Celah AirDrop dan Quick Share Ancam iPhone, Android, hingga Windows
Peneliti menemukan enam celah keamanan pada AirDrop dan Quick Share yang berpotensi menyerang iPhone, Android, macOS, dan Windows.
Ilustrasi satelit/Lapan
Harianjogja.com, JAKARTA—Satuan Tugas Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kominfo belum dapat berkomentar mengenai kelanjutan Satelit Satria-2. Satgas masih menunggu laporan dari para petinggi Bakti.
“Satgas belum berpendapat soal Satria-2. Belum ada telaah yang lengkap dilaporkan oleh direksi Bakti,” kata Ketua Satgas Sarwoto Atmosutarno kepada JIBI, Selasa (24/10/2023).
BACA JUGA: Pemkab Sleman Serahkan Bantuan Senilai Rp526 Juta untuk Kalangan Disabilitas dan Lansia
Sekadar informasi, Satgas Bakti Kominfo baru saja memberhentikan proyek satelit HBS, yang berperan sebagai satelit cadangan untuk Satria-1. Pembatalan bertujuan untuk optimalisasi layanan Bakti di sejumlah titik, seiring dengan adanya fokus ulang alokasi anggaran di Bakti.
Heru Sutadi mengusulkan agar penghentian proyeks tidak berhenti di HBS. Dia menyarankan Kemenkominfo turut mengkaji proyek satelit Bakti lainnya, dalam hal ini Satria-2, mengingat harga dan manfaat yang diberikan dikhawatirkan kurang sesuai.
Dalam rencana strategis Kemenkominfo 2020-2024, Satria-2 memiliki kapasitas 2 kali lipat lebih besar dari Satria-1 yaitu 300 Gbps. Tujuan menghadirkan satelit ini adalah untuk memberikan internet yang lebih mumpuni di daerah rural. Berdasarkan catatan Bakti, Satelit Satria-1 awalnya akan melayani 150.000 titik dengan kapasitas 150 Gbps.
Artinya, setiap titik hanya mendapat 1 Mbps. Oleh sebab itu, Bakti berinisiatif mengkhadirkan Satria-2 untuk meningkatkan kecepatan internet yang diterima pada masing-masing titik.
Pada Februari 2022 , Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate sempat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste H.E. Owen Jenkins. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu, Johnny dan Duta Besar Owen Jenkins membahas kerja sama Satria-2 yang akan dibangun Airbus lewat pembiayaan UK Export Financing.
Menurut Johnny, Satria-2 telah masuk dalam Green Book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sehingga skema yang dilakukan dimungkinkan melalui direct lending ke pemerintah Indonesia. Adapun untuk nilai, dipastikan lebih mahal dari Satria-1 yang menghabiskan dana US$540 juta.
BACA JUGA: Obama Sebut Tindakan Israel di Gaza Bisa Jadi Senjata Makan Tuan
Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menyarankan agar Satelit Satri-2 dialihkan pengadaan anggarannya dari membangun satelit menjadi sewa (opex).
Dia mengatakan sebagai negara maritim yang luas, teknologi VSAT masih dibutuhkan. “Karena yang diperlukan adalah untuk melayani masyarakat, seandainya teknologi VSAT tetap sebagai salah satu yang dipilih, maka Satria-2 akan didorong sebagai Opex,” kata Ian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Peneliti menemukan enam celah keamanan pada AirDrop dan Quick Share yang berpotensi menyerang iPhone, Android, macOS, dan Windows.
SBY meminta maaf tak menghadiri HUT Ke-81 RI karena menjalani pemeriksaan kesehatan di Mayo Clinic, AS, dan dijadwalkan kembali September.
Enam pelabuhan di NTT terdampak gempa, termasuk Labuan Bajo. Kemenhub melakukan pemeriksaan untuk memastikan keamanan fasilitas.
Sebanyak 61 mahasiswa KKN UMY di NTT aman setelah gempa M7,7. Mereka dievakuasi ke perbukitan menyusul peringatan tsunami.
Kolaborasi akademisi lintas kampus mendorong kebencanaan inklusif, penguatan disabilitas, dan ekonomi warga di kawasan Merapi.
Bareskrim membongkar dugaan penyelundupan emas ilegal oleh dua WN India di Sunter. Polisi menemukan 2,5 kg emas dan residu 18 kg.