Varian Omicron Lebih Berbahaya dari Delta? Ini Faktanya

Tangkapan layar- Ilustrasi Virus Corona varian Omicron. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
20 Desember 2021 11:47 WIB Indra Gunawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Kementerian Kesehatan telah mengonfirmasi kasus positif virus Corona varian Omicron di Indonesia beberapa waktu lalu. 

Diketahui, saat ini dari tiga yang terinfeksi varian B.1.1529 itu satu telah dinyatakan negatif dan dua lagi sedang mengalami isolasi atau perawatan. 

Namun khusus varian Omicron, para peneliti maupun pengamat sepertinya belum sepaham mengenai implikasi penularan virus tersebut. Ada yang menyebut mutasi virus ini berbahaya, namun tak sedikit yang mengatakan bahwa tingkat mortalitas varian Omicron tak seganas Covid-19 varian Delta.

Melansir dari berbagai sumber, ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang varian Omicron.

Fakta-fakta Omicron

  1. Menggandakan dirinya 70 kali lebih cepat dibanding Delta

 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 26 November 2021 telah menetapkan varian Omicron sebagai variant of concern (VoC) atau varian yang mengkhawatirkan. Penelitian terbaru menyebut Omicron berkembang biak lebih cepat di saluran pernafasan, lebih lambat di paru-paru.

Perbedaan utama dalam seberapa efisien Omicron dan varian virus corona lain berkembang biak dapat membantu memprediksi efek Omicron, kata para peneliti.

Dibandingkan dengan varian Delta, Omicron menggandakan dirinya 70 kali lebih cepat di jaringan yang melapisi saluran pernafasan, yang dapat memfasilitasi penyebaran dari orang ke orang, kata peneliti. Tetapi di jaringan paru-paru, Omicron bereplikasi 10 kali lebih lambat daripada versi asli virus corona, sehingga tidak menyebabkan penyakit parah.

Sebuah laporan resmi dari temuan ini sedang dalam tinjauan sejawat untuk publikasi dan belum dirilis oleh tim peneliti.

"Penting untuk dicatat bahwa tingkat keparahan penyakit pada manusia tidak hanya ditentukan oleh replikasi virus  tetapi juga oleh respons imun setiap orang terhadap virus," kata pemimpin studi Dr. Michael Chan Chi-wai dariUniversitas Hong Kong.

Chan menambahkan, "Dengan menginfeksi lebih banyak orang, virus yang sangat menular dapat menyebabkan penyakit dan kematian yang lebih parah meskipun virus itu sendiri mungkin kurang patogen. Oleh karena itu, digabungkan dengan penelitian terbaru kami yang menunjukkan bahwa varian Omicron sebagian dapat  kebal dari vaksin. Ditambah infeksi di masa lalu, ancaman keseluruhan dari varian Omicron kemungkinan akan sangat signifikan."

 

  1. Omicron mencengkeram sel lebih erat, menahan beberapa antibodi

Model struktural tentang bagaimana varian Omicron menempel pada sel dan antibodi menjelaskan perilakunya dan akan membantu dalam merancang antibodi penetral, menurut para peneliti.

Dengan menggunakan model komputer dari protein lonjakan pada permukaan Omicron, mereka menganalisis interaksi molekuler yang terjadi ketika lonjakan itu mencapai protein permukaan sel yang disebut ACE2, pintu gerbang virus ke dalam sel.

Secara metaforis, virus asli berjabat tangan dengan ACE2, tetapi cengkeraman Omicron "lebih mirip pasangan yang berpegangan tangan dengan jari-jari mereka terjalin," kata Joseph Lubin dari Rutgers University di New Jersey.

 

"Anatomi molekuler" dari pegangan dapat membantu menjelaskan bagaimana mutasi Omicron bekerja sama untuk membantu menginfeksi sel, kata Lubin.

Tim peneliti juga memodelkan lonjakan dengan berbagai kelas antibodi yang mencoba menyerangnya. Antibodi menyerang dari sudut yang berbeda, "seperti pertahanan tim sepak bola yang mungkin menjegal pembawa bola," dengan satu orang menyambar dari belakang, yang lain dari depan, kata Lubin.

Beberapa antibodi "tampaknya akan terguncang" sementara yang lain cenderung tetap efektif. Vaksin booster meningkatkan antibodi, menghasilkan "lebih banyak pelindung," yang mungkin mengkompensasi sampai batas tertentu untuk "cengkeraman antibodi individu yang lebih lemah," kata Lubin.

  1. Tingkat keparahan

Belum dapat dipastikan apakah infeksi Covid-19 akibat varian Omicron, dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan infeksi dari varian lain, termasuk Delta. Data awal menunjukkan bahwa ada peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan.

  1. Potensi reinfeksi

Bukti awal menunjukkan kemungkinan orang yang sebelumnya terinfeksi Covid-19 dapat terinfeksi ulang dengan lebih mudah. 

  1. Efektivitas vaksin

WHO saat ini masih bekerjasama dengan mitra teknis untuk memahami dampak potensial dari varian ini pada tindakan pencegahan yang ada, termasuk vaksin. Sejauh ini, vaksin masih tetap efektif melawan penyakit parah dan kematian dan tetap efektif terhadap varian Delta yang memiliki tingkat penularan tinggi.

  1. Masih bisa dideteksi PCR

WHO menyebutkan bahwa tes PCR (Polymerase Chain Raction) masih mampu mendeteksi infeksi Covid-19 akibat Omicron.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia