Covid-19 Omicron Masuk Indonesia, Begini Cara Mendeteksinya

Tangkapan layar- Ilustrasi Virus Corona varian Omicron. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
17 Desember 2021 14:17 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Varian omicron dinyatakan sudah masuk dan menginfeksi pasien di Indonesia. Hal itu membuat banyak orang khawatir. Banyak juga yang masih belum paham soal bagaimana cara mendeteksi virus varian terbaru tersebut.

Ahli Patologi Klinis Tonang Dwi Ardyanto mengatakan tes PCR bisa mendeteksi kalau seseorang terkonfirmasi covid. Termasuk bila benar itu terjadi karena Omicron. Tapi PCR tidak bisa mengatakan itu varian yang mana.

Karena itu, setelah terbukti positif covid, dilanjutkan tes namanya Whole Genome Sequencing (WGS). Tes ini merekam urutan gen virus yang ditemukan. Dari sana baru tahu apa varian virus covidnya.

Sementara itu, katanya untuk SGTF (S Gen Target Failure) merupakan skrinning. Jadi kalau ketemu target gen lain (misalnya N, E, RdRp, Orf, Helicase) tapi kok tidak ketemu S, maka curiga ada varian.

"Itupun bisa saja varian lain. Untuk memastikan tetap dengan WGS tadi. Hanya SGTF itu cepat hasilnya, bisa 24 jam ketahuan, atau bahkan kurang. Kalau WGS itu bisa 5-7 hari baru dapat dipastikan. Maka skrinning dulu agar bisa tindak lanjut sambil menunggu WGS," paparnya dikutip dari akun facebooknya.

Baca juga: Di Hadapan Hakim, Nia Ramadhani Nangis Ingat Omongan Anak

Dia juga mengatakan tidak semua reagen PCR bisa SGTF. Hanya reagen yang kebetulan pas titik tangkapnya di tempat yang terjadi mutasi. Dalam hal Omicron, ada beberapa reagen yang sudah dibuktikan mampu SGTF untuk Omicron. Maka Kemenkes memberikan reagen tersebut ke lab-lab tertentu untuk menyaring. Jadi tidak semua lab PCR bisa melakukan SFTF itu.

Adapun, lanjutnya, kriteria reagen itu bisa SGTF karena sudah dikalibrasi lembaga berwenang. Setelah diterima lab, masih dilakukan optimasi lagi. Agar yakin bahwa reagen bekerja benar-benar sesuai dengan petunjuk penggunaannya. Maka biaya lab itu termasuk harus mengoptimasi tersebut. Tidak semua reagen benar-benar untuk pemeriksaan pasien.

"Ibaratnya terima bahan dan resep membuat roti, maka belum tentu kompor, blender, oven kita benar-benar memberi hasil yang sama walau sudah sesuai petunjuk resep dan cara masaknya. Harus dicoba dulu, dicari yang optimal dulu, agar benar-benar hasilnya sesuai harapan," tambahnya.

5 Reagen itu juga belum tentu omicron. Tapi istilahnya masih probable istilahnya. WGS yang akan memastikannya.

Jika di laboratorium tersebut tidak ada SGTF maka ada beberapa indikasi yang bisa menjadi alasan perlu dilakukan WGS walau tidak melewati proses SGTF.

Misalnya ketemu kasus dengan jumlah virus tinggi. Atau dengan riwayat perjalanan dari daerah atau negara dengan laporan kasus Omicron. Atau kondisinya dengan imunitas tertekan, seperti penderita HIV atau TBC Kronis.

"Yang pentung saat ini harus sadar diri, sadar situasi. Baru menyebar Omicron, varian baru, harus lebih ketat dan disiplin protkesnya. Sebisa mungkin jangan bepergian, kecuali terpaksa karena tugas misalnya," tutupnya.

Sumber : bisnis.com