Advertisement
Pemecatan Gus Yahya Dinilai Prematur oleh PBNU, Ini Penyebabnya
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf. / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA— Pemecatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf dinilai prematur karena proses audit keuangan organisasi tersebut belum selesai dan belum menghasilkan laporan yang dapat dijadikan dasar keputusan.
“Audit belum selesai, tim pencari fakta baru bergerak setelah keputusan diumumkan. Bagaimana mungkin keputusan strategis diambil sebelum fakta lengkap tersedia? Prinsip organisasi yang tertib harus dijunjung tinggi,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU, Najib Azca, di Jakarta, Minggu (30/11/2025).
Advertisement
Sebelumnya, permintaan agar Gus Yahya mundur dikaitkan dengan hasil Rapat Harian Syuriyah yang menilai tata kelola keuangan PBNU mengindikasikan pelanggaran hukum syara’, ketentuan perundang-undangan, Pasal 97–99 Anggaran Rumah Tangga NU, serta Peraturan Perkumpulan NU. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan eksistensi Badan Hukum Perkumpulan NU.
Namun dalam klarifikasi kepada Tim Audit Internal PBNU, auditor menyatakan tidak semestinya ada pihak yang menyimpulkan atau mengutip hasil audit karena proses masih berjalan. Menurut auditor, audit umum tidak serta-merta membuktikan penyimpangan sebelum seluruh rangkaian pemeriksaan rampung dan diverifikasi.
BACA JUGA
Najib menilai kejanggalan makin terlihat karena tim pencari fakta justru dibentuk setelah pemecatan dilakukan, bukan sebelumnya, sebagaimana prosedur organisasi yang tertib. Ia kembali menegaskan pentingnya menjaga marwah organisasi.
“Jika ada dugaan pelanggaran, penyelidikan dulu. Fakta dikumpulkan, dibahas di forum yang sah, baru keputusan diambil. Membalik urutan justru memecah belah,” ujarnya.
Di tengah situasi yang memanas, sejumlah Pengurus Wilayah NU (PWNU) dari berbagai daerah menyerukan agar PBNU mengutamakan islah dan tabayyun. Mereka menilai penyelesaian damai dan musyawarah merupakan tradisi organisasi yang harus dijaga.
Beberapa PWNU bahkan meminta agar kepengurusan yang ada tetap berjalan hingga muktamar mendatang, sembari membenahi persoalan internal secara bijak tanpa langkah yang berpotensi mengganggu stabilitas organisasi.
Seruan tersebut menggambarkan keprihatinan bahwa kegaduhan di pucuk pimpinan PBNU dapat menggerus kepercayaan publik dan melemahkan posisi organisasi menjelang Muktamar 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- AS Ganti Font Lagi: Rubio Kembalikan Times New Roman, Tolak Calibri
- Tragedi Adamawa: 9 Perempuan Tewas Saat Aksi Damai di Nigeria
- Kuota 33 Ribu, Menhub Imbau Warga Daftar Mudik Gratis Nataru
- Bareskrim Temukan Bukti Unsur Pidana Ilegal Logging Garoga Sumut
- Gubernur Jabar Ingatkan Bandung Raya Rawan Tenggelam
Advertisement
Ngawu Salurkan Bantuan Pupuk Rp84 Juta untuk 428 Petani
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Pengungsi Bencana di Sumatera Mulai Berkurang
- Liga Champions: Barcelona Comeback, Tekuk Frankfurt 2-1 di Camp Nou
- Astra Motor Yogyakarta Raih Penghargaan TJSP Sleman 2025
- Liga Champions: Atalanta Kalahkan Chelsea 2-1, De Ketelaere Menentukan
- Harga Cabai Rawit Tembus Rp80.750 per Kg, Telur Ikut Naik
- Angka Stunting di Jogja Menurun, Pemkot Tetap Waspada
- Pantai Lovina, Surga Wisata Lumba-lumba di Bali Utara
Advertisement
Advertisement




