Rupiah Melemah ke Rp17.903, Ini Pemicu Tekanan Global
Rupiah melemah 21 poin ke Rp17.903 per dolar AS. Konflik Timur Tengah, dolar AS, The Fed, dan data domestik jadi sorotan
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyampaikan pernyataannya dalam konferensi pers usai Pertemuan "2+2" Menlu-Menhan RI-Turki di Ankara, Turki, Jumat (9/1/2026). ANTARA/Nabil Ihsan/am
Harianjogja.com, JENEWA — Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan melontarkan peringatan keras terkait dinamika geopolitik global yang kian memanas. Dalam pernyataannya, ia menilai Israel kini tidak lagi sekadar menjadi aktor dalam konflik kawasan, melainkan telah berkembang menjadi faktor yang berpotensi mengganggu stabilitas dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Fidan saat kunjungan resmi ke Inggris, tepatnya dalam forum akademik di University of Oxford. Ia menyoroti eskalasi konflik yang melibatkan Iran, yang menurutnya dipicu oleh serangkaian serangan yang memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut Fidan, dampak konflik tersebut tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan, tetapi juga telah merembet pada stabilitas ekonomi dan keamanan global. Ia menilai batas antara konflik regional dan krisis global kini semakin kabur.
“Ketidakpastian yang muncul dari konflik ini telah memukul stabilitas dunia. Situasi ini tidak bisa lagi dilihat sebagai persoalan lokal semata,” ujarnya.
Seruan Respons Internasional
Dalam pandangannya, kondisi tersebut menuntut respons bersama dari komunitas internasional. Fidan menegaskan bahwa pendekatan parsial tidak lagi memadai untuk merespons kompleksitas konflik modern.
Ia juga menekankan pentingnya peran negara-negara dengan kekuatan menengah—yakni negara yang memiliki posisi strategis secara geografis serta kapasitas diplomasi yang kuat. Negara-negara ini dinilai mampu menjadi penyeimbang dalam meredam ketegangan global.
Konflik Lama Jadi Bom Waktu
Lebih jauh, Fidan mengingatkan bahwa berbagai konflik yang belum terselesaikan di dunia berpotensi menjadi sumber ketidakstabilan jangka panjang. Ia menyebut situasi tersebut sebagai “bom waktu” yang sewaktu-waktu dapat memicu krisis lebih besar.
Karena itu, ia mendorong adanya solusi berkelanjutan, bukan sekadar langkah reaktif jangka pendek. Upaya penyelesaian konflik, menurutnya, harus menyasar akar persoalan agar tidak terus berulang.
Dorongan Reformasi Tatanan Global
Dalam kesempatan yang sama, Fidan juga mengangkat pentingnya reformasi sistem global. Ia menilai struktur tatanan dunia saat ini sudah tidak lagi relevan untuk menghadapi tantangan geopolitik yang terus berkembang.
Ia mengusulkan pendekatan baru di kawasan Timur Tengah yang berlandaskan kerja sama, bukan dominasi kekuatan tertentu. Model hubungan yang lebih setara dinilai dapat menciptakan stabilitas jangka panjang.
“Era lama sudah berakhir. Pertanyaannya sekarang bukan apakah sistem itu masih relevan, tetapi siapa yang akan membentuk tatanan baru,” tegasnya.
Meski demikian, Fidan tetap optimistis bahwa masa depan global yang damai dan sejahtera masih bisa diwujudkan, asalkan ada kemauan politik dan kolaborasi nyata dari berbagai pihak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Rupiah melemah 21 poin ke Rp17.903 per dolar AS. Konflik Timur Tengah, dolar AS, The Fed, dan data domestik jadi sorotan
OJK mencatat Rp811,1 miliar dana korban scam berhasil diblokir. Sebanyak Rp207,16 miliar telah dikembalikan kepada korban.
Pembangunan gedung baru DPRD DIY di Jalan Kenari, Jogja, mencapai 91,407 persen dan ditargetkan rampung 6 Desember 2026.
Presiden Prabowo berkomitmen membangun ekosistem sepak bola hingga daerah dan menggandeng klub profesional bersama FIFA.
DPRD DIY meminta pemerintah dan DPR RI menyinkronkan aturan ojol dalam RUU Ketenagakerjaan dan revisi UU LLAJ.
Pendapatan parkir Sleman baru Rp3,17 miliar hingga September 2026. DPRD menilai masih banyak potensi PAD yang bisa dioptimalkan.