Advertisement
Viral Ayah Beri Anak Rokok Usai Lulus Ujian di Malaysia, PHM Bereaksi
Viral anak diberi rokok - Threads
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Aksi seorang ayah di Malaysia yang memberi hadiah rokok kepada anaknya usai lulus ujian Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) menuai kritik keras dari Public Health Malaysia (PHM).
PHM menilai tindakan tersebut sebagai langkah yang sangat keliru dalam pola asuh.
Advertisement
PHM menggarisbawahi bahwa tindakan ini sangat langka, bahkan di lingkungan perokok berat sekalipun. Umumnya, seorang ayah yang merokok tetap memiliki batasan moral untuk tidak menjerumuskan anaknya ke kebiasaan yang sama.
"Banyak ayah merokok, tetapi jarang sekali ada yang benar-benar menyerahkan rokok kepada anaknya sendiri. Bahkan perokok berat pun biasanya punya batas yang tidak akan mereka lewati," tulis PHM melalui unggahan resminya, seperti dikutip dari World of Buzz, Kamis (25/12/2025).
BACA JUGA
PHM membandingkan pola asuh tersebut dengan pendekatan yang dilakukan astronaut pertama Malaysia, Sheikh Muszaphar Shukor. Sheikh Muszaphar menekankan pentingnya membangun fondasi pendidikan dan karakter yang kuat sejak usia dini.
"Sheikh Muszaphar pernah berbagi bahwa anaknya sudah harus bisa membaca di usia 4 tahun dengan target mampu membaca Al-Qur'an pada usia 5 tahun," tulis PHM. Organisasi tersebut menambahkan bahwa konsistensi serta kehadiran figur dewasa yang stabil sangat menentukan arah perkembangan masa depan anak.
Menurut PHM, tindakan ayah dalam unggahan viral tersebut seolah menjadikan rokok sebagai simbol bahwa sang anak telah dewasa. Padahal, secara ilmiah, remaja lulusan SPM (sekitar usia 17 tahun) masih dalam tahap perkembangan otak yang krusial.
Bagian otak bernama korteks prefrontal—yang berfungsi mengatur pengendalian diri, penilaian risiko, dan pengambilan keputusan—biasanya baru berkembang sempurna pada usia pertengahan 20-an. Paparan nikotin pada otak yang tengah berkembang dapat merusak sirkuit memori serta memicu masalah pengendalian impuls.
PHM memperingatkan bahwa persetujuan terbuka dari orang tua terhadap kebiasaan merokok dapat membentuk pola pikir berbahaya pada anak: "Jika ayah mengizinkannya, maka pasti aman."
Menutup pernyataannya, PHM menegaskan bahwa peran seorang ayah bukan sekadar hadir secara fisik di rumah, melainkan menjadi kompas moral bagi anak-anaknya.
"Seorang ayah adalah panutan yang secara tidak sadar akan ditiru oleh anaknya. Meskipun setiap orang tua memiliki gaya asuh yang berbeda, prinsip dasarnya tetap: jangan menjadi tangan yang justru membahayakan anakmu sendiri," tegas PHM.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Trump Ingin Konflik Iran Cepat Usai, Tekanan Justru Meningkat
- Pelecehan Berlangsung 8 Tahun, DPR Kejar Keadilan Korban Syekh AM
- Sebelum ke Beijing, Trump Kejar Gencatan Senjata dengan Iran
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
Advertisement
THR Gunungkidul Aman, Tak Ada Aduan Masuk hingga Posko Ditutup
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Jelang EPA, PSS U19 Fokus Bangun Mental dan Kekompakan
- Kasus Kuota Haji Menguat, KPK Siapkan Pengumuman Penting Senin
- Baru Terima SK, Puluhan ASN Gunungkidul Diminta Turun ke Warga
- Pemerintah Berupaya BBM Subsidi Tetap Aman Saat Dunia Bergejolak
- Tubuh Sering Lelah Bisa Jadi Tanda Kurang Vitamin D
- Parkir Liar di Sirip Malioboro Picu Macet Parah saat Libur Lebaran
- Ferrari Tuduh Mercedes Gunakan Sayap Ilegal di Formula 1 2026
Advertisement
Advertisement







