Ford Digugat Konsumen AS, Diminta Kembalikan Biaya Tarif Impor Trump
Ford menghadapi gugatan class action di AS. Konsumen menuntut pengembalian dana atas biaya tambahan tarif impor yang dibebankan pada Mustang Mach-E.
Ilustrasi satelit/Lapan
Harianjogja.com, JAKARTA—Satuan Tugas Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kominfo belum dapat berkomentar mengenai kelanjutan Satelit Satria-2. Satgas masih menunggu laporan dari para petinggi Bakti.
“Satgas belum berpendapat soal Satria-2. Belum ada telaah yang lengkap dilaporkan oleh direksi Bakti,” kata Ketua Satgas Sarwoto Atmosutarno kepada JIBI, Selasa (24/10/2023).
BACA JUGA: Pemkab Sleman Serahkan Bantuan Senilai Rp526 Juta untuk Kalangan Disabilitas dan Lansia
Sekadar informasi, Satgas Bakti Kominfo baru saja memberhentikan proyek satelit HBS, yang berperan sebagai satelit cadangan untuk Satria-1. Pembatalan bertujuan untuk optimalisasi layanan Bakti di sejumlah titik, seiring dengan adanya fokus ulang alokasi anggaran di Bakti.
Heru Sutadi mengusulkan agar penghentian proyeks tidak berhenti di HBS. Dia menyarankan Kemenkominfo turut mengkaji proyek satelit Bakti lainnya, dalam hal ini Satria-2, mengingat harga dan manfaat yang diberikan dikhawatirkan kurang sesuai.
Dalam rencana strategis Kemenkominfo 2020-2024, Satria-2 memiliki kapasitas 2 kali lipat lebih besar dari Satria-1 yaitu 300 Gbps. Tujuan menghadirkan satelit ini adalah untuk memberikan internet yang lebih mumpuni di daerah rural. Berdasarkan catatan Bakti, Satelit Satria-1 awalnya akan melayani 150.000 titik dengan kapasitas 150 Gbps.
Artinya, setiap titik hanya mendapat 1 Mbps. Oleh sebab itu, Bakti berinisiatif mengkhadirkan Satria-2 untuk meningkatkan kecepatan internet yang diterima pada masing-masing titik.
Pada Februari 2022 , Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate sempat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste H.E. Owen Jenkins. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu, Johnny dan Duta Besar Owen Jenkins membahas kerja sama Satria-2 yang akan dibangun Airbus lewat pembiayaan UK Export Financing.
Menurut Johnny, Satria-2 telah masuk dalam Green Book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sehingga skema yang dilakukan dimungkinkan melalui direct lending ke pemerintah Indonesia. Adapun untuk nilai, dipastikan lebih mahal dari Satria-1 yang menghabiskan dana US$540 juta.
BACA JUGA: Obama Sebut Tindakan Israel di Gaza Bisa Jadi Senjata Makan Tuan
Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menyarankan agar Satelit Satri-2 dialihkan pengadaan anggarannya dari membangun satelit menjadi sewa (opex).
Dia mengatakan sebagai negara maritim yang luas, teknologi VSAT masih dibutuhkan. “Karena yang diperlukan adalah untuk melayani masyarakat, seandainya teknologi VSAT tetap sebagai salah satu yang dipilih, maka Satria-2 akan didorong sebagai Opex,” kata Ian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Ford menghadapi gugatan class action di AS. Konsumen menuntut pengembalian dana atas biaya tambahan tarif impor yang dibebankan pada Mustang Mach-E.
Timnas Indonesia dijadwalkan melawan Yordania pada 13 November 2026. Simak rencana venue, rekor pertemuan, dan posisi ranking FIFA kedua tim.
Veda Ega Pratama belum diumumkan untuk Moto3 2027. Simak susunan sementara tim dan pembalap serta perubahan bursa transfer musim depan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melibatkan 123 perguruan tinggi di wilayahnya untuk bareng-bareng mengentaskan kemiskinan.
BSU 2026 sebesar Rp900.000 disiapkan untuk 13,3 juta pekerja. Simak cara memantau informasi penerima lewat JMO dan laman resmi Kemenaker.
Persijap Jepara memecat Mario Lemos setelah kalah 1-6 dari Bali United. Antonio Claudio ditunjuk sebagai pelatih caretaker.