Heroik! Pelatih Timnas Sepakbola Thailand Dipandang sebagai Pahlawan tapi Tak Diakui Negaranya

Ekapol Chantapong (kiri) bersama Nopparat Kantawong, pelatih tim sepakbola Wild Boars (kanan). /Ist-Facebook Nopparatkanthawong - BBC
14 Juli 2018 14:37 WIB Nugroho Nurcahyo News Share :

Harianjogja.com, MAE SAI-Menempuh pendidikan calon biksu dan kini dielu-elukan sebagai pahlawan dalam peristiwa terjebaknya timnas sepakbola remaja Thailand di sebuah gua, begitulah pelatih timnas sepakbola remaja Thailand, Ekkapol Chantawong, yang ternyata diketahui merupakan satu dari beberapa anggota tim sepakbola "Wild Boars", tim yang berisi penduduk Thailand yang tidak diakui negaranya sebagai warga negara.

Pelatih Ek, 25, yang menjadi orang terakhir dievakuasi dari dalam gua pada Selasa (10/7/2018), telah mendampingi dan menenangkan para pemain bola remaja yang berusia antara 11-16 tahun melewati masa-masa sulit terjebak di dalam gua di tengah kelaparan hebat dan kondisi tanpa cahaya sama sekali.

Dia satu-satunya orang dewasa yang menjadi survivor dalam peristiwa terjebaknya para remaja sejak 23 Juni itu. Selama sembilan hari di dalam gua, ia terus menenangkan para remaja di tengah ketidakpastian apakah mereka akan ditemukan tim penyelamat hidup-hidup atau bakal mati pelan-pelan.

Setelah sembilan hari Ek dan para remaja itu terjebak dalam ketidakpastian nasib di tengah ruang gua yang pengap dan berlumpur, mereka akhirnya ditemukan tim selam Inggris.

Ketika Ek menunggu giliran diselamatkan dari dalam gua Tham Luang, warga Thailand memuji-mujinya dan menyebut  Ek sebagai warga suku di Mae Sai yang sederhana, taat, penuh dedikasi dan sangat bertanggung jawab.

Ek mendapat pesan dari para orangtua anak yang memiliki kebesaran hati luar biasa bahkan mereka tidak pernah sedikitpun menyalahkan si pelatih.

"Dari semua orang tua, terus jagalah semua anak-anak kami. Tak perlu menyalahkan dirimu sendiri," demikian bunyi surat dari para orang tua dan kerabat anak-anak yang terjebak itu kepada Ek yang disampaikan tim penyelamat kepada Ek pada 7 Juli 2018 lalu.

Dalam surat balasannya kepada para orang tua, Ek menyampaikan permohonan maafnya dan berjanji akan merawat dan menjaga anak-anak asuhnya sebaik mungkin ia bisa.

Surat itu sangat menyentuh hati publik Thailand, mengingat Ek adalah satu dari sekian penduduk Mae Sai yang selama ini belum diakui secara resmi sebagai warga negara Thailand.

Badan PBB yang mengurusi para penyintas UNHCR, menyebutkan  Thailand merupakan rumah bagi sekitar 480.000 orang tanpa kewarganegaraan.

Kebanyakan dari mereka adalah penduduk suku nomadik di pegunungan dan kelompok suku lain yang selama berabad-abad tinggal di sekitar Mae Sai, pusat dari Golden Triangle, sebuah kawasan yang berada di persimpangan antara Thailand, Myanmar, Laos dan China.


Tak Punya Negara
Di antara 13 korban terjebak di Gua Tham Luang, selain Ek, terdapat tiga remaja yang juga tak punya kewarganegaraan. Mereka yakni Dul, Mark dan Tee.

"Mendapatkan kewarganegaraan adalah sebuah harapan besar para remaja ini. Selama ini, mereka selalu kesulitan saat akan bepergian untuk bermain sepakbola dalam laga yang digelar di luar Chiang Rai," kata pendiri kelompok Wild Boars Nopparat Khanthavong kepada AFP, Rabu (11/7/2018).

Tanpa paspor, mereka tidak mungkin dapat memenuhi undangan mengunjungi Manchester United FC musim depan.

"Mereka juga tidak bisa menjadi pemain sepak bola profesional karena mereka tidak memiliki status [yang benar]," katanya, seraya menambahkan anak-anak itu saat ini sedang dalam proses mencoba mendapatkan kewarganegaraan.

Ada harapan, bencana yang telah menimpa para remaja itu akan membuat perubahan pada kebijakan.

"Masalah anak-anak di gua itu seharusnya membuat Thailand terpanggil dan bangun... untuk memberikan kewarganegaraan bagi mereka yang tak punya kewarganegaraan," kata Pornpen Khongkachonkiet dari Amnesty International Thailand.

Pelatih Ek, yang merupakan etnis Tai Lue, belum memberikan versinya kepada pers terkait dengan peristiwa luar biasa yang ia alami dalam beberapa minggu terakhir.

Ek pernah menjadi biarawan muda selama beberapa tahun sejak ia berusia 10 tahun. Ek belum menjadi biksu penuh dan meninggalkan biara untuk merawat neneknya di Mae Sai.

Dia kemudian menjadi pelatih bersama Wild Boars. Ek menyenangi meditasi, trekking dan alam terbuka.

"Jika kami melakukan perjalanan ke hutan, dia selalu membawa sebungkus pasta cabai berukuran ibu jari dan ketan dan kami akan tinggal di sana selama beberapa hari," kata biksu Ekkapol Chutinaro mengenang tentang temannya.

Sebagai pelatih sepakbola, Ek adalah pelatih yang sabar dan murah hati. Bahkan terhadap muridnya yang punya keterampilan payah, ia telaten membimbing.
Namun sebagai penduduk Thailand, ia tak diakui oleh negaranya sebagai warga negara.

Sumber : Channel News Asia, AFP