Menyelamatkan Ikon Lingkungan di Selatan Jawa

Hamparan tanaman mangrove yang masih berusia muda di Dusun Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul, DIY. - Harian Jogja/Bhekti Suryani
15 Mei 2018 17:50 WIB Bhekti Suryani News Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Setiap tahun sekitar 4.000 batang pohon bakau atau mangrove di pesisir selatan Bantul lenyap akibat perubahan iklim dan ulah manusia. Padahal, mangrove yang terbilang langka di pesisir selatan Jawa dan telah menjadi ikon pelestarian lingkungan di DIY itu telah memberi beragam manfaat bagi warga sekitar serta berperan dalam kelestarian bumi.

Mangrove seluas delapan hektare menghampar di pesisir selatan Dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kretek, Bantul, DIY. Ada yang baru setinggi satu meter, ada pula yang sudah menjulang hingga delapan meter. Beberapa di antaranya tumbuh dengan rindang. Rentangan tangan tiga orang manusia tak cukup untuk memeluk batang pohon mangrove ini.

Dusun Baros menjadi ikon pelestarian mangrove di pesisir selatan Bantul. Kawasan pesisir pantai Jawa yang terbilang langka ditemukan hutan mangrove. Namun berkat kegigihan pemuda yang berhimpun di Konservasi Keluarga Pemuda Pemudi Baros (KP2B), ribuan batang pohon mangrove itu bisa dinikmati manfaatnya saat ini.

“Dulu penanaman sejak 2003, sekarang kalau dihitung luasnya sudah mencapai tujuh sampai delapan hektare,” kata Dwi Ratmanto, salah satu anggota KP2B, Senin (14/5/2018). Namun mempertahankan delapan hektare hutan mangrove bukan perkara mudah di pesisir selatan Jawa yang terkenal dengan keganasan ombak pantai selatan.

Tingginya gelombang laut perlahan mengikis hamparan lahan rawa yang ditumbuhi hutan mangrove. Ancaman abrasi saban tahun bahkan semakin buruk. Diduga karena faktor perubahan iklim. Cuaca yang tak menentu dan pemanasan global diyakini turut memicu mengganasnya ombak pantai selatan Jawa. Mengancam kawasan hutan yang jaraknya hanya sepelemparan batu dengan kawasan wisata Pantai Parangtirtis itu.

Dwi terkenang masa kelam di pengujung 2017, saat Siklon Tropis Cempaka menghantam DIY. “Empat hektare lahan mangrove hilang hanya dalam sehari saat sikon Cempaka karena diterjang abrasi,” kenang Dwi.

Pasca-abrasi yang memorak-morandakan berbagai infrastruktur di DIY itu muncul daratan berpasir yang menjadi pemisah antara laut selatan dan Sungai Opak. Hutan mangrove persis berada di tepi sebelah utara Sungai Opak. Biasanya kata Dwi, abrasi tak seganas saat Sikon Cempaka. Abrasi kerap terjadi hampir saban tahun dan melenyapkan ribuan batang pohon mangrove.

Tak hanya abrasi, perilaku buruk manusia membuang sampah sembarangan turut mematikan ribuan pohon mangrove yang umurnya masih muda. Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak di wilayah paling selatan di DIY. Sejumlah sungai besar yang berhulu di utara melintasi dan bermuara di Bantul.

Dwi Ratmanto

Apesnya, sejumlah sungai besar seperti Sungai Opak, Winongo atau Code masih menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat. Sampah itu berasal dari Sleman, Jogja hingga Bantul. Saat hujan melanda, berton-ton sampah membanjiri sungai, masuk ke laut lalu dihempas lagi ke daratan oleh ganasnya gelombang laut dan mematikan ribuan pohon bakau.

“Setahun, sekitar 20% atau sekitar 4.000 batang mangrove yang kami tanam lenyap baik karena abrasi maupun sampah,” paparnya.

Mendulang Manfaat

Mangrove seluas delapan hektare di Dusun Baros memang tak seberapa jumlahnya bila dibandingkan dengan hamparan bakau di pesisir utara Jawa, Sumatra atau Kalimantan yang lebih mudah ditemukan rawa. Namun manfaat ribuan batang pohon mangrove ini tak bisa dianggap remeh.

Warga Baros telah memetik beragam manfaat dari hutan mangrove. Mulai dari manfaat wisata lantaran kerap dijadikan objek kunjungan berbagai organisasi masyarakat yang ingin tahu bagaimana melestarikan hutan mangrove. Kawasan tersebut kini bahkan telah ditetapkan sebagai zona pelestarian lingkungan yang tak boleh dialihfungsikan.

