Gempa M6,1 Guncang Nias Selatan, BMKG Pastikan Tak Tsunami
Gempa Nias Selatan M6,1 dipicu aktivitas subduksi. BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami dan belum ada gempa susulan.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Pemerintah masih mendata kerusakan infrastruktur akibat gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejumlah fasilitas, termasuk bangunan dan ruas jalan serta infrastruktur di kawasan wisata Pulau Rinca dan Pulau Padar, dilaporkan terdampak.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti mengatakan proses identifikasi kerusakan dilakukan bersama sejumlah kementerian dan lembaga yang berada di lokasi bencana. Namun, pemerintah belum dapat memastikan jumlah infrastruktur yang rusak maupun nilai kerugiannya.
"Ini sedang kita identifikasi. Kan Pak Menteri (PU), Menko PMK (Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) sedang di sana melakukan identifikasi. Tapi saya belum tahu, laporannya sedang disusun," kata Diana di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Kerusakan jalan masih didata
Diana menjelaskan sejumlah infrastruktur terdampak bencana, mulai dari ruas jalan hingga bangunan. Pemerintah masih melakukan pendataan untuk memastikan keseluruhan kerusakan yang terjadi.
Kawasan wisata Pulau Rinca dan Pulau Padar juga masuk dalam lokasi yang dilaporkan mengalami kerusakan. Identifikasi di lapangan masih berlangsung untuk mengetahui tingkat dan cakupan dampaknya.
Meski terdapat sejumlah ruas jalan yang terdampak, Diana memastikan konektivitas wilayah NTT tidak sepenuhnya terputus. Penanganan dilakukan dengan membersihkan material yang menghambat akses kendaraan.
"Tapi bukan putus karena longsor apa-apa, sedang kita bersihkan untuk ini ya," ujarnya.
Gempa NTT terasa hingga Lombok
Gempa tektonik berkekuatan 7 magnitudo mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026) subuh. Getarannya terasa hingga Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan membuat sejumlah warga keluar rumah.
Di kompleks Perumahan Puri Anggrek, Kota Mataram, NTB, warga yang baru selesai menunaikan ibadah maupun sedang membersihkan rumah berhamburan ke tengah jalan. Gempa terjadi pada pagi hari ketika sebagian warga tengah bersiap menjalankan aktivitas.
"Gempa itu bikin kaget karena terjadi saat jam sibuk menyiapkan anak ke sekolah," kata salah seorang warga bernama Veronika saat ditemui di Mataram, NTB, Sabtu.
Getaran gempa terasa seperti ayunan
Veronika mengatakan guncangan terasa seperti ayunan dan berlangsung cukup lama. Getaran tersebut bahkan membuat kepalanya terasa pusing seperti setelah melakukan penerbangan menggunakan pesawat.
Warga Lombok lainnya, Adam, juga merasakan guncangan ketika sedang tidur. Ia terkejut setelah melihat benda-benda di kamarnya bergerak akibat gempa.
"Tadi saat lagi tidur tiba-tiba semua benda di kamar bergoyang, ternyata itu gempa bumi. Semoga tidak terjadi hal buruk di daerah pusat gempa," ucap Adam, salah seorang warga Lombok lainnya.
Getaran yang dirasakan hingga Lombok tersebut terjadi beberapa saat setelah gempa utama mengguncang wilayah NTT pada pagi hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Gempa Nias Selatan M6,1 dipicu aktivitas subduksi. BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami dan belum ada gempa susulan.
Menkeu Purbaya memastikan pengalihan status guru PPPK menjadi pegawai pusat tak mengganggu fiskal. Defisit RAPBN 2027 tetap 2,40%.
Perpres Ojol segera terbit. Tarif angkutan orang akan diatur Kemenhub, sedangkan tarif barang dan makanan menjadi kewenangan Komdigi.
Film Indonesia Solata tayang di Festival Film Anak dan Remaja Yordania. Film Ichwan Persada sebelumnya meraih penghargaan di Bulgaria.
BNPB mencatat 70 orang meninggal, 1.182 luka-luka, dan 40.040 mengungsi akibat gempa M7,7 di Flores, NTT.
Guru PPPK penuh waktu berkesempatan ikut seleksi PNS pada awal 2027. Pemerintah dan DPR juga sepakat mengubah status menjadi pegawai pusat.