Advertisement
Kubu Militer Myanmar Klaim Menang Mayoritas di Pemilu Junta
Junta militer Myanmar pada Kamis (26/9/2024) mengundang kelompok oposisi bersenjata untuk meninggalkan kekerasan dan berpartisipasi dalam pemilu umum yang akan datang. ANTARA/Anadolu - py.
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA— Kubu pro-militer Myanmar mengklaim meraih suara mayoritas dalam pemilihan umum yang diselenggarakan junta. Klaim tersebut disampaikan media Jepang Kyodo pada Jumat (16/1/2026), mengutip laporan Komisi Pemilihan Myanmar.
Junta menyebut pemilu ini sebagai langkah pemulihan demokrasi. Namun, komunitas internasional menilai proses tersebut tidak lebih dari sekadar sandiwara politik di tengah konflik berkepanjangan.
Advertisement
Pemilu yang digelar dalam tiga fase sejak Desember itu diperkirakan akan membuka jalan bagi terpilihnya presiden yang mendapat dukungan penuh militer melalui sidang parlemen pada Maret mendatang. Kepala junta, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, atau salah satu loyalisnya disebut berpeluang besar menduduki jabatan tersebut.
Berdasarkan hasil resmi yang dirilis media pemerintah pada Jumat, Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP)—kubu politik yang didukung junta—mendapat 167 dari 422 kursi yang diperebutkan dalam parlemen bikameral.
BACA JUGA
Dengan tambahan 25% kursi parlemen yang secara konstitusional dialokasikan untuk militer, kekuatan pro-militer secara keseluruhan mengumpulkan 333 kursi.
Jumlah awal kursi di dua majelis parlemen adalah 664 kursi. Namun pemungutan suara tidak dilakukan di 76 daerah pemilihan yang berada di luar kendali junta dengan alasan keamanan. Kondisi ini membuat jumlah anggota legislatif hasil pemilu berkurang menjadi 588 kursi, sehingga ambang batas mayoritas sederhana turun menjadi 295 kursi.
USDP dipastikan menguasai mayoritas sejak tahap kedua pemilu yang digelar Minggu (11/1), mencakup pemungutan suara di 100 kecamatan. Pada fase pertama, pemilu berlangsung di 102 kecamatan. Putaran ketiga direncanakan pada 25 Januari di 63 kecamatan tambahan. Hasil resmi final diperkirakan terbit akhir Januari atau awal Februari.
Pemilu ini merupakan pemungutan suara pertama sejak kudeta militer Februari 2021, yang menggulingkan dan memenjarakan pemimpin sipil terpilih Aung San Suu Kyi, serta memicu perang saudara brutal yang masih berlangsung.
Partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), yang sebelumnya menang telak pada pemilu 2020, dibubarkan junta dua tahun setelah kudeta. Sejak itu, sistem pemilu telah direvisi signifikan dibandingkan sistem yang digunakan pada 2020.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- MRP Kecam Penembakan Pilot Smart Air oleh KKB di Papua
- Satgas Ungkap 20 KKB Serang Pesawat Smart Air di Papua, Dua Kru Tewas
- DPR Desak SKB Tiga Menteri Atasi 11 Juta PBI BPJS Nonaktif
- Gempa Donggala M4,1 Guncang Sulteng, BMKG Ungkap Penyebabnya
- Pendaftaran Calon Pimpinan OJK Dibuka, Begini Tahapan dan Syaratnya
Advertisement
Jadwal Bus Sinar Jaya Rute Jogja-Parangtritis dan Baron, Minggu 15 Feb
Advertisement
Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan
Advertisement
Berita Populer
- Kongres ILMISPI 2026 di UNY Tetapkan Zufar Jadi Koorpus
- Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Rp76.500, Bawang Merah Rp44.350
- Prabowo Minta TPA Open Dumping Dihentikan, Sampah Ditangani dari Hulu
- Utang Pemerintah Tembus Rp9.637,9 Triliun, Rasio 40,46 Persen PDB
- Bank Jateng Resmikan KCP RSUD Moewardi dan Donasi Ambulans
- BGN Cairkan Rp32,1 Triliun Dana MBG, Perputaran Uang Tembus Rp29 T
- DLH Luncurkan Gerakan Kulonprogo ASRI, Ini Tujuannya
Advertisement
Advertisement






