Disnakertrans Bantul Ukur Ulang Hasil Program Padat Karya di 124 Lokasi
Disnakertrans Bantul mengukur ulang pekerjaan padat karya di 124 lokasi untuk memastikan hasil sesuai desain sebelum pembayaran upah pekerja.
Ilustrasi kekeringan dampak El Nino /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kekeringan akibat adanya El Nino menjadi ancaman di depan mata dan menguat akibat adanya Indian Ocean Dipole (IOD). Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Abdul Muhaimin Iskandar mengingatkan pemerintah agar segera menyusun langkah nyata untuk mengantisipasinya.
"Fenomena El Nino dan 'Indian Ocean Dipole' harus diantisipasi betul,” kata Muhaimin, Rabu (7/6/2023).
Ocean Dipole, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) didefinisikan sebagai perbedaan suhu permukaan laut antara dua wilayah, yaitu di Laut Arab (Samudera Hindia bagian barat) dan Samudera Hindia bagian timur di selatan Indonesia.
Muhaimin menyarankan pemerintah untuk gencar melakukan modifikasi cuaca, terutama di daerah yang memiliki potensi kekeringan paling parah.
"Saya kira salah satu antisipasinya adalah modifikasi cuaca, ini harus gencar dilakukan untuk mengisi volume air di waduk atau bendungan air dan mencukupi kebutuhan air masyarakat," ujarnya.
Menurut dia, pemerintah perlu tetap melakukan langkah antisipatif, meskipun BMKG memprediksi El Nino yang melanda Indonesia pada 2023 ini masih dikategorikan "moderate" (menengah).
Sebab, lanjut dia, sekecil apa pun level fenomena El Nino dan "Indian Ocean Dipole" tetap akan berdampak pada kekeringan lahan.
"Jadi meskipun El Nino prediksinya akan terjadi di level moderat, antisipasinya tetap perlu dilakukan. Karena akan tetap berpengaruh pada kekeringan lahan pertanian. Kalau sampai suplai air kurang, tanah kering, maka yang ditakutkan akan banyak petani mengalami gagal panen," katanya.
BACA JUGA: Ada 20% Dokumen Bacaleg DIY Meragukan, Salah Satunya soal Legalisasi Ijazah
Dia mengingatkan fenomena El Nino terburuk di Indonesia pada 1982 dan 1997 sehingga meski diprediksi El Nino tahun ini berlevel menengah, namun dikhawatirkan akan kembali menguat ke level paling parah.
“Kami ingatkan kekeringan panjang tahun 1997 tidak terulang, waktu itu banyak daerah defisit air karena fenomena itu,” kata dia.
Sebelumnya, Selasa (6/6), Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebutkan fenomena El Nino yang semakin menguat dengan adanya Indian Ocean Dipole (IOD) menuju positif dapat memicu kekeringan di Indonesia pada musim kemarau.
Dwikorita dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, menyebut bahwa dua fenomena tersebut telah diprakirakan BMKG pada Maret 2023, di mana keduanya berpotensi mengakibatkan wilayah Indonesia menjadi lebih kering.
"Diprediksi pada semester 2 ini dapat berdampak pada semakin berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia selama periode musim kemarau ini. Bahkan sebagian wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori di bawah normal, atau lebih kering dari kondisi normalnya," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Disnakertrans Bantul mengukur ulang pekerjaan padat karya di 124 lokasi untuk memastikan hasil sesuai desain sebelum pembayaran upah pekerja.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Senin 19 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Simak jam keberangkatan dari Stasiun Tugu dan Kutoarjo.
Jadwal KA Bandara YIA 19 Oktober 2026 mencakup layanan reguler dan Xpress. Simak waktu keberangkatan dari Jogja dan Bandara YIA.
Jadwal KRL Solo-Jogja Senin 19 Oktober 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal lengkap dan waktu tiba di Stasiun Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 19 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif tiket sebesar Rp8.000.
Pemerintah mendorong pemberdayaan 22,5 juta penerima bansos agar kesejahteraan meningkat, kemiskinan berkurang, dan masyarakat mandiri.