Pemkab Gunungkidul Kukuhkan 72 Anggota Paskibraka untuk HUT RI
Pemkab Gunungkidul mengukuhkan 72 anggota Paskibraka dari 22 sekolah untuk bertugas dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyampaikan pernyataannya dalam konferensi pers usai Pertemuan "2+2" Menlu-Menhan RI-Turki di Ankara, Turki, Jumat (9/1/2026). ANTARA/Nabil Ihsan/am
Harianjogja.com, JENEWA — Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan melontarkan peringatan keras terkait dinamika geopolitik global yang kian memanas. Dalam pernyataannya, ia menilai Israel kini tidak lagi sekadar menjadi aktor dalam konflik kawasan, melainkan telah berkembang menjadi faktor yang berpotensi mengganggu stabilitas dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Fidan saat kunjungan resmi ke Inggris, tepatnya dalam forum akademik di University of Oxford. Ia menyoroti eskalasi konflik yang melibatkan Iran, yang menurutnya dipicu oleh serangkaian serangan yang memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut Fidan, dampak konflik tersebut tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan, tetapi juga telah merembet pada stabilitas ekonomi dan keamanan global. Ia menilai batas antara konflik regional dan krisis global kini semakin kabur.
“Ketidakpastian yang muncul dari konflik ini telah memukul stabilitas dunia. Situasi ini tidak bisa lagi dilihat sebagai persoalan lokal semata,” ujarnya.
Seruan Respons Internasional
Dalam pandangannya, kondisi tersebut menuntut respons bersama dari komunitas internasional. Fidan menegaskan bahwa pendekatan parsial tidak lagi memadai untuk merespons kompleksitas konflik modern.
Ia juga menekankan pentingnya peran negara-negara dengan kekuatan menengah—yakni negara yang memiliki posisi strategis secara geografis serta kapasitas diplomasi yang kuat. Negara-negara ini dinilai mampu menjadi penyeimbang dalam meredam ketegangan global.
Konflik Lama Jadi Bom Waktu
Lebih jauh, Fidan mengingatkan bahwa berbagai konflik yang belum terselesaikan di dunia berpotensi menjadi sumber ketidakstabilan jangka panjang. Ia menyebut situasi tersebut sebagai “bom waktu” yang sewaktu-waktu dapat memicu krisis lebih besar.
Karena itu, ia mendorong adanya solusi berkelanjutan, bukan sekadar langkah reaktif jangka pendek. Upaya penyelesaian konflik, menurutnya, harus menyasar akar persoalan agar tidak terus berulang.
Dorongan Reformasi Tatanan Global
Dalam kesempatan yang sama, Fidan juga mengangkat pentingnya reformasi sistem global. Ia menilai struktur tatanan dunia saat ini sudah tidak lagi relevan untuk menghadapi tantangan geopolitik yang terus berkembang.
Ia mengusulkan pendekatan baru di kawasan Timur Tengah yang berlandaskan kerja sama, bukan dominasi kekuatan tertentu. Model hubungan yang lebih setara dinilai dapat menciptakan stabilitas jangka panjang.
“Era lama sudah berakhir. Pertanyaannya sekarang bukan apakah sistem itu masih relevan, tetapi siapa yang akan membentuk tatanan baru,” tegasnya.
Meski demikian, Fidan tetap optimistis bahwa masa depan global yang damai dan sejahtera masih bisa diwujudkan, asalkan ada kemauan politik dan kolaborasi nyata dari berbagai pihak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pemkab Gunungkidul mengukuhkan 72 anggota Paskibraka dari 22 sekolah untuk bertugas dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Iran dan Oman menyepakati peta rute pelayaran Selat Hormuz setelah perundingan teknis selama tiga bulan, tetapi jalur belum sepenuhnya normal.
Pemerintah menyiapkan dokter terbang dan mobile dentist untuk memperluas layanan kesehatan, termasuk menjangkau daerah terpencil.
Wacana dwikewarganegaraan yang disampaikan Prabowo masih sebatas gagasan. Pemerintah belum menyusun skema dan target penerapannya.
PLN mengerahkan personel penuh memulihkan listrik pascagempa Flores. Sebanyak 98,3 persen penyulang dan 88 persen pelanggan sudah menyala.
Novak Djokovic tersingkir dari Cincinnati Open 2026 setelah kalah 6-2, 4-6, 4-6 dari petenis Argentina Thiago Agustin Tirante.