Korban Tewas Akibat Gempa M7,7 NTT Bertambah Jadi 5 Orang

Newswire
Newswire Sabtu, 15 Agustus 2026 11:47 WIB
Korban Tewas Akibat Gempa M7,7 NTT Bertambah Jadi 5 Orang

Kerusakan bangunan akibat Gempa M 7,7 NTT, Sabtu (15/8/2026) pagi. /Istimewa.

Harianjogja.com, KUPANG—Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena melaporkan lima orang meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Sabtu (15/8/2026).

Melki mengatakan data tersebut merupakan laporan sementara yang diterimanya saat menggelar jumpa pers bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BPBD, Basarnas, TNI, dan Polri di Kupang.

“Berdasarkan informasi yang saya terima saat ini, jumlah korban meninggal sudah lima orang,” kata Melki di Kupang, Sabtu.

Dari lima korban tersebut, dua orang dilaporkan meninggal dunia di Maumere, Kabupaten Sikka, sedangkan tiga korban lainnya berada di Kabupaten Manggarai.

Melki mengatakan korban diduga meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang ambruk saat gempa terjadi. Namun, pemerintah daerah masih melakukan verifikasi untuk memastikan penyebab kematian masing-masing korban.

“Tetapi, kami akan pastikan lagi penyebabnya karena apa,” ujar dia.

Gubernur NTT tersebut mengatakan data lebih lengkap mengenai korban meninggal dunia maupun warga yang mengalami luka-luka akan disampaikan setelah dirinya meninjau langsung sejumlah wilayah terdampak di Flores.

“Siang nanti kami akan berangkat ke Flores dan sore nanti kami sampaikan update-nya lagi, mulai dari korban jiwa serta kerusakan,” tambahnya.

Bangunan Roboh di Maumere

Salah satu lokasi yang dilaporkan mengalami dampak cukup parah berada di kawasan Pelabuhan Lorens Say, Maumere, Kabupaten Sikka.

Bangunan di kawasan tersebut roboh dan menimpa warga. Tim SAR gabungan kemudian mengevakuasi tiga korban dari bawah reruntuhan.

Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso mengatakan satu korban meninggal dunia, sedangkan dua lainnya mengalami luka-luka.

“Jadi, tiga korban tersebut telah dievakuasi; satu di antaranya meninggal dunia dan dua orang mengalami luka-luka,” kata Edy di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Kantor SAR Maumere mengidentifikasi korban meninggal dunia sebagai Meliana Nenong, perempuan berusia 54 tahun. Sementara itu, dua korban luka dibawa ke RSUD T.C. Hillers Maumere untuk mendapatkan penanganan medis.

“Saat terjadi gempa, bangunan yang berada di Pelabuhan Lauren Say Maumere-Sikka roboh dan menimpa warga,” kata Edy.

Seluruh korban telah dievakuasi dari lokasi. Korban meninggal dunia selanjutnya menjalani proses pemulasaraan, sedangkan korban luka mendapatkan perawatan medis.

Tim SAR gabungan bersama personel Kantor SAR Maumere kemudian dikerahkan menuju Kabupaten Nagekeo dan sejumlah wilayah lain yang terdampak gempa.

Penyisiran dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya korban lain yang membutuhkan pertolongan. Basarnas juga berkoordinasi dengan BPBD, TNI, dan Polri untuk memperbarui pendataan korban serta mempercepat penanganan darurat.

Sejumlah Jalan di Flores Putus

Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah Flores. Melki mengatakan beberapa ruas jalan dilaporkan putus dan mengalami longsor akibat guncangan gempa.

Pemerintah daerah bersama unsur terkait masih melakukan pendataan kerusakan untuk mengetahui kondisi terbaru di wilayah terdampak.

Pada saat yang sama, aktivitas pencarian dan pertolongan masih berlangsung. Data mengenai korban meninggal, korban luka, maupun kerusakan bangunan masih dapat berubah seiring proses asesmen dan verifikasi lapangan.

Gempa Sempat Picu Ancaman Tsunami

Gempa Nagekeo sempat memicu ancaman tsunami di sejumlah wilayah. BMKG menetapkan sejumlah daerah di NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam status Siaga dan Waspada tsunami.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan kedalaman 15 kilometer. Episenter berada di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.

“Berdasarkan hasil pemodelan tsunami, gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah Provinsi NTT, Sulawesi Selatan, dan NTB dengan status ancaman Siaga berketinggian 0,5 sampai 3 meter serta status Waspada di bawah 0,5 meter,” katanya.

Status dan perkembangan peringatan tsunami masih mengikuti informasi resmi BMKG. Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengutamakan keselamatan dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Sementara itu, pemerintah daerah bersama tim SAR, BPBD, TNI, dan Polri masih melakukan penyisiran serta pendataan di sejumlah lokasi untuk memastikan kondisi masyarakat setelah gempa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online