Mees Hilgers Cadangan, Heerenveen Bantai Excelsior 4-0
Mees Hilgers menghuni bangku cadangan saat Heerenveen menang 4-0 atas Excelsior pada pekan kesembilan Liga Belanda.
Presiden Joko Widodo./JIBI-Bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Joko Widodo mengaku tak bisa mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan, termasuk soal Bharada Richard Eliezer (Bharada E) yang dituntut 12 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
“Saya tidak bisa mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan," kata Jokowi usai meninjau proyek sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur, Jakarta Timur, Selasa.
Jokowi menekankan semua pihak harus menghormati proses hukum yang sedang berjalan di masing-masing lembaga negara.
BACA JUGA : Jaksa Beberkan Alasan Bharada E Dituntut Lebih Berat dari
Dia menyampaikan hal itu berlaku untuk semua kasus hukum, bukan hanya kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat yang menyeret mantan kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri Ferdy Sambo (FS).
"Bukan hanya kasus FS saja, untuk semua kasus, tidak [bisa mengintervensi]; karena kita harus menghormati proses hukum yang ada di lembaga-lembaga negara yang sedang berjalan," kata Jokowi.
Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Richard Eliezer atau Bharada E dengan hukuman 12 tahun penjara. Jaksa menilai Bharada E terbukti secara sah terlibat kasus pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat.
"Menuntut supaya majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu dengan pidana dengan pidana penjara selama 12 tahun, dan dipotong masa tahanan. Memerintahkan terdakwa tetap berada di masa tahanan," kata jaksa dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (18/1).
BACA JUGA : Usai Sidang, Bharada E Minta Maaf: Saya Anggota
Jaksa menilai Eliezer telah bersalah melakukan pembunuhan terhadap Yosua. Dalam surat tuntutan, Eliezer dinilai melanggar Pasal 340 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum (Jampidum) Fadil Zumhana memastikan tuntutan 12 tahun yang dilayangkan kepada Richard Eliezer sudah tepat.
Dia meminta masyarakat menghormati tuntutan jaksa penuntut umum terhadap para terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
"Hormatilah kewenangan tuntutan itu. Kami mewakili masyarakat, pemerintah, dan negara. Kewenangan itu diberikan kepada jaksa agung sesuai Undang-Undang 11 Tahun 2021," kata Fadil Zumhana di Jakarta, Kamis (19/1).
Eliezer didakwa melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap Yosua. Hal itu dilakukan bersama dengan terdakwa Ferdy Sambo, Putri Candrwathi, Ricky Rizal R.R., dan Kuat Ma’ruf.
Mereka didakwa terlibat dalam kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Yosua pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga Nomor 46, Jakarta Selatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Mees Hilgers menghuni bangku cadangan saat Heerenveen menang 4-0 atas Excelsior pada pekan kesembilan Liga Belanda.
Luthfi/Dian menjuarai Kejuaraan Dunia Junior 2026 setelah bangkit dari ketertinggalan 11-14 pada gim penentuan melawan pasangan China.
Sebanyak 214 KDMP di DIY telah bertransaksi hingga Oktober 2026. Dinkop DIY menargetkan 80% kalurahan mengoperasikan KDMP pada akhir tahun.
Hajime Moriyasu dirumorkan melatih Timnas Malaysia. Media Jepang menyebut pelatih Samurai Biru itu mengincar karier di klub Eropa.
Tiga prinsip hidup warga Finlandia yang berkaitan dengan kebahagiaan: berhenti membandingkan diri, dekat dengan alam, dan menjaga kepercayaan.
Pieter Huistra mendukung penggalangan donasi masker dan obat tetes mata untuk korban karhutla di Kalimantan jelang Persebaya vs PSS Sleman.