Curhat Sumanto setelah Ditinggal Seluruh Tetangga karena Proyek Tol Jogja-Solo

Petugas pengukuran jalan tol Solo-Jogja merampungkan pekerjaannya di Kranggan, Polanharjo, Klaten, Kamis (6/8/2020). - Solopos.com/Ponco Suseno
11 Januari 2022 17:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, KLATEN--Proyek tol Jogja-Solo tak sampai menyentuh rumah warga bernama Sumanto di Dukuh Ngentak, Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah.

Rumah Sumanto menjadi satu-satunya yang tidak terdampak proyek Tol Solo Jogja di RT 014 Dukuh Ngentak, Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Kini, dia tinggal sendirian di rumahnya yang berada tidak jauh dari proyek jalur bebas hambatan itu.

Sementara itu mayoritas warga yang sebelumnya tinggal di kampung itu pindah rumah ke luar desa. Seluruh rumah warga di sana yang terdampak tol kini sudah rata dengan tanah. Warga yang sebelumnya tinggal satu kampung kini sudah berpencar dan memulai kehidupan di rumah baru.

“Sami bubar dewe-dewe. Enten sing teng Segaran, Delanggu, hingga Juwiring [sudah berpisah-pisah. Ada yang di Segaran, Delanggu, hingga Juwiring],” kata Manto, Senin (10/1/2021).

BACA JUGA: Skuter Listrik Melintas di Jalan Raya, Akan Diamankan Pemkot Jogja

Kini hanya tinggal Sumanto seorang diri di RT tersebut. Rumah Sumanto tidak terdampak proyek tol Jogja-Solo. Tetapi sawah yang berada di belakang rumahnya terdampak proyek. Sejak lahannya terdampak Tol Solo Jogja, Manto telah menerima uang ganti rugi. Uang tersebut digunakan untuk membeli sawah pengganti di depan rumahnya.

Manto belum mengetahui secara administrasi bakal masuk menjadi bagian warga di wilayah RT mana. Hingga kini belum ada pendataan ulang.

Meski demikian, Sumanto bersyukur rumahnya tidak ikut terdampak tol meski dari satu wilayah RT hanya tersisa miliknya seorang diri. Dia mengaku tidak perlu beradaptasi di tempat baru termasuk menjalankan usaha berjualan soto di depan rumah. “Karena sudah cocok untuk usaha di sini,” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, satu RT di wilayah Dukuh Ngentak, RT 014, Desa Kranggan, dihuni sekitar 27 keluarga. Kini permukiman itu rata dengan tanah. Tersisa satu bangunan masjid serta kompleks makam terdiri atas 100-an nisan yang masih berada pada bekas kampung tersebut. Nantinya bangunan itu juga akan dibongkar karena terdampak proyek tol Jogja-Solo.

Warga kampung itu sudah mulai pindah dan membongkar rumah mereka pada Juli 2021 setelah menerima uang ganti rugi tol. Sekitar November 2021, perkampungan itu sudah rata dengan tanah.

Mayoritas warga pindah ke luar kampung. Ada yang pindah di desa tetangga seperti di Desa Segaran, Kecamatan Delanggu. Ada pula yang pindah ke wilayah Kecamatan Juwiring.

Sumber : Solopos.com