OJK: Kantor Bank BUMN Bertambah, Swasta Kurangi Jaringan Fisik
Bank BUMN agresif menambah cabang pada kuartal I/2026, sementara bank swasta mengurangi kantor fisik dan memperkuat layanan digital.
Ivermectin, obat cacing diklaim sembuhkan pasien Covid-19./Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA - Saat awal pandemi, beberapa obat yang sudah ada digunakan sebagai obat Covid-19 sembari menunggu para peneliti untuk menemukan obat yang tepat untuk menghadapi virus pernapasan ini.
Selama kurang lebih hampir dua tahun pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, obat-obat seperti Ivermectin, Klorokuin, hingga plasma convalescent, yang kala itu digunakan sebagai obat Covid-19, kini tak lagi digunakan karena terbukti tidak memiliki manfaat. Bahkan, pada beberapa kasus, obat-obatan tersebut justru menyebabkan efek samping serius.
Lantas apa saja obat-obatan yang tidak digunakan lagi sebagai obat Covid-19? Berikut daftar lima obat tersebut:
Obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi cacing ini tidak mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan regulator obat Uni Eropa.
"Banyak laporan pasien yang memerlukan perhatian medis, termasuk rawat inap, setelah konsumsi Ivermectin," tulis Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban, mengutip akun Twitternya, Sabtu (5/2/2022).
Obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati malaria ini juga sempat digunakan sebagai obat Covid-19. Meskipun sudah digunakan oleh banyak orang di dunia, klorokuin justru terbukti berbahaya untuk jantung. Selain itu, tidak adanya manfaat antivirus membuat obat ini tak boleh digunakan lagi.
Oseltamivir sebetulnya sering digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A atau B, dan mencegah flu pada pasien yang baru terpapar oleh virus influenza. Meskipun begitu, tidak ada bukti ilmiah obat ini dapat mengobati pasien Covid-19 dan WHO telah menyatakan bahwa obat tersebut tidak berguna untuk Covid-19.
"Kecuali saat Anda dites positif Influenza, yang amat jarang ditemukan di Indonesia," kata Profesor Zubairi.
Selain sama sekali tidak ada manfaatnya, Profesor Zubairi mengatakan bahwa pemberian Plasma Convalescent juga membutuhkan biaya yang mahal dan prosesnya yang begitu memakan waktu.
WHO sendiri tidak merekomendasikan Plasma Convalescent, kecuali dalam konteks uji coba acak dengan kontrol.
Antibiotik ini diketahui tidak memiliki manfaat sebagai terapi Covid-19, baik skala ringan maupun sedang. Kecuali, ditemukan bakteri, selain virus penyebab Covid-19 pada tubuh pasien. Jika hanya virus Covid saja, maka obat ini tidak perlu digunakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Bank BUMN agresif menambah cabang pada kuartal I/2026, sementara bank swasta mengurangi kantor fisik dan memperkuat layanan digital.
MAN 5 Sleman meraih Stand Favorit dan Medali Perunggu Lomba Video Profil di Extranas VIII Lamongan, 11–13 September 2026.
DPRD Bantul meminta Pemkab bergerak cepat memanfaatkan Kelok 23 untuk mendorong pariwisata, investasi, dan kesejahteraan warga selatan.
DPAD DIY kembali menggelar workshop perbaikan buku rusak karena minat masyarakat membaca buku fisik masih tinggi.
Menkeu Purbaya siapkan sekitar Rp31,1 triliun untuk mengalihkan pembayaran gaji PPPK daerah ke pemerintah pusat mulai Januari 2027.
DPRD Kota Jogja mulai mengarahkan tamu kunjungan kerja ke kampung wisata untuk mengenalkan produk lokal dan mendorong ekonomi masyarakat.