Advertisement

Indonesa Unjuk Gigi Pengelolaan Gambut ke Dunia Internasional

Arief Junianto
Rabu, 14 Desember 2022 - 16:17 WIB
Arief Junianto
Indonesa Unjuk Gigi Pengelolaan Gambut ke Dunia Internasional Menteri LHK, Siti Nurbaya. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA —  Berdasarkan Resolusi UNEA 4 pada 2019 tentang Konservasi dan Pengelolaan Gambut Berkelanjutan, Indonesia berbagi pengalaman dan pembelajaran praktik baik perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut melalui penyelenggaraan kegiatan Workshop on Protection and Management of Peatland Ecosystem: Sharing Experiences and Lesson Learnt from Indonesia yang digelar selama tiga hari di The Premier Hotel Pekanbaru, Riau mulai sejak 13–15 Desember 2022.

Hal itu menjadi bukti bahwa capaian Indonesia dalam pengelolaan ekosistem gambut semakin diakui dunia. Komitmen Indonesia yaitu dengan penerapan kebijakan pengelolaan ekosistem gambut yang holistik dapat mengintegrasikan kebijakan dengan seluruh pemangku kepentingan pemerintah, pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Langkah yang telah dilaksanakan meliputi pengarusutamaan kebijakan konservasi, perlindungan, restorasi, dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem gambut untuk mendapatkan manfaat ganda bagi lingkungan, iklim, dan sosial ekonomi masyarakat.

Lokakarya internasional ini dilaksanakan secara hybrid dan dihadiri oleh 63 orang, terdiri dari 36 peserta internasional dan 27 peserta lokal yaitu negara anggota ASEAN, Republic of Congo, Democratic Republic of Congo, Fiji, Peru, negara Anggota G20 (Perancis, Turki, dan EU), organisasi internasional (ITPC, GEF, dan IFAD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi, serta kementerian/lembaga terkait.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya hadir secara daring memberikan pidato kunci tentang keberhasilan Indonesia memulihkan serta mengelola ekosistem gambut secara berkelanjutan. 

BACA JUGA: Prakiraan Cuaca DIY Hari Ini, Cerah Berawan

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Sigit Reliantoro turut hadir secara langsung di lokasi.

Selain itu, Menteri untuk Wilayah Luar Negeri, Persemakmuran, Energi, Iklim dan Lingkungan, Inggris Raya, Rt. Hon Lord Goldsmith of Richmond Park, memberikan sambutan secara daring tentang Kerja Sama Indonesia–Inggris dalam restorasi ekosistem gambut dan implementasi FOLU Net Sink 2030.

Menteri Siti menegaskan bahwa perlindungan dan pengelolaan ekosistem lahan gambut tidak dapat dicapai oleh satu individu, negara, organisasi atau lembaga.

“Perlu ada kolaborasi dengan mengedepankan aksi global dalam strategi yang komprehensif, termasuk menginventarisasi dan memetakan karakteristik lahan gambut, mekanisme monitoring dan evaluasi, memberlakukan moratorium dan regulasi terkait lainnya, seperti pemberian insentif sebagai bentuk dukungan aksi lapangan di pelaksanaan konservasi, perlindungan, pemulihan, dan pemanfaatan ekosistem lahan gambut secara lestari,” kata Siti melalui rilis, Rabu (14/12/2022).

Selama 2019-2022, kata Siti, Indonesia terus melakukan perbaikan restorasi gambut seluas 300.000 hektare di pemegang konsesi. Selain itu, 230 desa dengan luas 50.000 hektare telah dilaksanakan restorasi dengan melibatkan masyarakat setempat.

Itulah sebabnya, berbagai pengalaman ini juga menjadi isu penting yang disepakati para pemimpin dunia saat Presidensi G20 Indonesia, di bawah kelompok kerja lingkungan dan iklim.

Para pemimpin G20 mengakui bahwa ekosistem gambut penting untuk mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. "Indonesia siap berbagi pengalaman dan bertukar pembelajaran. Saya berharap lokakarya hari ini akan mengumpulkan dan menyatukan dukungan kita bersama terhadap perlindungan dan pengelolaan ekosistem lahan gambut," kata Siti.

Sementara itu, Direktur Pengendalian Kerusakan Ekosistem Gambut Ditjen PPKL KLHK, SPM Budisusanti dalam sambutan pembukaan mengatakan acara ini dapat memberi kesempatan untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan global dan platform jaringan tentang pengembangan Kebijakan dan implementasi terpadu ekosistem gambut.

Seperti misalnya inventarisasi dan pemetaan karakteristik lahan gambut, dan sistem pemantauan untuk restorasi ekosistem gambut. “Lokakarya ini juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan peran International Tropical Peatland Center [ITPC] sebagai pusat keunggulan untuk pengembangan dan pertukaran pengetahuan tentang konservasi dan pengelolaan ekosistem lahan gambut secara berkelanjutan,” kata Budisusanti.

Dia menegaskan, ekosistem lahan gambut memiliki keanekaragaman hayati yang unik, dan sangat penting dalam penyediaan banyak jasa ekosistem serta dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Lahan gambut memberikan fungsi ekologis yang kompleks bagi keanekaragaman hayati serta penyediaan habitat bagi flora dan fauna.

Ekosistem gambut juga telah mengambil peran penting untuk dukungan langsung dan tidak langsung untuk keperluan pertanian dan pasokan pangan, serta pembangunan ekonomi terkait lainnya.

Pekerjaan Luar Biasa

Sementara itu, Menteri Negara bidang Wilayah Luar Negeri, Persemakmuran, Energi, Iklim dan Lingkungan, Inggris Raya, Lord Goldsmith mengatakan Indonesia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam pengelolaan lahan gambut.

"Saat mengunjungi Indonesia dan melihat langsung kerjanya, saya yakin Indonesia sedang memimpin dunia sekarang dalam perlindungan dan restorasi lahan gambut. Menteri Siti menekankan pada saya kebutuhan untuk memperbaiki dan melindungi lahan gambut untuk dapat mengurangi emisi," kata Goldsmit dalam sambutan virtualnya.

Lokakarya ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman Indonesia dalam pengembangan kebijakan serta implementasi terpadu dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, seperti inventarisasi dan pemetaan karakteristik ekosistem gambut, dan pembangunan sistem pemantauan restorasi ekosistem gambut.

Selain itu juga bisa menjadi momentum pengembangan kerja sama para pihak dalam mendukung pewujudan ekosistem gambut berkelanjutan.

Tak hanya itu, lokakarya itu juga diharapkan dapat mengoptimalkan peran ITPC sebagai center of excellence untuk pengembangan dan pertukaran pengetahuan tentang konservasi dan pengelolaan ekosistem lahan gambut secara berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Rumor Penculikan Anak Marak di Jogja dan Sekitarnya, Begini Cara Orang Tua Mengatasinya

Jogja
| Sabtu, 04 Februari 2023, 11:37 WIB

Advertisement

alt

Kemegahan Desa Wisata Karangrejo Borobudur Menyimpan Kisah Menarik Bersama Ganjar

Wisata
| Sabtu, 04 Februari 2023, 11:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement