Advertisement
Konflik China-AS di Taiwan Bisa Berdampak ke Ekonomi Indonesia
Pelabuhan Keelung di Keelung, Taiwan, pada Kamis (4/8/2022). Militer China menembakkan rudal ke laut saat memulai tiga hari latihan militer tembakan langsung di sekitar pulau sebagai tanggapan atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi - Bloomberg/Lam Yik Fei
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — PT Bank Permata Tbk. (BNLI) menilai bahwa ketegangan geopolitik di Taiwan bisa berdampak bagi perekonomian Indonesia jika konfliknya terus berlanjut. Aktivitas perdagangan dengan China dan Amerika Serikat bisa terganjal jika konflik itu semakin memanas.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa Indonesia sudah merasakan dampak konflik geopolitik terhadap perekonomian, yakni dari naiknya harga komoditas, terutama energi dan pangan. Oleh karena itu, munculnya risiko baru di Taiwan patut diwaspadai dampaknya.
Advertisement
"Pada konflik China dan Amerika Serikat di Taiwan, jika ini bereskalasi lebih jauh lagi, maka ini akan semakin menambah efek negatif ke perekonomian," ujar Josua kepada Bisnis, Jumat (5/8/2022).
Menurutnya, efek negatif berpotensi muncul karena China dan Amerika Serikat merupakan mitra dagang utama dari Indonesia. Lalu, Taiwan merupakan salah satu produsen utama semikonduktor di dunia, sehingga posisinya menjadi strategis dalam pusaran konflik.
Josua berpandangan bahwa bisa saja muncul potensi trade diversion yang menguntungkan Indonesia akibat meningkatnya restriksi perdagangan antara China dan Amerika Serikat. Namun, hal itu perlu dikaji lebih jauh.
"Apalagi jika terjadi perang terbuka antara China dan Taiwan, hal ini justru kami perkirakan memiliki dampak lebih buruk, di tengah kelangkaan semikonduktor yang terjadi saat ini," katanya.
Dia menilai bahwa pemerintah harus melakukan upaya ekstra dalam mengurangi ketergantungan bahan baku impor dari luar negeri. Selain itu, untuk mengantisipasi perlambatan dari sisi eksternal, pemerintah juga perlu mengupayakan kebijakan kontrasiklus melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
"Beberapa konflik geopolitik global saat ini, seperti perang Rusia-Ukraina, dan yang baru-baru ini terjadi antara Amerika Serikat dan China akibat kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat ke Taiwan, berpotensi mempengaruhi kinerja sisi eksternal Indonesia," kata Josua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Ngaku Tuhan Kedua, Dukun Cabul di Magetan Setubuhi Istri Pasien
- Vonis Mati Tahanan Palestina oleh Israel Disorot Indonesia
- Kasus Video Profil Desa Karo, Majelis Hakim Bebaskan Amsal Sitepu
- Iran Tolak Gencatan Senjata, Minta Perang Dihentikan Total
- Kondisi Psikologis Aktivis KontraS Andrie Yunus Stabil
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Babak I Bolivia vs Irak 1-1, Tiket Piala Dunia Dipertaruhkan
- Pemkot Jogja Tegaskan Larangan Siswa Tanpa SIM Bawa Motor ke Sekolah
- Fenomena Pink Moon Muncul 1-2 April, Bisa Disaksikan Malam Ini
- Kirab HUT Sri Sultan HB X, Malioboro Ditutup Mulai Kamis Pagi
- Ramp Tol Jogja-Solo di Trihanggo Dikebut, Gerbang Tol Segera Dibangun
- Malioboro Ditutup saat Kirab HUT Sultan HB X, Ini Rute Pengalihan Arus
- Film Zona Merah Naik Level, Cerita Zombie Kini Menyasar Kota
Advertisement
Advertisement









