53.971 rumah rusak akibat rangkaian gempa sejak 15 Agustus.