SPPG Gebyok Selo Boyolali Disetop Usai Puluhan Siswa Keracunan
SPPG Gebyok Selo Boyolali disetop setelah 34 siswa mengalami gejala diduga keracunan MBG. Tiga siswa menjalani rawat inap.
Ilustrasi Obat COvid-19./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA – Sekitar 400 orang di Israel menolak untuk menggunakan Pil Covid-19 Paxlovid produksi Pfizer, meskipun telah memenuhi syarat, menurut sebuah laporan pada Selasa (11/1/2022).
Sekitar 1.000 orang di negara tersebut sudah mulai meminum pil itu, sejak pertama kali didistribusikan pada Minggu (9/1/2022). Karena persediaan awal yang masih terbatas, saat ini hanya pasien yang dianggap berisiko tinggi yang bisa mendapatkan Paxlovid.
Doron Netzer dari Clalit Health Services mengatakan bahwa di Health Maintenance Organization, sekitar setengah dari mereka menolak pil tersebut.
“Saat kita melihat kedalam, ternyata kebanyakan orang yakin bahwa penyakit mereka ringan, dan meskipun mereka berada pada tingkat risiko tinggi, mereka menolak untuk mendapatkan pengobatan,” kata Netzer, melansir Times of Israel, Rabu (12/1/2021).
Sama halnya dengan vaksin, sebagian dari sikap warga Israel tersebut mungkin dikarenakan status obat Covid-19 tersebut yang masih baru dan di mata sebagian orang, itu tidak cukup teruji meskipun laporan tersebut tidak mengatakan apakah ada hubungan antara status vaksinasi individu dan sikap mereka terhadap pil.
Paxlovid merupakan pil virus corona pertama yang diproduksi oleh Pfizer. Obat tersebut dirancang untuk perawatan di rumah bagi pasien berusia 12 tahun ke atas yang berisiko tinggi dan terinfeksi Covid.
BACA JUGA: Syukurlah! Kasus Akif Covid-19 di Bantul Tinggal Satu
Dalam uji coba yang dilakukan terhadap 2.250 pasien, Pfizer mengatakan kepada FDA bahwa pil tersebut mampu memangkas rawat inap dan kematian sebesar 89 persen saat diberikan kepada orang-orang dengan penyakit Covid-19 ringan hingga sedang dalam waktu tiga hari setelah gejala.
Disebutkan bahwa kurang dari 1 persen pasien yang memakai obat Covid-19 Paxlovid dirawat di rumah sakit dan tidak ada pasien yang meninggal pada akhir masa studi 30 hari, dibandingkan dengan 6,5 persen pasien yang dirawat di rumah sakit dalam kelompok yang mendapatkan pil placebo, yang mencakup sembilan kematian.
Akan tetapi, Paxlovid hanya terbukti efektif jika diberikan dalam waktu lima hari setelah muncul gejala.
Adapun perawatan yang dilakukan terdiri dari tiga pil, yang diminum dua kali sehari selama lima hari. Dua dari pil tersebut adalah Paxlovid dan yang ketiga adalah antivirus berbeda yang membantu meningkatkan kadar obat utama di dalam tubuh.
Israel menjadi negara pertama yang menerima obat baru tersebut. Langkah yang tampak \'terburu-buru\' ini datang ketika varian Omicron yang sangat menular itu dengan cepat menjadi gelombang kelima virus corona di negara tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
SPPG Gebyok Selo Boyolali disetop setelah 34 siswa mengalami gejala diduga keracunan MBG. Tiga siswa menjalani rawat inap.
Prabowo akan menggelar ratas membahas pendidikan negeri gratis dari SD hingga universitas serta sumber pembiayaannya.
Sahroni meminta Polri dan Komdigi menggandeng TikTok serta Meta memblokir akun yang digunakan untuk provokasi tawuran.
Pemilik Bolosego Dyah Laily Fardisa mengungkap kronologi biaya jualan food truck di Alkid Jogja yang disebut mencapai Rp6 juta.
egadaian dan Polri memperkuat kerja sama pengamanan serta pemanfaatan produk dan layanan Pegadaian untuk mendukung keamanan operasional dan masyarakat.
Selama menjadi peserta JKN, Yoga telah memanfaatkan Program JKN untuk berbagai kebutuhan pengobatan.