DHE Tracker, Eksportir Lebih Mudah Penuhi Aturan DHE SDA
Bank Mandiri menghadirkan DHE Tracker di Kopra by Mandiri untuk memudahkan eksportir memenuhi ketentuan DHE SDA sesuai PP Nomor 8 Tahun 2025.
Foto dokumen - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kanan) memeluk Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) seusai melakukan pertemuan di kawasan Permata Hijau, Jakarta, Minggu (13/10/2019). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Harianjogja.com, JAKARTA—Wacana peleburan Partai NasDem dengan Partai Gerindra mencuat di tengah dinamika politik nasional. Namun hingga kini, belum ada pembahasan resmi di internal partai terkait kemungkinan tersebut.
Isu ini muncul setelah perbincangan publik berkembang, termasuk dipicu kelakar dalam forum resmi DPR yang kemudian menarik perhatian. Di sisi lain, komunikasi antarpartai koalisi disebut sebagai hal yang wajar dalam konteks pemerintahan.
Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem, Saan Mustopa, menyebut istilah yang tepat dalam konteks tersebut adalah fusi, bukan merger atau akuisisi. Ia menilai wacana seperti ini bukan hal baru dalam politik Indonesia.
“Ini juga saya baru, kaget juga, ya, mencuat terkait dengan soal isu fusi. Dalam bahasa politik itu kan fusi, ya, bukan merger. Bukan akuisisi, [melainkan] fusi, Gerindra-NasDem,” kata Saan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, ide peleburan partai pernah terjadi dalam sejarah politik nasional, seperti pada era 1973 ketika sejumlah partai digabung menjadi tiga kekuatan besar.
“Kita dulu tahun '73 kan juga ada fusi. Dari sekian banyak partai menjadi tiga partai. Dan sebagai sebuah ide, sebagai sebuah gagasan, tentu dipertimbangkan atau dipikirkan kan menjadi hal yang biasa,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan realisasi fusi tidak sederhana karena menyangkut identitas, ideologi, dan eksistensi masing-masing partai.
“Ketika misalnya rencana atau ada wacana terkait dengan fusi, faktor itu juga kan perlu harus kita pertimbangkan. Ideologi, identitas, eksistensi masing-masing partai dengan semangat, motivasi, dan filosofi membangun partai masing-masing,” katanya.
Saan menambahkan hingga saat ini belum ada pembahasan khusus di internal Partai NasDem terkait isu tersebut karena partai masih fokus pada konsolidasi internal.
"Karena kita sekarang masih fokus mengkonsolidasikan internal kita,” katanya.
Ia juga mengaku tidak mengetahui secara rinci isi pertemuan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Presiden RI sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang sempat dikaitkan dengan isu tersebut.
“Saya tidak tahu persis terkait dengan soal pertemuan, apalagi terkait dengan substansi dari pertemuan tersebut apa saja yang dibicarakan,” ucapnya.
Menurut Saan, pertemuan tersebut merupakan hal lumrah karena NasDem merupakan bagian dari koalisi pemerintah yang mendukung program prioritas nasional.
“Karena itu, untuk bisa memaksimalkan dukungan NasDem terhadap pemerintah, maka yang namanya komunikasi dalam bentuk silaturahmi atau pertemuan itu hal yang lazim dilakukan antara pimpinan partai koalisi dengan Presiden,” katanya.
Berawal dari Kelakar di Forum DPR
Isu fusi ini sebelumnya mencuat dari kelakar Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, dalam rapat di kompleks parlemen di Senayan, Jakarta.
Dalam rapat dengar pendapat dengan Kepala BPIP, ia sempat melontarkan candaan soal kemungkinan merger NasDem dan Gerindra saat mempersilakan anggota dari kedua fraksi menyampaikan tanggapan. "Kita lanjut ke Gerindra atau NasDem dulu?" kata Willy.
"Atau mau merger NasDem dengan Gerindra?" sambungnya, yang disambut tawa peserta rapat.
Kelakar itu juga dikaitkan dengan posisi duduk anggota DPR dari kedua fraksi yang bersebelahan, yakni Muslim Ayub dari NasDem dan Anwar Sadad dari Gerindra.
Willy bahkan menyebut kursi kosong di antara keduanya sebagai “penghubung” sambil berseloroh tentang kedekatan kedua partai.
Meski hanya candaan, pernyataan tersebut memicu spekulasi yang berkembang di ruang publik hingga akhirnya ditanggapi oleh elite partai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Bank Mandiri menghadirkan DHE Tracker di Kopra by Mandiri untuk memudahkan eksportir memenuhi ketentuan DHE SDA sesuai PP Nomor 8 Tahun 2025.
Fahri Hamzah dan Sri Sultan HB X membahas penataan kota DIY, penyediaan hunian terjangkau, serta pengembangan kawasan permukiman di masa depan.
SDN Pingit menilai Program Makan Bergizi Gratis membantu siswa dari keluarga prasejahtera. Selama hampir setahun berjalan, belum ada kasus keracunan makanan.
Regrouping SD di Gunungkidul berlanjut setelah lima sekolah digabung. Disdik masih mengkaji sekolah lain menyusul banyaknya SD yang kekurangan murid.
Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY menemukan dugaan penyalahgunaan jalur mutasi hingga praktik menumpang kartu keluarga (KK) dalam pelaksanaan Si
DKPP Bantul mengandalkan lebih dari 4.000 pompa irigasi dan tambahan 160 unit pompa untuk menjaga pasokan air sawah selama musim kemarau 2026.