Pesawat Hercules Australia Dikerahkan Bantu Padamkan Karhutla di Samarinda
Pesawat Hercules C-130 Australia mulai melakukan water bombing di Samarinda. Sementara itu, Barito Selatan memperpanjang tanggap darurat karhutla.
Hukum- ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Sistem pidana nasional bakal diubah total. Pemerintah menyerahkan daftar inventarisasi masalah (DIM) Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyesuaian Pidana kepada Komisi III sebagai langkah sinkronisasi ribuan aturan sebelum KUHP baru berlaku.
Wakil Menteri Hukum (Wamenkum) Edward Omar Sharif Hiariej menyerahkan langsung DIM tersebut kepada Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman dan Wakil Ketua Komisi III DPR RI Dede Indra Permana dalam rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/11/2025).
RUU ini, jelas Wamenkum, disusun dalam rangka penyesuaian ketentuan pidana dalam undang-undang di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), peraturan daerah, serta ketentuan pidana dalam KUHP baru agar selaras dengan sistem pemidanaan terkini.
“Penyesuaian ini merupakan bagian dari komitmen negara untuk memastikan bahwa seluruh ketentuan pidana nasional berjalan dalam satu sistem hukum yang terpadu, konsisten, dan modern,” kata Eddy, sapaan akrabnya.
Ia mengatakan pembentukan RUU Penyesuaian Pidana didasarkan setidaknya pada empat pertimbangan.
Pertama, perubahan masyarakat yang cepat dan kebutuhan akan harmonisasi sistem pemidanaan mengharuskan pemerintah menata kembali ketentuan pidana dalam undang-undang sektoral dan peraturan daerah.
“Agar sesuai dengan asas-asas struktur dan filosofis pemidanaan dalam Undang-Undang KUHP,” ucap Eddy.
Kedua, pidana kurungan sebagai pidana pokok telah dihapus dalam KUHP baru. Oleh sebab itu, pemerintah memandang, seluruh ketentuan pidana kurungan yang tersebar di berbagai undang-undang dan peraturan daerah harus dikonversi dan disesuaikan.
Ketiga, sejumlah ketentuan dalam KUHP baru masih memerlukan penyempurnaan, baik karena kesalahan formal penulisan, kebutuhan penjelasan lebih lanjut, maupun ketidaksesuaian dengan pola perumusan baru yang menghapuskan minimum khusus dan pidana kumulatif.
Keempat, imbuh Wamenkum, penyesuaian ini mendesak untuk dilakukan sebelum berlakunya KUHP baru pada 2 Januari 2026 guna menghindari ketidakpastian hukum, tumpang tindih pengaturan, serta disparitas pemidanaan di berbagai sektor.
“Dengan demikian, pembentukan RUU tentang Penyesuaian Pidana ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem hukum pidana nasional secara menyeluruh, memastikan penerapan sistem pidana nasional berjalan efektif, proporsional, dan sesuai dengan perkembangan masyarakat,” tuturnya.
Diketahui, Komisi III DPR RI lanjut membahas RUU Penyesuaian Pidana setelah RUU Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau KUHAP disetujui untuk disahkan menjadi undang-undang.
Komisi III DPR RI berharap RUU Penyesuaian Pidana bisa segera rampung di sisa waktu masa persidangan sebelum memasuki masa reses pada 10 Desember 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pesawat Hercules C-130 Australia mulai melakukan water bombing di Samarinda. Sementara itu, Barito Selatan memperpanjang tanggap darurat karhutla.
BPS menjelaskan alasan penduduk yang bekerja satu jam seminggu tetap masuk kategori bekerja berdasarkan standar ILO.
Sebanyak 30 lurah hasil Pilur Serentak 2026 Bantul resmi dilantik untuk masa jabatan 2026-2034. Lurah diminta inovatif dan merangkul seluruh warga.
Banyak lembaga antikorupsi belum menjamin pemberantasan korupsi efektif. Mantan penasihat KPK Suwarsono Muhammad mengungkap perlunya strategi khas Indonesia.
Kemenag menetapkan 52.325 guru sebagai peserta PPG Daljab 2026. Lapor diri dan unggah dokumen dijadwalkan 9–12 November.
Harianjogja.com, SLEMAN—PDAM Tirta Sembada Kabupaten Sleman berkomitmen memperkuat profesionalisme, inovasi, dan kualitas pelayanan air bersih kepada masyarakat