Kampung Sade Ludes Terbakar, LHSS Dorong Mitigasi Desa Adat Diperkuat

Newswire
Newswire Minggu, 23 Agustus 2026 11:37 WIB
Kampung Sade Ludes Terbakar, LHSS Dorong Mitigasi Desa Adat Diperkuat

Kebakaran Kampung Adat Sade merusak 89 rumah. LHSS meminta mitigasi dan perlindungan kawasan warisan budaya NTB dievaluasi. /Antara.

Harianjogja.com, LOMBOK TENGAH—Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi alarm keras bagi perlindungan kawasan warisan budaya. Komunitas Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menilai sistem mitigasi bencana di kawasan adat tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Ketua LHSS Muhammad Ali Akbar mengatakan kondisi bangunan di Kampung Adat Sade yang mayoritas menggunakan material seperti bambu dan ilalang membuat kawasan tersebut memiliki risiko tinggi terhadap kebakaran.

"Kampung adat kami mayoritas bermaterial ilalang dan bambu yang sangat rawan terbakar, tetapi mitigasi bencananya nol," kata Ali di Mataram, Minggu (23/8/2026).

Menurut dia, penggunaan material organik di kawasan permukiman adat belum diimbangi dengan sistem perlindungan yang memadai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain penyediaan proteksi kebakaran mandiri serta pengamanan instalasi listrik.

Ali mendorong pemerintah bersama masyarakat melakukan evaluasi sistem proteksi kebakaran di desa-desa adat untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

"Kebakaran tersebut menimbulkan efek kehilangan yang tak ternilai dengan uang. Kampung Adat Sade adalah ikon budaya hidup (living heritage) utama Pulau Lombok," ujarnya.

Dia menjelaskan kebakaran tidak hanya mengancam bangunan tradisional, tetapi juga keberadaan arsitektur vernakular Suku Sasak yang masih dipertahankan secara autentik. Ruang sosial yang selama ini digunakan masyarakat untuk menjalankan aktivitas dan ritual harian juga ikut terdampak.

Dampaknya turut dirasakan sektor ekonomi masyarakat adat. Aktivitas ekonomi kreatif yang bertumpu pada produksi kain tenun ikut terhenti akibat kebakaran.

"Kami kehilangan arsitektur vernakular Suku Sasak yang otentik dan ruang sosial tempat ritual harian warga. Selain itu, ekonomi kreatif warga lewat kain tenun juga lumpuh total," katanya.

Pemulihan Tak Cukup Bangun Rumah

LHSS menilai pemulihan Kampung Adat Sade tidak cukup hanya dengan membangun kembali bangunan yang terbakar. Proses rehabilitasi perlu menjadikan masyarakat adat dan pengetahuan budaya sebagai bagian utama.

Ali mengatakan pemberdayaan masyarakat harus ditempatkan sebagai fondasi dalam pemulihan kawasan tersebut. Menurut dia, bangunan dan artefak masih dapat dipulihkan atau didata kembali, tetapi pengetahuan budaya yang hidup di tengah masyarakat perlu dijaga.

"Fisik bangunan bisa dibangun kembali, artefak bisa kita data ulang, tetapi memori kolektif, tradisi lisan, dan keahlian menenun melekat pada manusianya. Selama masyarakat adatnya berdaya, kebudayaan Kampung Adat Sade tidak akan pernah mati," tuturnya.

89 Rumah Rusak Berat

Kebakaran melanda Kampung Adat Sade pada Sabtu (22/8/2026) malam. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, sebanyak 89 rumah mengalami rusak berat akibat peristiwa tersebut.

Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran itu. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 05.00 WITA pada Minggu (23/8/2026) setelah petugas gabungan melakukan upaya pemadaman sepanjang malam.

Bangunan rumah di kawasan adat tersebut mayoritas menggunakan bahan yang mudah terbakar, seperti kayu, bambu, dan ilalang.

Kampung Adat Sade merupakan permukiman masyarakat Suku Sasak yang hingga kini mempertahankan bentuk rumah serta tata kehidupan tradisional.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan untuk menangani dampak kebakaran di Kampung Adat Sade.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online