Advertisement
Indonesia Akan Tambah 1.000 Pasukan Penjaga Perdamaian PBB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kedua kanan) dalam pertemuan dengan Wakil Sekjen PBB untuk Misi Pasukan Perdamaian Jean-Pierre Lacroix (kedua kiri), di sela-sela debat pertama Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, di markas PBB, New York, Selasa (22/1/2019) waktu setempat. - Istimewa
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Indonesia menegaskan komitmen penambahan sekitar 1.000 personel dan penguatan kapasitas penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan bahwa komitmen ini merupakan bagian dari kontribusi Indonesia guna mendukung penguatan Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB.
Advertisement
“Komitmen memajukan pelatihan dan peningkatan kapasitas para peacekeepers mutlak diperlukan guna mendukung mandat Misi dan memastikan keselamatan mereka,” ujarnya dalam pertemuan virtual 4th UN Peacekeeping Ministerial (UNPM) dikutip dari laman Setkab, Rabu (8/12/2021).
Secara khusus, Menlu menyampaikan bahwa pelatihan dan peningkatan kapasitas diperlukan untuk mendukung peacekeepers yang seringkali bertugas di situasi yang berbahaya.
Untuk itu, dia menekankan dua hal penting yang perlu dilakukan untuk mendukung pelatihan dan peningkatan kapasitas para penjaga perdamaian tersebut.
Pertama, katanya, pelatihan dan peningkatan kapasitas harus sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Di masa pandemi seperti saat ini, peacekeepers kita mendapat tugas tambahan. Mereka harus dapat mendukung negara tempat Misi untuk penanganan pandemi. Di sinilah pengetahuan mengenai kesehatan komunitas menjadi hal yang penting,” ujarnya.
Kedua, Menlu menekankan pentingnya investasi seluruh negara bagi kemitraan yang inovatif.
Menurutnya, Triangular Partnership Project (TPP) yang akan berlangsung di Indonesia pada tahun 2022 merupakan salah satu wujud sumbangsih Indonesia dalam mendukung inovasi kemitraan.
“Penguatan kemitraan yang inovatif ini juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas peacekeepers perempuan, khususnya dalam perlindungan warga sipil,” ujar Retno.
Adapun, UNPM merupakan pertemuan internasional terbesar yang membahas berbagai isu Misi Perdamaian PBB.
Pertemuan ini didahului dengan empat pertemuan persiapan dimana Indonesia merupakan salah satu negara yang memimpin pertemuan pendahuluan dengan tema Partnership, Training, and Capacity Building.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
- Kualitas Udara Jakarta Memburuk saat Arus Balik, Kategori Tidak Sehat
- Antrean Truk di Ketapang Mengular 12 Jam, Sopir Keluhkan Layanan
- Kabar Duka Mantan Menhan Juwono Sudarsono Wafat
- Dalam Sepekan Sulawesi Utara Diguncang Puluhan Gempa, Ini Polanya
Advertisement
Konsumsi BBM Naik, Pertamina Pastikan Stok di DIY dan Jateng Aman
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Nelayan Bantul Hilang di Muara Opak, Motor Terparkir di Hutan Mangrove
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Angin Kencang di Prambanan: Belasan Rumah Rusak dan Joglo Roboh
- Volume Surat Menyurat Turun 40 Persen, Ini Strategi Kantor Pos Jogja
- HUT ke-22 Tagana Sleman: Danang Maharsa Puji Dedikasi Relawan
- Ansyari Lubis Minta PSS Sleman Tampil Maksimal Lawan Kendal Tornado
- Tabrakan Maut Lawan Truk Hino di Jalur Jogja-Wonosari, Pemotor Tewas
Advertisement
Advertisement







