Ancaman Super El Nino, Harga Pangan Global Berpotensi Melonjak

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Senin, 13 Juli 2026 21:07 WIB
Ancaman Super El Nino, Harga Pangan Global Berpotensi Melonjak

Ilustrasi kekeringan - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JAKARTA—Potensi Super El Nino yang mulai berkembang pada 2026 diperkirakan dapat memicu lonjakan harga pangan global hingga 2028. Fenomena cuaca ekstrem tersebut dinilai berpotensi mengganggu produksi pertanian dunia, memperburuk rantai pasok, dan meningkatkan tekanan inflasi pangan di tengah ketidakpastian geopolitik.

Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) melaporkan kondisi El Nino telah mulai terbentuk di Samudra Pasifik tropis. Lembaga tersebut memperkirakan peluang sekitar 63% suhu permukaan laut meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas kondisi normal pada akhir 2026, sehingga berpotensi berkembang menjadi Super El Nino.

Sejumlah analis menilai dunia kini menghadapi tekanan ganda terhadap pasokan pangan. Selain kenaikan biaya energi dan pupuk akibat konflik geopolitik, cuaca ekstrem yang dipicu El Nino diperkirakan semakin mengganggu produksi berbagai komoditas pertanian utama.

Analis UniCredit menyebut fenomena El Nino kembali mengangkat isu inflasi iklim (climate inflation) karena berpotensi memperkuat dampak pemanasan global terhadap harga pangan.

"El Niño kembali menempatkan 'inflasi iklim' dalam agenda. Gelombang panas baru-baru ini di Eropa merupakan pengingat bahwa garis dasar iklim sudah bergeser. El Niño dapat menambah lapisan tekanan baru di akhir tahun ini, karena memperkuat efek pemanasan global," tulis analis UniCredit dalam riset yang dikutip dari The Guardian, Senin (13/7/2026).

Harga Komoditas Berpotensi Naik

Berdasarkan proyeksi Goldman Sachs, El Nino berkekuatan tinggi berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas pangan global hingga 15,8%. Dampak terhadap inflasi diperkirakan mulai terasa pada paruh kedua 2028 karena adanya jeda antara gangguan cuaca, siklus produksi pertanian, hingga distribusi pangan.

Sementara itu, analis UBS menilai dampak El Nino tidak akan dirasakan secara merata di seluruh dunia. Perubahan pola hujan dan suhu diperkirakan menciptakan wilayah yang mengalami penurunan produksi, sementara kawasan lain justru memperoleh kondisi tanam yang lebih menguntungkan.

"El Niño tidak memengaruhi pertanian secara seragam. Ini membentuk kembali pola curah hujan dan suhu global, menciptakan pemenang dan pecundang regional," ujar analis UBS.

Meski demikian, sejumlah komoditas strategis diperkirakan menghadapi risiko lebih besar. India diprediksi mengalami musim hujan yang lebih kering sehingga dapat memengaruhi produksi gandum, beras, dan tebu.

Di Asia Tenggara, kekeringan berpotensi menekan produksi minyak sawit. Sementara itu, komoditas kopi dan kakao juga diperkirakan terdampak akibat perubahan pola iklim.

Menurut UBS, gangguan pasokan tersebut akan memperparah tekanan yang sudah muncul akibat kenaikan biaya energi, pupuk, dan logistik sehingga lonjakan harga pangan berpotensi lebih tinggi dibanding pola historis.

UniCredit bahkan memperkirakan skenario El Nino ekstrem dapat menyebabkan produksi pertanian global turun hingga 14,3% dengan nilai kerugian mencapai sekitar US$342 miliar.

Dalam skenario tersebut, harga sejumlah komoditas yang sangat sensitif terhadap cuaca seperti beras, minyak sawit, gula, dan kopi diperkirakan dapat melonjak 50% hingga 100% apabila gangguan pasokan berlangsung dalam waktu lama.

Para analis menilai negara-negara berpendapatan rendah menjadi kelompok paling rentan terhadap lonjakan harga pangan karena memiliki ruang fiskal yang terbatas untuk mengendalikan inflasi dan menjaga ketahanan pangan masyarakat.

Indonesia Perkuat Cadangan Pangan

Mengantisipasi potensi dampak El Nino, pemerintah memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) melalui penyediaan berbagai komoditas strategis, tidak hanya beras, tetapi juga jagung pakan, minyak goreng, gula konsumsi, hingga daging ayam.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan apabila cuaca ekstrem mulai memengaruhi produksi maupun distribusi pangan pada paruh kedua 2026.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan beras tetap menjadi prioritas utama dalam kebijakan swasembada karena masih menjadi pangan pokok masyarakat Indonesia.

Menurut Amran, Indonesia telah memenuhi kriteria swasembada beras karena tidak lagi mengimpor beras medium.

"Swasembada itu artinya manakala suatu negara impor maksimal 10 persen dari kebutuhan. Negara kita ini tidak impor beras medium berarti telah swasembada sempurna," ujar Amran dalam keterangan resminya, Kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan konsumsi masyarakat masih didominasi kelompok padi-padian. Berdasarkan skor Pola Pangan Harapan (PPH) Indonesia 2025, konsumsi padi-padian menyumbang lebih dari separuh konsumsi pangan nasional, disusul pangan hewani sebesar 12,7 persen serta minyak dan lemak sebesar 12,4 persen.

Amran menambahkan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi dengan berkaca pada pengalaman menghadapi El Nino pada 2023.

"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Niño. Dulu pengalaman kita tahun 2023, alhamdulillah kita lolos. Insyaallah pangan kita aman, terutama beras," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis