Rektor Unnes Diguncang Isu Plagiat, Pihak Kamppus Angkat Bicara

Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman. (Facebook/Fathur Rokhman)
03 Juli 2018 06:17 WIB Imam Yuda Saputra News Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, SEMARANG — Universitas Negeri Semarang (Unnes) diguncang isu tidak sedap. Rektor Unnes, Prof. Fathur Rokhman diisukan melakukan plagiat. Pihak kampus pun angkat bicara.

Kepala UPT Humas Unnes, Hendi Pratama, menilai kabar plagiat yang dilakukan rektor itu hanya bersifat spekulasi.

"Kabar itu hanyalah spekulasi. Kalau ada plagiarisme dari seorang profesor harusnya itu [pernyataan] dilakukan pihak kementerian atau otoritas yang berwenang, bukan pihak individu atau melalui media sosial," ujar Hendi saat menggelar jumpa pers di kampus Unnes, Semarang, Senin (2/7/2018).

Dugaan plagiat yang dilakukan Rektor Unnes mencuat beberapa hari terakhir. Informasi itu kali pertama didengungkan guru besar lain di Unnes, Prof. Saratri Wilonoyudho, di media sosial Facebook. Akibat aksinya itu, Saratri pun harus menghadapi sidang Majelis Profesor di gedung H lantai keempat kampus Unnes, Sekaran, Semarang, Kamis (7/6/2018).

Dalam sidang itu, diketahui jika Saratri menyerahkan sebuah artikel ilmiah berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas karya Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, yang terbit di Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (Litera) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004.

Artikel itu diduga menjiplak karya milik Anif Rida dengan judul, Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas, yang terbit dalam prasidang Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (Kolita) W Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta tahun 2003.

Hendi menilai kesamaan dalam artikel karya Fathur Rokman dan Anif Rida tidak berarti sebuah plagiat. "Similar indeks dalam sebuah artikel tidak selalu plagiarisme. Adanya kesamaan yang tinggi pada sebuah karya juga belum tentu plagiat. Perlu adanya penyelidikan lebih mendalam terhadap kasus ini," imbuh Hendi.

Hendi menambahkan hingga saat ini belum ada penyidikan dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) maupun direktorat jendral (Dirjen) Kemenristekdikti yang datang ke Unnes untuk melakukan penyidikan terkait dugaan plagiarisme yang dilakukan salah seorang guru besarnya.

"Kami mengimbau semua pihak untuk lebih bijak menanggapi kasus ini. Kalaupun ingin memberitakan haruslah mengusung asas cover bothside. Jangan seakan-seakan berita yang baru dugaan menjadi seperti benar adanya," imbuh Hendi.

Sumber : Solopos

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia