Edy Rahmayadi Dilaporkan Pelatih Biliar karena Menjewer, Ini Langkah Polda Sumut

Tim kuasa hukum pelatih biliar Sumatra Utara Khairuddin Aritonang alias Coki saat melaporkan Edy Rahmayadi ke Kepolisian Daerah Sumatra Utara, Senin (3/1/2022). - Bisnis/Nanda Fahriza Batubara
04 Januari 2022 11:37 WIB Nanda Fahriza Batubara News Share :

Harianjogja.com, MEDAN - Polda Sumatra Utara (Sumut) bakal mempelajari laporan Khairuddin Aritonang alias Coki dalam dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik yang dilakukan Gubernur Edy Rahmayadi.

Coki adalah pelatih biliar yang dijewer dan diduga dipermalukan Edy pada acara penyerahan bonus atlet peraih medali PON Papua beberapa waktu lalu.

Menurut Direktur Kriminal Umum Polda Sumatra Utara Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja, petugas akan memanggil pihak-pihak yang berkaitan dengan kasus ini.

"Nanti kami lihat. Kalau LP sudah masuk ke kami, nanti akan diambil keterangan. Nanti korban akan dimintai keterangan, pihak-pihak terkait juga kami mintai keterangan. Kami lihat nanti seperti apa, karena baru tadi mereka buat laporan," kata Tatan kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Senin (3/1/2022).

Tatan menjelaskan kepolisian akan berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri untuk membahas perkara ini karena Edy adalah kepala daerah.

"Karena beliau pejabat publik, kami akan berkoodinasi dengan Kementerian Dalam Negeri," kata Tatan.

Selain itu, lanjut Tatan, mereka bakal meminta arahan kepada Kapolda Sumatra Utara Irjen Pol. Panca Putra Simanjuntak.

"Yang pasti kami akan meninta petunjuk kepada pimpinan, karena beliau (Edy) merupakan pejabat publik di Sumatra Utara. Dalam hal ini, apapun ceritanya, kami punya pimpinan. Terkait dengan pejabat publik kan ada aturannya," kata Tatan.

Sebelumnya, pelatih cabang olahraga biliar Sumatra Utara Khairuddin Aritonang alias Coki resmi melaporkan Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi ke Kepolisian Daerah Sumatra Utara, Senin (3/1/2022).

Edy dilaporkan karena tak kunjung minta maaf atas ulahnya menjewer dan diduga mempermalukan Coki di muka umum. Edy menjewer telinga Coki karena tidak tepuk tangan saat dirinya berpidato.

Peristiwa itu terjadi pada acara penyerahan bonus kepada pelatih dan atlet peraih medali PON Papua di Rumah Dinas Gubernur Sumatra Utara, Medan, Senin (27/12/2021) silam.

Laporan terhadap Edy dilayangkan tim kuasa hukum Coki yang dikoordinatori oleh Gumilar Aditya Nugroho.

"Hari ini kami resmi melaporkan Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi atas dugaan tindak pidana penghinaan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap klien kami, Khairuddin Aritonang," kata Gumilar.

Tak butuh waktu lama, laporan tim kuasa hukum Coki langsung diterima Polda Sumatra Utara dengan nomor LP/B/03/I/2022/SPKT/POLDA SUMUT.

"Kami berharap pihak Kepolisian bergerak cepat menindaklanjuti laporan ini. Kami juga percaya dan yakin aparat akan bertindak adil karena sejatinya semua orang sama di mata hukum," kata Gumilar.

Sebelum melaporkan, tim kuasa hukum Coki sudah terlebih dulu melayangkan somasi atau surat peringatan hukum kepada Edy pada Kamis (30/12/2021) lalu.

Mereka mendesak Edy meminta maaf secara terbuka atas ulahnya. Jika kurun 1x24 jam Edy tak menyampaikan permintaan maaf, maka perkara ini akan berlanjut ke ranah hukum.

Menurut tim kuasa hukum Coki lainnya, Teguh Syuhada Lubis, perbuatan Edy terhadap kliennya sudah memenuhi unsur pidana.

