Hospitalisasi karena Omicron Rendah, Ini Penyebabnya

Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers usai Rapat Terbatas, Senin (10/05/2021), di Jakarta - Humas Setkab - Rahmat
03 Januari 2022 15:07 WIB Indra Gunawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan meski varian Omicron mampu menembus vaksin, namun sel memori kekebalan, atau yang dikenal sebagai sel T (T-cell) akibat vaksin tersebut cukup baik. Hal ini berdampak pada hospitalisasi karena Omicron sangat rendah. 

“Secara klinis, meski perlindungan dari vaksin bisa dilalui tapi, perlindungan T-cell-nya masih cukup baik. “itu menjelaskan hospitalisasi rate-nya rendah. Dari 152 kasus Omicron yang terkonfirmasi di Indonesia, setengahnya tanpa gejala dan setengahnya gejala ringan,” ujar Budi dalam keterangan persnya secara virtual, Senin (3/1/2022). 

“Artinya tidak membutuhkan oksigen, saturasinya masih di atas 95 persen dan 23 persennya sudah sembuh. Kita melihat belum ada yang membutuhkan perawatan serius di rumah sakit. Cukup dikasih obat dan vitamin, mereka sudah kembali ke rumah,” sambung Budi.

Menurut Budi, mengklaim, kasus Omicron dan Covid-19 Indonesia secara keseluruhan sudah relatif terkendali. Menurut Budi, regulasi karantina juga Indonesia sudah semakin ketat.

“Indonesia berada di posisi ke 40 negara yang mengonfirmasi kasus Omicron dengan 152 kasus per hari ini. Di Asia Tenggara negara yang memiliki kasus tinggi diantaranya Singapura dengan 1.600 kasus dan Thailand 1.500,” ujar Menkes.

Dikatakan Omicron juga mengalami lonjakan di India dengan lebih 1.700 kasus. “Indonesia alhamdulillah relatif lebih rendah dibanding populasinya. Karantina kita cukup ketat. Dari 152 kasus, 6 diantaranya transmisi local,” jelas Budi.

Di sisi lain, negara dunia yang sudah mengonfirmasi varian Omicron  sudah 408 ribu kasus, naik dibanding pekan sebelumnya 184 ribu di seluruh dunia. Sedangkan negara yang terdeteksi Omicron naik dari 115 negara menjadi 132 negara.

“Paling banyak sekarang ada di Eropa. Inggris, Denmark, itu semua di atas 20 ribu. Begitu juga Amerika Serikat. Afrika Selatan turun ke 1.800-an,” ujar Budi.

Sumber : JIBI/Bisnis.com