Anggota Parlemen AS Nilai Trump 'Lembek' di Depan Putin

Presiden AS Donald Trump saat pertemuan di Istana, Singapura, 11 Juni 2018. - Reuters
17 Juli 2018 12:17 WIB Renat Sofie Andriani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Presiden Donald Trump dinilai gagal 'melawan' Presiden Rusia Vladimir Putin atas isu campur tangan Negeri Beruang Merah dalam pemilu AS tahun 2016. Kritikan tersebut dilontarkan sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat (AS), termasuk dari kubu Republik.

Setelah menggelar pertemuan pertamanya dengan Putin di Helsinki, Trump mengatakan tidak melihat alasan untuk memercayai badan intelijen negaranya sendiri seputar kepastian dari Putin bahwa Rusia tidak ikut campur dalam proses pemilu di AS.

Gelombang kecaman pun menyeruak merespons pernyataan Trump itu. Sejumlah anggota parlemen menyebut Trump 'lembek' dan 'pengecut'. Senator John McCain bahkan berkata jika pertemuan Trump dan Putin adalah 'sebuah kesalahan tragis'.

Mantan calon presiden dari Partai Republik tersebut mengatakan Trump gagal membela segala hal yang menjadikan AS seperti saat ini, sebuah republik terdiri dari orang-orang merdeka yang didedikasikan untuk tujuan kebebasan di dalam dan di luar negeri.

Untuk informasi, pada Jumat (13/7), seorang penasihat khusus AS mengumumkan dakwaan terhadap 12 mata-mata Rusia atas tuduhan meretas komputer milik Partai Demokrat, sebagai bagian dari campur tangan dalam pemilu AS.

Setidaknya dua senator, dari Partai Republik Pat Toomey dan Pemimpin Demokrat Senat Chuck Schumer, meningkatkan kemungkinan menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia.

Dalam sebuah pernyataan, Toomey mengatakan bahwa Amerika Serikat harus menerapkan sanksi baru yang keras terhadap Rusia. Ini bisa dihindari apabila Putin membantu AS mengadili orang-orang Rusia yang dituduh melakukan peretasan.

Masih belum jelas apakah para pemimpin Senat atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS akan mendukung langkah semacam itu atau bagaimana sanksi baru dapat dibuat.

Hubungan antara AS dan Rusia memang telah berada di titik terendahnya pada era pasca-Perang Dingin. Trump menyebut-nyebut pertemuan itu sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan kedua negara.

Bahkan sebelum adanya tuduhan campur tangan Rusia itu, tensi kedua negara telah tinggi seputar kekhawatiran Rusia tentang ekspansi NATO, pencaplokan Rusia di semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2014, dan dukungan militer Rusia terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang sipilnya selama tujuh tahun.

Semangat Trump untuk meningkatkan hubungan AS dengan Rusia disambut dengan skeptisisme di antara pihak Kongres. Para anggota parlemen hampir dengan suara bulat menyetujui sanksi keras yang menargetkan Rusia pada 2017.

Mungkin Trump harus mencermati perkataan mantan Wakil Presiden AS Joe Biden berikut, “Menyanjung diktator tidak akan memajukan kepentingan Amerika. Itu [justru] membuat kita kurang aman,” ucap Biden tentang pernyataan Trump.

CAMPUR TANGAN RUSIA

Dan Coats, Direktur Badan Intelijen Nasional AS, sendiri merespons dingin pernyataan Trump dan mendukung badan intelijen tersebut.

“Kami telah jelas melakukan penilaian atas campur tangan Rusia dalam pemilu 2016 serta upaya mereka yang sedang berlangsung dan meluas untuk merusak demokrasi kita,” kata Coats.

Entah bermaksud menghibur atau meredakan respons terhadapnya, dalam perjalanan pulang kembali ke AS, Trump menuliskan di akun Twitter-nya bahwa dia memiliki kepercayaan yang besar pada orang-orang intelijennya.

Di lain pihak, tidak semua anggota Partai Republik di Kongres mengecam perkataan Trump di Helsinki itu. “Saya benar-benar mendukung presiden dalam hal ini; komunitas intelijen (AS) penuh dengan orang-orang yang bias,” kata Senator Partai Republik Rand Paul kepada CNN.

Sementara itu, Ketua DPR Paul Ryan justru tidak meragukan akan keterlibatan Rusia dalam pemilu 2016.

“Presiden harus memahami bahwa Rusia bukan sekutu kita. Tidak ada kesetaraan moral antara Amerika Serikat dan Rusia, yang tetap bermusuhan denga nilai-nilai dan cita-cita kita yang paling mendasar,” kata Ryan dalam sebuah pernyataan.

BUKAN TEMAN KITA

Kepada awak media, pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell mengatakan, “Telah berulang kali saya katakan dan akan saya katakan kembali. Orang-orang Rusia bukanlah teman kita dan saya sepenuhnya percaya atas penilaian komunitas intelijen kita.”

Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Bob Corker, mengatakan bahwa pernyataan Trump yang dikeluarkan di samping Putin membuat Amerika Serikat terlihat seperti 'penurut'.

Senator Partai Republik Lindsey Graham menilai pertemuan itu menjadi peluang yang dilewatkan oleh Presiden Trump untuk meminta pertanggungjawaban Rusia atas campur tangan pemilu 2016 dan memberikan peringatan yang tegas.

“Jawaban [pernyataan] Presiden Trump itu akan dilihat oleh Rusia sebagai tanda kelemahan serta menciptakan jauh lebih banyak masalah daripada solusi,” ujar Graham.

 

Sumber : Bisnis Indonesia