Teguh mengatakan, ulah Edy tidak hanya merugikan Coki secara pribadi. Namun juga menyakiti hati keluarga besarnya. Sekali lagi, Teguh mengingatkan Edy agar meminta maaf secara terbuka di depan publik alih-alih mengeluarkan pernyataan yang dianggap cuma mencari pembenaran semata.

"Bijaknya adalah Edy mengakui perbuatannya dan lalu minta maaf di depan publik, sebagaimana perbuatan itu juga dilakukan di depan orang banyak," kata Teguh.

Sementara itu, Coki tak kuasa menahan tangis saat mencurahkan isi hatinya atas perilaku Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi beberapa waktu lalu.

Coki mengungkap betapa perlakuan Edy tidak cuma menyakiti hatinya. Namun juga berdampak buruk terhadap psikis keluarga.

Padahal, Coki rela menjadi pelatih biliar demi mengharumkan nama baik Sumatra Utara di kancah nasional. Pengorbanannya pun tidak bisa dianggap remeh. Di sisi lain, Coki juga telah berhasil memberi prestasi pada cabang olahraga biliar di PON Papua.

Sembari menangis terisak-isak, Coki pun mencurahkan perasaannya setelah dipermalukan Edy di muka umum hanya karena tidak ikut memberi tepuk tangan saat mantan Pangkostrad itu berpidato.

"Yang membuat saya sakit saat kejadian itu, persoalan rasa cinta kepada Sumatra Utara ini, bahkan atlet saya sakit malaria pulang. Kami tidur di barak hutan. Belum lagi kejadian...," ujar Coki terbata-bata sembari mengusap air mata.

"Bagaimana perasaan orang tua saya, malu. Bahkan saya malu sekali, kemarin mau minum kopi saja ada yang bilang, 'Abang yang dijewer gubernur itu kan bang?' Allahu Akbar," sambungnya.

Akibat perlakuan Edy, Coki bahkan sampai menutup diri selama beberapa hari. Kondisinya begitu tertekan. Coki tak habis pikir Edy tega mempermalukannya di muka umum cuma karena tidak memberi tepuk tangan.

"Kalau dia mau minta maaf secara terbuka, ramai-ramai seperti ini, menghadirkan kawan-kawan yang ada dan beberapa asosiasi, saya akan melakukan itu (menerima maaf). Tapi kalau juga dia tidak mau, mungkin diskusinya ke bagian hukum," ujar Coki.

Sementara itu, Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi tampak bergeming meski ulahnya hendak dilaporkan ke penegak hukum.

"Apanya yang mau dilapori? Ya enggak lah, laporan itu kan ada syaratnya. Kalian lah yang bela saya," ujar Edy di rumah dinasnya, Kamis (30/12/2021).

Sebelumnya, Edy membuat heboh lantaran menjewer kuping pelatih biliar Sumatra Utara, Khairuddin Aritonang alias Coki, saat menyerahkan bonus bagi para pelatih dan atlet peraih medali pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua.

Saat menyampaikan pidato di rumah dinasnya, Senin (27/12/2021) lalu, Edy tiba-tiba memanggil Coki yang sedang duduk.

Setelah Coki naik ke atas panggung, Edy menanyakan alasannya tidak ikut bertepuk tangan.

"Kenapa enggak tepuk tangan?," tanya Edy.

Edy terus mencecar Coki yang hanya berdiri seolah bingung dengan sikap mantan Ketua Umum PSSI itu.

"Atlet apa kau?" tanya Edy.

"Pelatih biliar," jawab Coki.

"Pelatih? Pelatih saja tidak mau tepuk tangan. Pelatih tak tepuk tangan, tak cocok jadi pelatih ini. Berdiri yang benar kau, sontoloyo kau," sambung Edy.

Setelah itu, Edy tiba-tiba menjewer telinga Coki. Coki pun awalnya tampak bingung sekaligus tak percaya dengan perlakuan yang dialaminya.

Tak menunggu lama, Coki langsung meninggalkan lokasi sembari memegangi kuping.

Saat Coki beranjak pergi, Edy terlihat masih tetap berkata-kata.

"Sudah, pulang sana. Tidak usah dipakai-pakai lagi," ujar Edy.

Sumber : JIBI/Bisnis.com