Advertisement

Mengapa Omicron Lebih Cepat Menyebar?

Rezha Hadyan
Selasa, 01 Maret 2022 - 21:57 WIB
Bhekti Suryani
Mengapa Omicron Lebih Cepat Menyebar? Ilustrasi perempuan mengalami gejala Covid-19 varian Omicron - Everyday Health

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Saat ini, kasus Covid-19 di Tanah Air didominasi oleh varian Omicron. Varian yang satu ini disebut-sebut memiliki kemampuan penyebaran yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan varian-varian terdahulu, termasuk Delta.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat Omicron mampu menyebar lebih cepat dibandingkan varian-varian Covid-19 lainnya?

Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS Universitas Sebelas Maret Surakarta, Tonang Dwi Ardyanto menyebut, sebelum varian Omicron, virus SARS CoV-2 menginfeksi sel melalui urutan tiga urutan. Urutan tersebut meliputi ikatan dengan ACE-2 receptor, berikatan dengan TMPRSS2 baru, dan kemudian masuk ke dalam sel.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

"Saat protein S siap berikatan dengan reseptor ACE-2 itulah bentuknya menjadi terbuka, sehingga dikenali oleh sistem imun kita. Tapi begitu berikatan, posisinya sudah terkunci, tidak bisa dicegah lagi oleh sistem imun," katanya dalam sebuah forum diskusi virtual pada Selasa (1/3/2022).

BACA JUGA: Curang! Konsumen Minyak Goreng di Jogja Dipaksa Beli Sabun hingga Lampu Bolam  

Setelah masuk ke dalam sel, bereplikasi dan hendak menyebar ke sel lain. Saat itu kembali ada kesempatan sistem imun mengenali protein S lagi. Begitu berulang. Sehingga terjadi kompetisi antara usaha sistem imun kita dengan kecepatan pertumbuhan dan penyebaran virus.

Tonang mengungkapkan pada Omicron ada empat perubahan. Pertama, ujung S nya mengalami banyak perubahan, sehingga ibaratnya mengenakan topeng, menutupi wajah aslinya.

"Pada virus covid varian sebelumnya, protein spike itu akan terbuka saat mendekati reseptor ACE-2. Dengan harapan bisa berikatan dan mengunci. Dari varian awal sampai ke varian delta, teknik membuka dan mengunci reseptor ACE-2 ini berlangsung semakin cepat. Sehingga semakin mampu menghindari hambatan oleh sistem imun kita," tuturnya.

Pada Omicron, perubahan kedua adalah protein S lebih stabil, artinya tidak mudah terbuka, baru terbuka sesaat sebelum berikatan dengan reseptor ACE-2. Dengan demikian, menambah sulit dikenali oleh sistem imun kita.

Advertisement

Pada varian sebelumnya, setelah berhasil berikatan dengan ACE-2, disusul ikatan dengan TMPRSS2. Setelah itu menjadi sarana untuk bisa masuk ke dalam sel. "TMPRSS2 ini lebih banyak terdapat di paru-paru, lebih sedikit di saluran nafas. Maka pada varian-varian sebelumnya, cenderung virusnya menyebar ke paru-paru," ujar Tonang.

Pada Omicron, ciri ketiganya adalah setelah berikatan, ternyata tidak membutuhkan TMPRSS2, tapi langsung melakukan endositosis (menembus masuk ke dalam sel). Maka pertumbuhan Omicron di saluran nafas 70x lebih cepat daripada Delta. Tapi di paru-paru, pertumbuhannya 10x lebih lambat daripada Delta.

Tapi ada yang menarik, bahwa ada ciri keempat Omicron itu ternyata lebih berespon terhadap interferon (bagian dari sistem imun bawaan). "Keempat ciri inilah yang membuat Omicron mudah menular, cepat menyebar, tumbuh cepat virusnya tapi cenderung ringan gejalanya," tegasnya.

Advertisement

Tonang menambahkan secara umum, angka pertambahan kasus Omicron saat ini secara global pada posisi mulai menurun dari gelombangnya. Di Indonesia sendiri, bagi Jakarta sudah 2 pekan turun berturut-turut atau angka rata-rata mingguan. "Untuk nasional, memang baru mulai menunjukkan penurunan, walau belum stabil penurunannya," tutupnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Profil Samekto Wibowo, Guru Besar UGM yang Meninggal Setelah Terseret Ombak di Gunungkidul

Gunungkidul
| Minggu, 25 September 2022, 08:47 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Pendekar Roti Kolmbeng Terakhir di Jogja

Wisata
| Sabtu, 24 September 2022, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement