Kampus Benteng Pertama Pencegahan Korupsi

Aktivis antikorupsi melakukan aksi di Tugu Palsu Putih, Rabu (19/9/2018). Mereka mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menuntut agar melakukan penindakan di DIY. - Harian Jogja/Irwan A. Syambudi
21 September 2018 15:10 WIB Laila Rochmatin News Share :

Harianjogja.com, BOGOR--Perguruan tinggi diharapkan menjadi benteng pertama pencegah tumbuhnya korupsi di Indonesia.
Menteri Riset Teknologi dan Perdidikan Tinggi Mohammad Nasir mengatakan perguruan tinggi negeri maupun swasta harus menjadi yang pertama dalam menjaga Indonesia menjadi negara yang bebas dari korupsi.

"Kalau bisa perguruan tinggi negeri dan swasta melalui pelayanan pendidikan tinggi harus menjadi yang pertama menjaga Indonesia bebas dari korupsi supaya kehadiran kampus betul-betul bermanfaat untuk rakyat," kata Nasir dalam Sarasehan Antikorupsi yang digelar Majelis Guru Besar Perguruan tinggi negeri badan hukum (PTNBH) di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/9/2018).

Nasir mengatakan korupsi adalah penyebab utama rendahnya indeks daya saing global (global competitiveness index) bangsa Indonesia, yang saat ini berada di peringkat 36 dari 137 negara.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya indeks daya saing Indonesia, di antaranya perguruan tinggi tidak bermutu, kesehatan kurang baik, teknologi yang dihasilkan dari perguruan tinggi kurang baik.

"Apa yang menyebabkan secara nasional ini yang harusnya bisa menggerakkan ekonomi dengan baik karena itu bagian dari pendidikan tinggi," kata dia.

Nasir mengatakan Kemenristekdikti mencoba menelisik mencari tahu lebih dalam penyebabnya, yang pertama masalah korupsi. Menurut dia, setiap komponen di perguruan tinggi berperan dalam mewujudkan Indonesia bebas korupsi. Oleh karena itu, Kemenristekdikti mengajak bersama dan mendorong kinerja makin baik, tetapi jangan sampai korupsi.

"Apa yang menyebabkan orang korupsi yaitu sifat serakah, tamak, gaya hidup, dan ada kesempatan, ini yang menyebabkannya seseorang melakukan korupsi, ini yang harus dihindari," jelas dia.

Majelis Dewan Guru Besar PTNBH menggelar Festival Akademia Antikorupsi 2018 mengangkat tema Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Pendidikan Antikorupsi, pemberantasan korupsi sumber daya alam, dan sinergi multipihak untuk gerakan Indonesia antikoripsi.

Rektor IPB Arif Satria mengatakan kegiatan sarasehan ini menjadi bagus khususnya bagi kampus PTNBH melakukan kegiatan atau gerakan antikorupsi dimulai dari membangun solidaritas dan kekuatan para guru besar.

"Langkah ini internal dulu, dilakukan guru besar merupakan bagian dari komitmen bersama beberapa perguruan tinggi antikorupsi, karena perguruan tinggi punya tanggung jawab moral kampus," kata Arif.

Ketua Panitia Sarasehan Antikoripsi DGB PTNBH Rina Mardiana mengatakan sarasehan antikorupsi diikuti dewan guru besar dari 11 PTNBH. Menurut dia, gerakan antikorupsi ini menjadi sangat penting mengingat kekayaan alam Indonesia yang harusnya mampu menyejahterakan rakyat.

"Namun kenapa masih terjadi kemiskinan di wilayah pedesaan, kerusakan hutan, tata kelola yang tidak baik, salah satunya karena korupsi," kata dia.

Rina menambahkan korupsi tidak hanya menjadi peluang kehilangan negara. Namun juga kegagalan negara dalam mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan bangsa.