Top 7 News Harianjogja.com Rabu 13 September 2023
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA-Aksi nekat segerombolan remaja menghadang truk di jalan marak dilakukan. Teranyar, aksi yang dinamai dengan "Challenge Malaikat Maut" tersebut sampai merenggut nyawa.
Challenge Malaikat Maut adalah sebuah tantangan yang viral di TikTok dimana seseorang seolah-olah akan ditabrak, tetapi saat kendaraan mendekat, orang tersebut harus menyingkir dan menghindari tabrakan.
Berdasarkan pantauan Harianjogja.com, dalam tayangan video yang viral di beberapa platform media sosial, anak-anak yang masih berusia remaja itu mendadak masuk ke bahu jalan dan menghadang truk yang saat itu tengah melintas.
Jika dilihat dari gerak-geriknya, mereka tidak ingin mencari tumpangan tetapi sengaja mengganggu truk dengan seakan-akan menabrakkan diri ke kendaraan itu secara tiba-tiba. Sontak truk-truk yang diberhentikan itu langsung menginjak pedal remnya.
Tidak hanya sekali terjadi, aksi tersebut telah berulang kali dilakukan bahkan hingga memakan korban jiwa di berbagai tempat, seperti di Banten, Bandung, dan Bekasi.
Baca juga: Jangan Sebar Hal Ini di Media Sosial
Menanggapi hal itu, peneliti Pusat Kajian Masyarakat Digital atau Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada Faiz Rahman mengatakan platform media sosial perlu selektif dan lebih aktif mendeteksi berbagai konten yang mendorong orang untuk melakukan aksi yang membahayakan keselamatan.
Menurutnya selain dari pengelola platform media sosial, diperlukan perhatian serius dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat secara umum. “Saat ini, banyak orang mencoba peruntungan untuk menjadi viral di media sosial dengan membuat konten. Tidak jarang, tren viral yang diikuti masyarakat merupakan sesuatu yang dapat membahayakan diri, khususnya apabila aksi tersebut diikuti oleh anak,” kata Faiz Rahman.
Diakui Faiz, di tengah masifnya era digitalisasi, media sosial berperan bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial berperan sebagai sarana komunikasi. Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi titik berangkat terjadinya malapetaka. Terkait dengan penyebaran konten, media sosial tentu memegang peranan penting dalam menyaring konten yang dapat membahayakan keselamatan. “Platform media sosial perlu lebih aktif dalam mendeteksi berbagai konten yang mendorong orang untuk melakukan aksi yang membahayakan keselamatan,” tegasnya.
Penegakan regulasi di platform media sosial dan moderasi konten berbahaya menjadi salah satu langkah pertama dan utama yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebarluasan konten yang mendorong seseorang membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Di samping itu juga diperlukan edukasi literasi digital juga harus ditingkatkan.
“Pemerintah memiliki peranan yang signifikan dalam menyiapkan dan memfasilitasi kegiatan edukasi yang mumpuni bagi masyarakat. Berbagai kegiatan literasi digital yang telah dilakukan oleh lembaga pemerintah, bekerja sama dengan berbagai platform media sosial, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas perlu untuk semakin di masifkan guna meningkatkan literasi digital masyarakat,” urainya.
Selain itu, akomodasi literasi digital dalam kurikulum pendidikan formal juga semakin menunjukkan urgensinya, mengingat dampak negatif dari penggunaan media sosial semakin banyak menyasar anak-anak dan remaja. Selain platform media sosial dan pemerintah, orang tua memiliki posisi yang sentral untuk mengedukasi anak dalam bermedia sosial.
“Orang tua juga harus memiliki tingkat literasi digital yang mumpuni, sehingga dapat menjadi contoh dan memberikan edukasi yang maksimal bagi anaknya untuk dapat menyaring dan merespons berbagai informasi yang diterima. Orang tua juga perlu melakukan pengawasan dan memberikan pengertian kepada anak untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri untuk kepentingan konten media sosial.” lanjut Faiz.
Bagi para pembuat konten, Faiz mengingatkan bahwa insiden yang terjadi belakangan ini seharusnya juga dapat menjadi pelajaran bagi para pembuat konten untuk memperhatikan aspek keselamatan ketika membuat konten di media sosial. “Penyebaran konten yang membahayakan diri menjadi pekerjaan rumah bersama. Peningkatan literasi digital dan moderasi konten menjadi dua kunci utama yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak untuk meminimalisir dampak negatif dari penggunaan dan penyalahgunaan media sosial,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Pembayaran ganti rugi tol Jogja-Kulon Progo di Bantul kembali cair Rp57,08 miliar untuk 53 bidang tanah di Argomulyo Sedayu.
Moh Zaki Ubaidillah lolos ke perempatfinal Malaysia Masters 2026 usai menang dramatis, sementara Bobby/Melati tersingkir di 16 besar.
Jadwal bola malam ini 21-22 Mei 2026 menghadirkan duel penentuan juara Liga Arab Saudi antara Al-Nassr dan Al-Hilal.
Pemda DIY matangkan penataan eks Parkir ABA dan Panggung Krapyak dengan konsep ruang hijau minim bangunan, RTH ditargetkan mulai 2026.
Polresta Banyumas menangkap tiga pelaku pencurian aset BTS di dua lokasi dan menduga aksi dilakukan di banyak TKP lain.