Menahan Yen di 160 per Dolar: Akankah Intervensi ASJepang Efektif?
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukan hal baru. Namun, tindakan pada tanggal 30-31 Juli 2026 ini berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi ha
Andi Arief bersama tim pengacara melaporkan balik relawan Kotak Adja di Polda Metro Jaya. /suara.com-Agung Sandy Lesmana
Harianjogja.com, JAKARTA- Politikus Partai Demokrat Andi Arief pernah menyebut Prabowo Subianto sebagai jenderal kardus. Belakangan, keduanya terlihat akrab.
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat, Andi Arief dirangkul oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Padahal, sebelumnya Andi Arief sempat beberapa kali melontarkan pernyataan kontroversi untuk Prabowo-Sandiaga Uno jelang Pilpres 2019.
Momen Andi Arief dirangkul Prabowo itu terjadi seusai mantan Danjen Kopassus tersebut bersama Sandiaga menemui Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kediamannya, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (12/9/2018) malam.
Foto dirinya dirangkul Prabowo itu kemudian diunggah ke media sosial Twitter miliknya, @AndiArief_. Dalam foto itu, ia menulis Prabowo telah lama mengenalnya. Mantan aktivis 1998 itu juga menyatakan tak pernah bermain dengan ucapannya.
"Pak Prabowo sudah mengenal saya lama, Dia tahu saya tak pernah bermain2 dengan kata-kata. Dan, saya tak pernah mengkhianati kebenaran," katanya, seperti dikutip dari @AndiArief_, pada Kamis (13/9/2018).
Sebelumnya, Andi Arief sempat mengeluarkan pernyataan frontal terhadap Prabowo, sebelum penetapan Sandiaga Uno menjadi pendampingnya di Pilpres 2019. Saat itu, Andi Arief menyebut Prabowo sebagai "Jenderal Kardus".
"Prabowo ternyata kardus, malam ini kami menolak kedatangannya ke kuningan. Bahkan keinginan dia menjelaakan lewat surat sudah tak perlu lagi. Prabowo lebih menghatgai uang ketimbang perjuangan. Jendral kardus," katanya dalam akun @AndiArief_, pada 8 Agustus 2018 itu.
Selain itu, Andi juga menuding Sandiaga telah membayar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) masing-masing sebesar Rp500 miliar agar sepakat untuk memilih Sandi sebagai cawapres Prabowo. Andi Arief geram karena hal itu tidak sejalan dengan kesepakatan sebelumnya.
"Di luar dugaan kami ternyata Prabowo mementingkan uang ketimbang jalan perjuangan yang benar. Sandi Uno yang sanggup membayar PAN dan PKS masing-masing Rp500 Miliar, menjadi pilihannya untuk cawapres," kata Andi Arief.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukan hal baru. Namun, tindakan pada tanggal 30-31 Juli 2026 ini berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi ha
Pedagang pasar tradisional Gunungkidul berkurang 30%-40% akibat perdagangan online, pedagang keliling, dan minimnya generasi penerus.
Ekshumasi Sutrimo telah dilakukan. Forensik tak menemukan luka, sementara polisi memeriksa 8 saksi dan menunggu hasil laboratorium.
BKSDA Jateng menerima tiga laporan kemunculan macan sepanjang Januari-Juli 2026 di tengah musim kemarau.
Komisi III DPR menyetujui 14 calon hakim agung dan hakim ad hoc MA setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan di DPR.
DPRD Klaten menjadwalkan pemilihan Wabup pada 26 Agustus 2026. Dua nama kader Gerindra berebut kursi yang kosong sejak Februari.