Advertisement
Tragedi Sambaran Petir di Bangladesh: 14 Orang Tewas
Petir / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Sebuah bencana alam memilukan terjadi di Bangladesh pada Minggu, 26 April 2026, ketika badai petir dahsyat menyapu sejumlah wilayah setelah negara tersebut didera gelombang panas berkepanjangan selama lebih dari sepekan.
Peristiwa cuaca ekstrem ini menyebabkan setidaknya 14 orang kehilangan nyawa, tersebar di tujuh distrik yang berbeda, menurut laporan kepolisian dan media lokal setempat.
Advertisement
Distrik Gaibandha yang terletak di bagian utara tercatat sebagai wilayah dengan jumlah korban terbanyak dalam kejadian tersebut.
Muhammad Rakib, seorang petugas kepolisian di ruang kendali distrik, menyampaikan detail kejadian tragis itu kepada Anadolu.
BACA JUGA
Lima orang, termasuk dua anak, meninggal akibat sambaran petir di distrik Gaibandha, ungkapnya. Selain di Gaibandha, musibah serupa juga merenggut nyawa warga di distrik Thakurgaon, Sirajganj, Jamalpur, serta masing-masing satu orang di distrik Panchgart, Natore, dan Bogra. Peristiwa badai ini menandai dimulainya musim badai pertama di negara tersebut pada tahun ini.
Fenomena cuaca ini muncul tak lama setelah Bangladesh mengalami masa panas yang sangat terik. Hujan lebat yang disertai sambaran petir akhirnya turun di ibu kota Dhaka serta beberapa wilayah lain seperti Rangpur, Mymensingh, dan Sylhet pada hari Minggu.
Departemen Meteorologi Bangladesh memperkirakan kondisi curah hujan terisolasi ini akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, yang diharapkan mampu meredam gelombang panas ekstrem yang telah berdampak luas di sebagian besar wilayah Bangladesh belakangan ini.
Data dari Forum Selamatkan Masyarakat dan Kesadaran Badai Petir menunjukkan bahwa ancaman sambaran petir merupakan risiko besar bagi penduduk Bangladesh, dengan catatan 330 kematian sepanjang tahun lalu.
Kabirul Bashar, presiden organisasi tersebut sekaligus profesor di Universitas Jahangirnagar, menjelaskan bahwa petani yang bekerja di ladang terbuka menjadi kelompok yang paling rentan terhadap risiko ini.
Minimnya perlindungan diri saat bekerja di area terbuka menjadi faktor utama tingginya angka korban jiwa setiap tahunnya. Petani harus mengenakan perlengkapan keselamatan, termasuk sepatu bot plastik atau sepatu bot karet panjang saat bekerja di ladang pertanian, terutama selama musim panas dan musim hujan. Kurangnya kesadaran adalah alasan utama di balik banyaknya korban jiwa setiap tahunnya, ujar Kabirul Bashar.
Pemerintah Bangladesh terus meningkatkan upaya mitigasi mengingat data PBB menunjukkan rata-rata 300 orang meninggal dunia akibat sambaran petir setiap tahun, dengan puncak insiden biasanya terjadi pada periode April hingga Juni.
Sebagai respon terhadap tren peningkatan korban jiwa, Departemen Meteorologi Bangladesh telah menerapkan kebijakan peringatan dini bahaya petir secara intensif sejak tahun lalu untuk melindungi masyarakat dari potensi ancaman yang mematikan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- 22 Biksu Sri Lanka Ditangkap Bawa 110 Kg Ganja dari Thailand
- Suhu Tembus 34C! Tangerang Raya Jadi Wilayah Terpanas Jabodetabek
- Jejak Kelam Washington Hilton: Dua Insiden Penembakan Presiden AS
- Pemerintah Keluarkan PMK 24/2026, Harga Tiket Pesawat jadi Lebih Murah
- Mensos: Data DTSEN Harus Dimulai dari Desa
Advertisement
Satpol PP Jogja Ungkap Modus Rokok Ilegal Berkedok Cukai Asli
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Talud Sungai Jogja Rapuh, Rp4 Miliar Disiapkan untuk 5 Titik Prioritas
- Command Center MBG Resmi 17 Mei 2026 Perbaiki Tata Kelola
- Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 27 April 2026, Tarif Rp8.000
- Prabowo Hadiri Resepsi El Rumi-Syifa Hadju di Raffles Jakarta
- Klinik Satelit Makkah Siaga Layani Jamaah Haji 2026
- Keluarga Minta Prabowo Bebaskan Kru Honour 25 dari Perompak Somalia
- Gunungkidul Bangun 16 Jembatan Garuda Inisiasi Presiden Prabowo
Advertisement
Advertisement








