Advertisement

AS Luncurkan 622 Serangan Udara Sepanjang 2025, Ini Targetnya

Jumali
Minggu, 04 Januari 2026 - 13:27 WIB
Jumali
AS Luncurkan 622 Serangan Udara Sepanjang 2025, Ini Targetnya Donald Trump / Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Sepanjang 2025, Amerika Serikat di bawah Donald Trump justru gencar melancarkan serangan militer lintas negara.

Kali terakhir, Amerika Serikat melakukan operasi militernya di Venezuela berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada awal Januari 2026.

Advertisement

Aksi ini menjadi puncak dari deretan operasi militer AS sepanjang 2025, sebuah realitas yang kontras dengan klaim Donald Trump sebagai “presiden perdamaian”.

Al Jazeera mengungkapkan, lembaga pemantau konflik Armed Conflict Location & Event Data (ACLED) mencatat bahwa Washington terlibat dalam 622 serangan udara dan drone di luar negeri sepanjang 2025. Angka ini memicu perdebatan besar karena bertolak belakang dengan janji kampanye Trump untuk mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik asing.

Berikut adalah rincian operasi militer AS di berbagai belahan dunia selama setahun terakhir:

1. Venezuela dan Karibia: Penangkapan Nicolás Maduro

Eskalasi di Amerika Latin memuncak pada penangkapan Presiden Maduro pada 3 Januari 2026. Sebelumnya, AS mengonfirmasi serangan ke fasilitas dermaga Venezuela yang dituduh sebagai lokasi pemuatan narkoba.

Meskipun diklaim sebagai operasi antinarkotika, Human Rights Watch melaporkan sedikitnya 95 orang tewas dalam serangan di Karibia dan menuding AS melakukan pembunuhan di luar proses hukum (extrajudicial killings).

2. Nigeria: Serangan Udara di Hari Natal

Pada 25 Desember 2025, AS melancarkan serangan udara di Sokoto, Nigeria, dengan target kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. Operasi ini disebut sebagai respons atas tekanan kelompok konservatif di AS, meskipun pemerintah Nigeria mengeklaim operasi tersebut telah mendapatkan persetujuan mereka.

3. Somalia: Rekor Serangan Tertinggi

AS mencatatkan sedikitnya 111 serangan udara di Somalia pada 2025 untuk menumpas al-Shabab dan ISIS. Jumlah ini melampaui total serangan gabungan pada era pemerintahan Bush, Obama, dan Biden. Namun, investigasi Drop Site News mengungkap adanya 11 korban sipil, termasuk tujuh anak-anak, dalam serangan di Lower Juba.

4. Suriah: Operasi Balas Dendam

Menyusul tewasnya dua tentara AS di Palmyra, militer AS menyerang 70 lokasi ISIS di Suriah pada 19 Desember 2025. Menteri Pertahanan Pete Hegseth secara terbuka menyebut operasi ini sebagai “deklarasi balas dendam”.

5. Iran: Serangan ke Fasilitas Nuklir

Pada 22 Juni 2025, AS menggempur tiga fasilitas nuklir utama Iran di Natanz, Isfahan, dan Fordow. Konflik yang berlangsung selama 12 hari tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang masif, yakni lebih dari 1.100 warga Iran dan 28 warga Israel.

6. Yaman: Operasi "Rough Rider"

Sepanjang awal 2025, AS meluncurkan Operation Rough Rider untuk menggempur kelompok Houthi. Serangan ini menghantam infrastruktur penting seperti pelabuhan dan bandara. Kementerian Kesehatan Yaman melaporkan 123 orang tewas, mayoritas adalah warga sipil, sebelum gencatan senjata tercapai pada 6 Mei 2025.

7. Irak: Pelumpuhan Pimpinan ISIS

Di Irak, AS berhasil menewaskan wakil pimpinan ISIS, Abdallah “Abu Khadijah” al-Rifai, dalam serangan di Provinsi Anbar pada 13 Maret 2025. Langkah ini mendapat apresiasi dari Perdana Menteri Irak yang menyebut Al-Rifai sebagai salah satu teroris paling berbahaya.

Sarang Shidore dari Quincy Institute menilai kebijakan militer Trump cenderung bersifat performatif dan didorong oleh kepentingan politik domestik daripada diplomasi jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal SIM Keliling di Kulonprogo, Senin 5 Januari 2026

Jadwal SIM Keliling di Kulonprogo, Senin 5 Januari 2026

Kulonprogo
| Senin, 05 Januari 2026, 09:07 WIB

Advertisement

Walking Tour Telusuri Jejak Sejarah Simpang Lima Boyolali

Walking Tour Telusuri Jejak Sejarah Simpang Lima Boyolali

Wisata
| Minggu, 04 Januari 2026, 22:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement