Advertisement
Ribuan Tewas di Lebanon Pengungsi Tembus Ratusan Ribu
Foto ilustrasi pengungsi warga Lebanon. - Antara - Anadolu
Advertisement
Harianjogja.com, BEIRUT— Jumlah korban akibat serangan militer Israel di Lebanon terus merangkak naik dan memperlebar luka kemanusiaan di wilayah tersebut. Data terbaru mencatat 2.387 orang tewas, sementara ribuan lainnya terluka dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi di tengah situasi keamanan yang masih sangat rapuh.
Unit Manajemen Risiko Bencana Lebanon melaporkan pada Senin (20/4/2026) total korban luka telah mencapai 7.602 orang. Selain itu, gelombang pengungsian terus bergerak dengan 117.421 orang terdaftar di pusat‑pusat penampungan. Jumlah ini setara dengan 30.431 keluarga yang kini hidup di lokasi transit, menggambarkan betapa luasnya dampak konflik terhadap kehidupan warga sipil.
Advertisement
Sementara itu, Perserikatan Bangsa–Bangsa (PBB) sebelumnya mencatat sedikitnya 277 anak tewas dan lebih dari 700 anak lainnya terluka sejak 2 Maret 2026. Angka‑angka ini menambah beban psikologis dan sosial yang harus ditanggung masyarakat Lebanon, terutama di wilayah selatan yang terus menjadi titik rawan serangan.
UNIFIL terus memantau aktivitas militer di lapangan, termasuk penembakan dan penghancuran infrastruktur di sejumlah wilayah Lebanon selatan. PBB juga menilai respons kemanusiaan yang berjalan saat ini masih belum memadai jika dibandingkan dengan kebutuhan mendesak di lapangan, terutama untuk makanan, perawatan medis, dan tempat tinggal sementara bagi pengungsi.
BACA JUGA
Situasi ini menambah tekanan terhadap upaya penanganan krisis, baik bagi pemerintah Lebanon maupun lembaga bantuan internasional. Korban yang terus bertambah, bersama dengan gelombang pengungsian yang meluas, menjadikan Lebanon sebagai salah satu kawasan yang paling terdampak dalam konflik regional yang berkepanjangan.
Konflik antara Israel dan Lebanon kembali memanas secara signifikan sepanjang tahun 2025 hingga memasuki tahun 2026, yang dipicu oleh ketegangan lintas batas yang terus berlanjut antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.
Situasi ini diperburuk oleh serangan udara intensif di wilayah Lebanon Selatan dan Lembah Bekaa, yang dibalas dengan peluncuran roket serta penggunaan teknologi drone canggih menuju wilayah Israel Utara.
Berbeda dengan konfrontasi sebelumnya, konflik kali ini melibatkan dimensi peperangan elektronik dan serangan siber yang melumpuhkan infrastruktur komunikasi di kedua belah pihak, menyebabkan ribuan warga sipil harus mengungsi dari zona perbatasan.
Dinamika dan Eskalasi Terkini
Ketegangan mencapai titik kritis ketika upaya diplomatik internasional, termasuk usulan koridor perdamaian dari lembaga bentukan baru seperti Board of Peace (BoP), menemui jalan buntu.
Israel menegaskan bahwa operasi militernya bertujuan untuk mengamankan wilayah utara agar warga mereka bisa kembali ke rumah, sementara Hizbullah menyatakan solidaritasnya terhadap situasi regional yang lebih luas di Gaza.
Dampak dari konflik ini tidak hanya terasa secara militer, tetapi juga melumpuhkan ekonomi Lebanon yang sudah rapuh, serta menciptakan tekanan politik besar di dalam negeri Israel terkait strategi pertahanan jangka panjang mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Desakan Menguat Seusai Remaja Bantul Tewas Dikeroyok Geng Remaja
Advertisement
Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!
Advertisement
Berita Populer
- BGN Tegaskan SDM Jadi Prioritas Utama
- RUU Pelindungan Pekerja Rumah Tangga Lolos Pleno Baleg
- Menteri HAM Minta Hakim Transparan di Sidang Andre Yunus
- KPK: Celah Proyek Pemerintah Terbuka Sejak Awal Perencanaan
- Ribuan Ikan Mati di Sungai Belik Pandes, Tercemar Limbah IPAL
- iPhone Tertinggal di Stasiun Tugu, Sempat Dibawa ke Luar Kota
- Campus League Resmi Digelar, Bangun Ekosistem Olahraga Kampus
Advertisement
Advertisement







