Advertisement

Tamu Pernikahan Kaesang Dilarang Pakai Batik Parang Lereng? Ini Alasannya

JIBI
Selasa, 06 Desember 2022 - 12:17 WIB
Jumali
Tamu Pernikahan Kaesang Dilarang Pakai Batik Parang Lereng? Ini Alasannya Batik Motif Parang - Ist

Advertisement

Harianjogja.com, SOLO—Tamu acara tasyakuran pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono di Pura Mangkunegaran dilarang mengenakan batik dengan motif parang lereng. Hal ini dikarenakan batik dengan motif tersebut memiliki arti yang sakral.

BACA JUGA: Motif Parang Rusak Menempel di Jersey PSIM Jogja

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Larangan tersebut disampaikan oleh Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Dia mengatakan pihak Pura Mangkunegaran yang meminta agar tamu undangan tidak mengenakan kain batik bermotif tersebut pada acara yang digelar pada 10 Desember 2022 itu.

“Untuk masuk pura enggak boleh ada parang lereng. Itu aturan dari Kanjeng Gusti [KGPAA Mangkunegara X],” ucap dia kepada wartawan di Balai Kota Solo, Senin (5/12/2022).

Terkait hal tersebut, banyak masyarakat apa sih sebenarnya arti motif batik parang lereng yang dilarang dipakai di acara tasyakuran pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono?

Mengutip situs Goodnewsfromindonesia.id, batik parang merupakan salah satu motif batik yang paling tua di Indonesia. Parang berasal dari kata pereng yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.

Motif batik jenis merupakan batik yang sudah ada sejak zaman Keraton Kartasura dan memiliki bentuk susunan motif S yang tidak putus. Bentuk dasar S tersebut diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tidak kenal putus asa. Pada zaman dahulu, batik parang hanya dikenakan oleh raja, penguasa, dan ksatria.

Arti batik parang sendiri mempunyai makna yang sakral, yakni petuah untuk tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang juga menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga.

Sementara itu, garis diagonal pada batik parang melambangkan penghormatan dan cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai yang sebenarnya. Bukan hanya itu, motif ini dimaknai ketangkasan, kewaspadaan, dan kontituinitas antara pekerja dengan pekerjaa lain.

Memiliki arti yang begitu sakral, batik parang kini memiliki 10 jenis motif yang populer. Bersumber dari Batikindonesia.com, beberapa di antaranya, batik parang motif merak, batik parang centong, batik parang cantel, batik parang kusumo, batik parang curigo mlinjon, batik parang sketsa, batik parang seling warna, batik parang bermakna, batik parang tuding, dan batik parang rusak barong,

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Solopos

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Padat Karya Bantul Berdayakan Warga Miskin di 70 Kalurahan

Bantul
| Kamis, 09 Februari 2023, 01:27 WIB

Advertisement

alt

Meski Ada Gempa, Minat Masyarakat ke Turki Tak Surut

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 22:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement