Orangutan Betina Terjebak Bekas Karhutla di Kotim, Ini Kondisinya
BKSDA Kalteng bersama OFI dan Animal Rescue Sampit menyelamatkan orangutan betina berusia sekitar 20 tahun dari lahan bekas karhutla di Kotim.
Kawasan pengembangan agroforestri di lereng Gunung Merapi. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Kawasan lereng Merapi selain memiliki daya tarik wisata juga menyimpan potensi pertanian. Salah satunya pengembangan agroforestri yang terbukti berhasil telah dilakukan di Dusun Gumuk, Desa Mriyan, Tamansari, Boyolali, Jawa Tengah.
Para pemuda di dusun ini sepakat mengembangkan agroforestri dengan melakukan budidaya Anggrek Merapi dan Kopi Merapi. Akibat pengembangan itu dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar dan mereka tidak perlu mencari pekerjaan ke luar wilayahnya.
BACA JUGA : Objek Wisata Lereng Merapi yang Ditutup Bertambah, Ini Daftarnya
Salah satu pemuda yang berkontribusi pengembangan ini adalah Joko Susanto yang merupakan Ketua Kelompok Karya Muda Komunitas Petani Konservasi di desa tersebut. Ia menginisiasi berdirinya kelompok tersebut dari awalnya terdiri dari 11 pemuda desa pada 2016. Para pemuda itu diajaknya untuk melakukan konservasi anggrek spesies khususnya di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi yang nyaris punah.
“Kami waktu itu melihat Anggrek Merapi itu sudah nyaris punah. Bersamaan dengan itu ada pendampingan dari LPTP dan Aqua Klaten untuk pengembangan agroforestri setelah mendapat pendampingan,” katanya, Senin (14/8/2023).
Berkat komitmen pemuda dalam mengikuti pendampingan itu akhirnya saat ini sudah membuahkan hasil. Pohon anggrek Merapi yang terdiri atas 23 varian saat ini dikembangkan oleh kelompok warga Mriyan, Boyolali. Menurutnya jumlah varian anggrek Merapi seharusnya ada lebih dari 130 jenis.
Anggrek itu kini dirawat dalam sebuah green house berukuran 4 meter x 6 meter selama 2 tahun terakhir sebelum dilepasliarkan ke area Gunung Merapi. Selain itu di lokasi konservasi tersebut juga ada laboratorium kultur jaringan untuk memperbanyak anggrek.
“Masyarakat bisa membeli anggrek tersebut dari warga, tetapi untuk dikembalikan ke Taman Nasional Gunung Merapi dan tidak bisa dibawa pulang. Kami tida ada yang punya latar belakang pendidikan pertanian. Namun, dengan pendampingan yang diberikan LPTP dan Aqua Klaten, kami bisa melakukannya,” ujarnya.
BACA JUGA : Merapi Erupsi, Ini Rute Baru Jip Lava Tour yang Diklaim Aman
Selain Anggrek, di desa ini juga dikembangkan budidata tanaman kopi Merapi. Selain untuk konservasi air dan mencegah longsor, tanaman kopi ini bijinya bisa diolah sendiri dengan memberdayakan pemuda. Saat ini, para pemuda desa Mriyan sudah mendirikan Kedai Kopi Gumuk yang menyuguhkan kopi bertajuk Gumuk Coffee, menjadi salah satu kuliner kopi yang menarik.
Kopi dari lereng Merapi desa Mriyan ini sudah banyak dipesan dari daerah lain seperti Jakarta, Bandung dan Jogja. “Memang untuk saat ini, penghasilan dari kopi ini belum sebesar yang didapat masyarakat dari tembakau dan mawar. Tapi, kedepannya ada potensi terus berkembang. Saat ini para pemuda tidak perlu merantau tetapi cukup mengembangkan potensi ini,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BKSDA Kalteng bersama OFI dan Animal Rescue Sampit menyelamatkan orangutan betina berusia sekitar 20 tahun dari lahan bekas karhutla di Kotim.
Krisnadi menyoroti dampak penataan Sumbu Filosofi terhadap PAD Jogja, parkir wisata, investasi, dan ekonomi masyarakat.
Jadwal KSPN Jogja ke Pantai Drini dan Obelix Sea View Kamis 16 Oktober 2026. Cek jam keberangkatan, rute, dan tarifnya.
Jadwal DAMRI YIA-Jogja Jumat 16 Oktober 2026 tersedia untuk 5 rute. Simak jam keberangkatan dan tarif Rp80.000 per penumpang.
Jadwal KA Bandara YIA, Jumat 16 Oktober 2026, tersedia 24 perjalanan dari YIA ke Stasiun Tugu dan sebaliknya. Cek jam keberangkatan lengkapnya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Jumat 16 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jam keberangkatan dari Jogja dan Kutoarjo.