Gempa Susulan M6,0 di Laut Sulawesi, Warga Gorontalo Utara Dievakuasi

Newswire
Newswire Senin, 08 Juni 2026 10:17 WIB
Gempa Susulan M6,0 di Laut Sulawesi, Warga Gorontalo Utara Dievakuasi

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, GORONTALO—Gempa bumi susulan berkekuatan magnitudo 6,0 kembali mengguncang wilayah Laut Sulawesi pada Senin (8/6/2026) pukul 07.55 WIB. Guncangan yang berasal dari kawasan sekitar Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, tersebut turut dirasakan oleh warga di Kabupaten Gorontalo Utara dan memicu peningkatan kewaspadaan di sejumlah wilayah pesisir.

Peristiwa ini terjadi ketika status peringatan dini tsunami masih diberlakukan menyusul gempa kuat magnitudo 7,7 yang sebelumnya mengguncang Laut Sulawesi. Sejumlah warga di kawasan pantai mulai melakukan langkah antisipasi dengan memantau kondisi laut hingga melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang dianggap lebih aman.

Kepala Stasiun Geofisika Gorontalo, Dr. Andri Wijaya, mengatakan gempa susulan tersebut berpusat di wilayah Tahuna, Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Hingga saat ini, BMKG masih mempertahankan status peringatan dini tsunami dengan pembaruan data yang berada pada level Peringatan Dini (PD) 3.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di sejumlah daerah pesisir meningkatkan kewaspadaan. Di Kabupaten Gorontalo Utara, aktivitas warga sempat terganggu setelah informasi mengenai potensi tsunami tersebar melalui berbagai saluran komunikasi.

Warga Dusun Pelabuhan, Desa Katialada, Kecamatan Kwandang, Hamid Rauf, mengaku sempat merasakan kecemasan setelah menerima informasi terkait peringatan tsunami yang masih berlaku.

"Kami takut dengan adanya peringatan tsunami, saya sempat menghentikan sementara aktivitas untuk mengucap doa, apalagi sempat merasa pusing dan khawatir," kata Hamid, seorang penjual ikan keliling.

Warga Pesisir Pantau Kondisi Laut

Kewaspadaan serupa juga terlihat di kawasan Pelabuhan Kwandang. Sejumlah warga terus memantau perkembangan kondisi laut sembari menunggu informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait.

Warga setempat, Iskandar, mengatakan sebagian masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir mulai meninggalkan area pantai dan melakukan evakuasi secara mandiri sebagai langkah pencegahan.

"Informasi yang beredar terkait siaga status tsunami membuat warga tidak menunggu lagi informasi lanjutan dari pemerintah namun telah berangsur-angsur melakukan evakuasi mandiri tanpa kepanikan," katanya.

Meski demikian, situasi di lapangan dilaporkan tetap kondusif. Warga bergerak menuju lokasi yang lebih aman secara tertib tanpa menimbulkan kepanikan massal.

Sekolah Pulangkan Siswa Lebih Awal

Dampak kewaspadaan terhadap potensi tsunami juga dirasakan di lingkungan pendidikan. Sejumlah sekolah mengambil langkah antisipatif dengan memulangkan siswa lebih awal guna memastikan keselamatan peserta didik.

Ervina, guru SMA Negeri 1 Gorontalo Utara, mengatakan pihak sekolah memutuskan menghentikan kegiatan belajar mengajar setelah banyak orang tua menghubungi wali kelas untuk menanyakan kondisi terkini dan meminta kepastian keamanan anak-anak mereka.

"Bel panjang telah dibunyikan tanda anak-anak dapat pulang ke rumah mengingat banyak orang tua menghubungi kami selaku wali kelas untuk menyampaikan informasi terkini di sekolah. Alhamdulillah lingkungan sekolah kondusif namun anak-anak sudah dipulangkan," kata Ervina.

Hingga berita ini ditulis, pemantauan terhadap aktivitas kegempaan dan potensi tsunami masih terus dilakukan oleh BMKG bersama instansi terkait. Masyarakat di wilayah pesisir diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi, mengingat status peringatan dini tsunami masih berlaku dan pembaruan data terus dilakukan secara berkala.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online