Advertisement
Uniknya Tradisi Maleman, Malam Peringatan Nuzulul Quran di Mataram
Seorang warga di Kelurahan Dasan Agung Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, sedang menyalakan "dilah jojor" (obor kecil) untuk merayakan tradisi "maleman" atau malam peringatan Nuzulul Quran setiap malam ganjil 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Senin malam (8/4-2024) (ANTARA - Nirkomala)
Advertisement
Harianjogja.com, MATARAM—Maleman atau malam peringatan Nuzulul Quran setiap malam ganjil 10 hari terakhir di bulan Ramadan merupakan salah satu tradisi unik di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dapat dikembangkan sehingga menambah diferensiasi pariwisata di lokasi tersebut.
"Tradisi maleman ini menjadi salah satu warisan budaya religi yang harus kita jaga dan lestarikan," kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram Cahya Samudra di Mataram, Selasa (9/4/2024).
Advertisement
Hal itu disampaikan setelah melihat kegiatan yang dilaksanakan masyarakat di sejumlah kelurahan di Kota Mataram untuk merayakan tradisi maleman. Sebab, saat perayaan tersebut warga Kota Mataram, melaksanakan tradisi maleman dengan menyalakan dilah jojor (lampu kecil) yang dirayakan warga secara bergantian setiap malam ganjil pada 10 malam terakhir bulan Ramadan.
Perayaan maleman diwarnai dengan dinyalakannya dilah jojor, yakni obor kecil hasil kreasi masyarakat yang terbuat dari batang bambu, minyak, dan kapas di setiap rumah warga setelah waktu berbuka puasa.
Potensi Wisata
"Tradisi itu sangat menarik, dan tahun depan kita akan coba kemas menjadi sebuah agenda seperti Festival Dilah Jojor," katanya.
Menurutnya, dengan berbagai pesan religi yang terdapat dalam kegiatan itu diyakini tradisi maleman bisa menjadi salah satu potensi pariwisata tahunan. "Ini tentu akan menambah agenda untuk kalender pariwisata Kota Mataram pada bulan Ramadhan," katanya.
Baca Juga
Disperkim NTB Terima Bantuan Rp24 miliar untuk Pembangunan Rusunawa Nelayan
Harta Karun Miliaran Ton Emas dan Tembaga Terpendam di NTB
Tak Larang Mudik, Gubernur NTB: Mereka itu Rindu Sekali
Untuk mendukung kegiatan itu, tambah Cahya, ke depan pihaknya akan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemuda untuk bergerak bersama melestarikan kegiatan tersebut.
Hudri, salah seorang tokoh agama dan masyarakat di Kota Mataram mengatakan tradisi menyalakan dilah jojor sudah menjadi tradisi turun temurun di Kota Mataram, terutama di kelurahan atau lingkungan yang berpenduduk asli.
Masyarakat, terutama di kelurahan berpenduduk asli, seperti Kelurahan Dasan Agung mengawali kegiatan malam Nuzulul Quran berbuka puasa bersama di masjid dengan masyarakat dan tokoh agama dirangkaikan doa dan zikir. "Tujuannya mempererat tali silaturrahim antar-masyarakat dan tokoh agama di setiap lingkungan," katanya.
Setelah shalat magrib berjemaah, baru warga menyalakan dilah jojor di pinggir rumah masing-masing sebagai salah satu pelestarian tradisi budaya.
Bahkan, anak-anak dan remaja di lingkungan setempat juga menyalakan kembang api sebagai tanda di lingkungan tersebut sedang berlangsung tradisi maleman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pendatang ke Jakarta Didominasi Usia Produktif Minim Keterampilan
- Perbedaan Jumat Agung dan Paskah, Jangan Sampai Keliru
- Ribuan Dapur MBG Bermasalah Program Gizi Disorot
- Kasus Amsal Berbuntut Panjang, DPR Desak Evaluasi Total Kejari Karo
- Anak Indonesia Nyaris Semua Online, PP Tunas Jadi Benteng Terakhir
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 3 April 2026
- Tabrakan Maut di Sedayu Bantul, 3 Remaja Tewas
- Ancaman Trump Picu Ketegangan Baru, China Minta Perang Dihentikan
- Kronologi Brutal Pengeroyokan di Sleman, Berawal dari Geber Motor
- Kasus Amsal Sitepu: DPR RI Minta Kejagung Sanksi Tegas Kajari Karo
- Rekening Donasi Dibuka untuk Warga Iran Terdampak Konflik
- Jadwal Misa Jumat Agung 2026 di DIY
Advertisement
Advertisement









