El Nino Menguat, Mitigasi Kekeringan dan Karhutla Dipercepat

Akbar Evandio
Akbar Evandio Rabu, 29 Juli 2026 13:57 WIB
El Nino Menguat, Mitigasi Kekeringan dan Karhutla Dipercepat

Personel gabungan memadamkan api yang membakar lahan di Perbukitan Menoreh, Hargorejo, Kokap pada Minggu (15/10/2023).(IST/Polres Kulonprogo)

Harianjogja.com, JAKARTA— Fenomena El Nino di kawasan Samudra Pasifik telah memasuki kategori kuat. Pemerintah pun memperkuat langkah mitigasi untuk mengantisipasi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan hal tersebut usai menghadiri rapat terbatas (ratas) mengenai penanganan cuaca ekstrem dan penanggulangan bencana yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap upaya mitigasi dampak El Nino, terutama terkait potensi kekeringan dan karhutla.

"Tadi saya meng-update tentang perkembangan El Nino khususnya di Indonesia," ujar Faisal.

Faisal menjelaskan El Nino dinyatakan aktif ketika suhu permukaan laut di bagian tengah Samudra Pasifik meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi tersebut kini telah berkembang menjadi El Nino kuat.

"Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada dua hal, yaitu yang pertama terkait dengan kekeringan, dan yang kedua terkait dengan kebakaran hutan dan lahan," katanya.

Untuk mengurangi dampak kekeringan, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta pihak swasta akan mengintensifkan operasi modifikasi cuaca guna meningkatkan cadangan air di sejumlah waduk.

Indonesia memiliki sekitar 240 waduk dan sebagian di antaranya akan menjadi sasaran operasi modifikasi cuaca. Langkah tersebut dilakukan agar pasokan air tetap tersedia untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi, dan air bersih.

"Pengisian waduk-waduk yang ada di Indonesia, kita punya 240 waduk. Beberapa, memang tidak semua, itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih," ujarnya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi karhutla, BMKG akan melakukan operasi modifikasi cuaca secara berkala di enam provinsi prioritas, yakni di Riau, di Jambi, di Sumatera Selatan, di Kalimantan Barat, di Kalimantan Tengah, dan di Kalimantan Selatan.

Operasi tersebut dilakukan dengan menjaga lahan gambut tetap jenuh air sehingga tidak mudah terbakar selama musim kemarau.

"Itu juga dilakukan secara berkala Operasi Modifikasi Cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana agar dia tidak mudah terbakar," kata Faisal.

Selain enam provinsi prioritas tersebut, BMKG juga melaksanakan operasi modifikasi cuaca secara situasional di sejumlah wilayah lain, seperti di Kepulauan Riau dan di Aceh, dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca dan potensi bencana di masing-masing daerah.

Menurut Faisal, berbagai langkah mitigasi tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meminimalkan dampak El Nino terhadap ketahanan air, produksi pertanian, pembangkit listrik tenaga air, serta risiko kebakaran hutan dan lahan sepanjang musim kemarau 2026.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online