Vaksin Ebola Bundibugyo Masuk Uji Klinis Fase 1 di Oxford
Universitas Oxford memulai uji klinis fase 1 vaksin Ebola Bundibugyo yang dikembangkan dalam 57 hari sejak wabah dinyatakan.
Ilustrasi hasil tes Covid-19 varian Omicron/The Guardian
Harianjogja.com, JAKARTA - Badan kesehatan dunia WHO mengatakan varian Omicron dari virus corona menyebar secara signifikan lebih cepat daripada jenis Delta di beberapa negara-negara, dengan jumlah kasus berlipat ganda dalam 1,5 hingga 3 hari.
Dalam pembaruan pada hari Sabtu, dilansir dari CNBC badan kesehatan PBB mengatakan Omicron telah dilaporkan di 89 negara.
Varian yang sangat bermutasi menyebar dengan cepat di negara-negara dengan tingkat kekebalan populasi yang tinggi, kata WHO, tetapi tidak jelas apakah ini karena kemampuan virus untuk menghindari kekebalan, peningkatan penularan yang melekat atau kombinasi keduanya.
Badan tersebut menetapkan Omicron sebagai varian kekhawatiran pada 26 November, setelah pertama kali terdeteksi oleh para ilmuwan di Afrika Selatan, dan masih banyak yang belum diketahui tentang hal itu. Para ilmuwan tetap tidak yakin seberapa berbahayanya itu, tetapi data awal menunjukkan itu bisa lebih tahan terhadap vaksin dan lebih menular daripada varian Delta.
“Masih ada data yang terbatas tentang tingkat keparahan klinis Omicron,” kata WHO dalam pembaruannya. “Lebih banyak data diperlukan untuk memahami profil keparahan dan bagaimana tingkat keparahan dipengaruhi oleh vaksinasi dan kekebalan yang sudah ada sebelumnya.”
Mereka menambahkan, masih ada data terbatas yang tersedia, dan tidak ada bukti peer-review, tentang kemanjuran atau efektivitas vaksin hingga saat ini untuk Omicron.
Pada hari Jumat, sebuah studi yang tidak ditinjau oleh rekan sejawat oleh Imperial College London mengatakan risiko infeksi ulang dengan Omicron lebih dari lima kali lebih tinggi dan tidak menunjukkan tanda-tanda lebih ringan daripada Delta.
Penelitian tersebut meragukan optimisme hati-hati dari beberapa ahli, terutama berdasarkan laporan anekdotal dari Afrika Selatan, bahwa jenis baru ini mungkin tidak virulen dan tidak membanjiri sistem perawatan kesehatan.
Studi ini dirilis ketika pejabat Inggris melaporkan rekor kasus COVID-19 untuk hari ketiga berturut-turut, dengan peningkatan menjadi 93.045 infeksi baru, sementara Perdana Menteri Prancis Jean Castex menyamakan penyebaran Omicron di Eropa dengan "kilat".
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Universitas Oxford memulai uji klinis fase 1 vaksin Ebola Bundibugyo yang dikembangkan dalam 57 hari sejak wabah dinyatakan.
Sekolah Rakyat MA 20 Sleman memastikan PWA masih berstatus siswa dan membantah kabar kabur maupun putus sekolah usai kasus celurit.
Krisis migran di perbatasan Spanyol-Maroko menewaskan 67 orang. Gelombang penyeberangan massal diduga dipicu faktor politik dan diplomatik.
Petani di Kapanewon Semin mulai panen tembakau Grompol. Harga daun basah Rp4.500 per kilogram dan tetap dinilai menguntungkan.
Satu bayi kasus penitipan di Pakem masih dirawat BRSPA Dinsos DIY setelah orang tua biologis meminta perpanjangan masa penitipan.
Program Sapa Bantul kembali disalurkan kepada 1.000 KPM melalui warung pangan warga dengan paket sembako bergizi senilai Rp200.000.