Ombudsman Temukan Dugaan Pungli di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan
Ombudsman RI mengungkap dugaan pungli Rp150.000 per minggu di Lapas Cibinong. Lima pejabat struktural lapas kemudian dinonaktifkan.
Seismograf gempa bumi - Ilustrasi/StockCake
Harianjogja.com, MYANMAR-Warga Myanmar yang menjadi korban gempa bumi membutuhkan obat-obatan, makanan, dan tempat tinggal. Kantor Kemanusiaan PBB (OCHA) dalam konferensi pers di Jenewa mengatakan waktu untuk respons untuk pencarian semakin sempit karena sudah 72 jam berlalu. Itu berarti jumlah korban yang terdampak dan korban jiwa diperkirakan akan meningkat, kata Koordinator Kemanusiaan OCHA untuk Myanmar, Marcoluigi Corsi.
"Tempat tinggal, makanan, air bersih, dan perlengkapan rumah tangga penting semakin terbatas. Beberapa orang di daerah terdampak menghabiskan malam di tempat terbuka... karena [tidak ada] listrik dan tidak ada air mengalir," kata Marcoluigi, Selasa (1/4/2025).
Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Fernando Thushara di Myanmar mengatakan rumah sakit di negara tersebut kewalahan dengan jumlah pasien dan persediaan medis hampir habis, serta terjadi kekurangan air bersih dan bahan bakar.
BACA JUGA : Antrean di Pintu Tol Klaten Mengular hingga 1 Kilometer
Wakil Perwakilan UNICEF, Julia Rees, mengatakan: "Kebutuhan sangat besar dan terus meningkat setiap jam. Waktu untuk respons penyelamatan semakin menipis. Di seluruh daerah terdampak, keluarga-keluarga menghadapi kekurangan akut air bersih, makanan, dan pasokan medis."
Rees mencatat bahwa bahkan sebelum gempa, lebih dari 6,5 juta anak di Myanmar sudah membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan satu dari tiga pengungsi di negara itu adalah anak-anak.
"Sekarang, gempa ini telah menambah lapisan krisis baru — mendorong keluarga-keluarga yang sudah rentan melewati batas mereka," katanya.
Ia menggarisbawahi bahwa situasinya mengerikan dan suhu di negara itu sangat panas, sehingga kebutuhan yang paling penting adalah air. Ia juga menyoroti bahwa pipa air dan septic tank telah rusak. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyatakan situasi di Myanmar merupakan krisis kemanusiaan tingkat tertinggi dan “kami belum pernah melihat tragedi dan kehancuran seperti ini di Myanmar dalam beberapa tahun terakhir."
Juru bicara UNHCR, Babar Baloch, mengatakan bahwa saat ini badan tersebut sedang mengidentifikasi kebutuhan kritis di wilayah yang paling terdampak, yaitu Mandalay, Magway, dan Sagaing. "Kebutuhan paling mendesak adalah mengerahkan tempat tinggal dan barang bantuan ke daerah terdampak," kata Baloch. “Penting juga untuk memantau risiko terkait ranjau, pemisahan keluarga, perlindungan anak, dan kekerasan berbasis gender,” katanya.
Badan-badan PBB juga menyoroti pentingnya pendanaan darurat, menyebutnya sebagai "hal yang sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Ombudsman RI mengungkap dugaan pungli Rp150.000 per minggu di Lapas Cibinong. Lima pejabat struktural lapas kemudian dinonaktifkan.
Studi Canva menemukan 98% profesional Indonesia menggunakan AI untuk presentasi, dari mencari ide hingga latihan sebelum tampil.
MK mengabulkan sebagian permohonan uji materi soal informasi kandungan gula, garam dan lemak pada kemasan makanan dan minuman.
DPRD Kulonprogo menyoroti rotasi jabatan di Pemkab dan meminta pejabat baru membuktikan kinerja serta meningkatkan pelayanan masyarakat.
Pelindo menargetkan penataan 17 entitas melalui merger, konsolidasi, divestasi dan likuidasi hingga jumlah entitas menjadi 21
KAI merespons penetapan tersangka masinis Argo Bromo Anggrek dan menindaklanjuti enam rekomendasi keselamatan dari KNKT.