Belum lagi manfaatnya bagi sektor pertanian, perikanan hingga keanekaragaman hayati. Kawasan mangrove Baros menjadi rumah bagi sekitar 48 jenis spesies burung, beragam molusca, jenis udang, ikan dan lainnya. “Beberapa burung elang dulu masih sering ditemui sekarang sudah langka karena ancaman mangrove [deforestasi]. Kalau seperti burung hantu sampai sekarang masih ada,” sambung Dwi Ratmanto.

Warga pun menuai manfaat dari keberadaan beragam spesies. Bila musim panen tiba, warga bisa memanen kepiting dan beragam ikan yang sudah layak konsumsi. Padahal spesies seperti kepiting bakau tergolong langka di DIY. Meski konsumsi kepiting di DIY cukup tinggi karena posisi daerah ini sebagai kota wisata. Namun sebagian besar kebutuhan kepiting harus dipasok dari luar daerah termasuk Kalimantan. Merunut data Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Yogyakarta (Stasiun KIPM Kelas I Yogyakarta), kebutuhan kepiting yang didatangkan dari luar ke DIY mencapai 8.000 hingga 20.000 ekor setahun.

Sejumlah warga menanam mangrove di Dusun Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul, DIY April lalu, untuk menggantikan tanaman yang rusak maupun hilang akibat sampah dan abrasi.

Manfaat di sektor pertanian tak kalah penting. Hamparan mangrove di Baros telah berperan sebagai wind barrier atau penghalang angin laut pembawa garam yang datang dari laut selatan. Berkah wind barrier membuat petani bisa bercocok tanam di lahan sebelah utara mangrove karena tanaman aman dari air atau angin mengandung garam yang bisa merusak pertumbuhan tanaman.

Mengikat Berkali-lipat

Daniel Murdiyarso tak menyangka, kawasan pesisir selatan Jawa yang terkenal dengan keganasan ombaknya masih ditemukan hamparan hutan mangrove. Profesor Daniel Murdiyarso adalah peneliti mangrove di Center for International Forestry Research (Cifor), salah satu Non Governmental Organization (NGO) di bidang penelitian lingkungan yang terbesar di dunia.

“Jogja yang istimewa ini sungguh istimewa kalau ada hutan mangrove,” tutur Daniel ditemui April lalu. Daniel bercerita manfaat luar biasa dari hutan mangrove yang sudah berkali-kali ia teliti. “Yang pasti punya manfaat ekologi. Pemijahan ikan bertelur di situ, ikan yang masih kecil berlindung di situ,” ujar dia.

Ia berharap pemerintah menetapkan kawasan mangrove Baros sebagai kawasan lindung untuk menjaga kelestariannya. Di bidang mitigasi perubahan iklim peran mangrove kata dia sungguh besar. Pohon mangrove memang kecil ukurannya bila dibandingkan dengan kayu keras lainnya namun kemampuannya mengikat emisi karbon berkali lipat dibanding hutan biasa. “Satu hektare mangrove bisa mengikat 1.000-1.650 ton karbon, jadi daya ikat karbonnya tinggi bisa dua hingga tiga kali lipat dibandingkan hutan biasa,” jelas Daniel.

Kemampuan hutan bakau mengikat karbon menjadi penting saat masif rencana ekspansi bisnis dan properti di pantai selatan DIY seiring dibangunnya Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Kelak, kawasan pesisir selatan DIY bukan tak mungkin menjadi penyumbang polusi dan emisi terbesar di DIY. Apalagi, Gubernur DIY Sri Sultan HB X menggadang-gadang wilayah pesisir sebagai halaman rumah DIY sekaligus pusat untuk meningkatkan martabat warga Jogja melalui kesejahteraan ekonomi yang berbasis pada maritim.

Peneliti Cifor Prof Daniel Murdiyarso

Mangrove yang segelintir itu kata Daniel harus diselamatkan agar tak punah. Sebab, ekspansi bisnis pariwisata dan properti sudah umum menjadi biang deforestasi hutan mangrove di berbagai daerah. Menurut penelitian Cifor, setiap tahun sekitar 52.000 hektare hutan mangrove lenyap karena terdesak oleh tambak udang dan ikan maupun industri pariwisata. Dari kerusakan sebanyak itu, sebanyak 4,2 juta ton emisi karbon yang harusnya diikat oleh hutan bakau lepas begitu saja ke atmosfer, dan memicu pemanasan global. Bumi semakin panas untuk dihuni.