Advertisement
Rusia dan Turki Gagas Mediasi, Iran Belum Sepakat Gencatan Senjata
Bendera Iran.
Advertisement
Harianjogja.com, TEHERAN—Upaya mediasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai digagas sejumlah negara, termasuk Rusia dan Turki. Meski komunikasi diplomatik terus berlangsung, Iran disebut masih belum bersedia menerima gencatan senjata dalam konflik yang memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah tersebut.
Informasi mengenai mediasi konflik Iran-AS-Israel itu disampaikan sumber yang dekat dengan pemerintah Iran. Menurutnya, berbagai pihak internasional dan regional telah mencoba membuka jalur diplomasi guna meredakan eskalasi konflik yang terjadi setelah serangkaian serangan militer pada akhir Februari lalu.
Advertisement
"Saat ini, komunikasi masih berlangsung dan upaya negosiasi telah ditempuh oleh sejumlah pihak internasional dan kawasan, khususnya Rusia dan Turki," kata seorang sumber yang dekat dengan pemerintah Iran kepada RIA Novosti, Kamis.
"Iran pada dasarnya tidak menolak prinsip mediasi itu sendiri, tetapi pada saat ini, mereka tidak setuju akan adanya gencatan senjata," ucap sumber itu.
BACA JUGA
Sebelumnya, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan bahwa Moskow siap berperan membantu meredakan ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Namun demikian, ia menekankan bahwa upaya meredakan konflik Iran-AS-Israel tersebut memerlukan koordinasi dengan banyak pihak internasional.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk di wilayah Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah.
Pada awalnya, Amerika Serikat dan Israel mengklaim operasi militer tersebut bertujuan menahan ancaman dari program nuklir Iran.
Namun kemudian muncul penilaian bahwa tujuan sebenarnya dari serangan tersebut adalah mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Situasi semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama serangan gabungan AS dan Israel.
Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai penghormatan atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.
Presiden Rusia Vladimir Putin menilai pembunuhan terhadap Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pemerintah Rusia mendorong deeskalasi konflik Iran-AS-Israel serta penghentian permusuhan secara segera guna mencegah eskalasi lebih luas di kawasan Timur Tengah, di tengah berbagai upaya mediasi internasional yang masih terus berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Advertisement
Berita Populer
- Guru PNS di Kota Jogja Jadi Tersangka Pelecehan Siswi SLB
- Karyawan PT Freeport Tewas Ditembak di Grasberg Mimika
- Darurat Mental, 700.000 Anak Indonesia Alami Depresi dan Cemas
- Strategi Efisiensi, Industri Otomotif Eropa Kompak Gelar PHK Massal
- Misi Balas Dendam PSG Jamu Chelsea di Leg 1 Babak 16 Besar UCL
- Tabrak Truk Parkir di Joho, Pengendara Motor Asal Jetis Meninggal
- Gerbang Tol Purwomartani untuk Akses Masuk, Keluar di GT Prambanan
Advertisement
Advertisement








