PVMBG Tegaskan Sudah Menyampaikan Peringatan Dini Erupsi Gunung Semeru ke Pemerintah Daerah

Seorang warga mengangkut barang yang bisa diselamatkan dari rumahnya yang hancur akibat erupsi gunung Semeru yang meluncurkan awan panas di desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). Luncuran awan panas akibat letusan gunung Semeru mengakibatkan puluhan rumah di dua kecamatan rusak dan delapan kecamatan terdampak abu vulkanik. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto - foc
07 Desember 2021 23:57 WIB Setyo Puji Santoso News Share :

Harianjogja.com, LUMAJANG - Banyaknya korban akibat erupsi Gunung Semeru beberapa waktu lalu tak hanya menjadi duka mendalam bagi warga di Lumajang, tapi juga bangsa Indonesia.

Terkait dengan hal itu, tak sedikit yang menyoroti kesiapan pemerintah dalam upaya antisipasi kebencanaan atau early warning system. Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Pusat PVMBG Andiani angkat bicara.

BACA JUGA : Bupati Lumajang Akui Dapat Peringatan Dini Erupsi Semeru

Menurutnya, peringatan dini bahaya gunung api sudah dilakukan bahkan bukan hanya di Semeru, tetapi juga di 69 gunung api aktif yang dipantau oleh PVMBG melalui pemasangan peralatan pemantauan.

“Sudah ada peningkatan (aktivitas Gunung Semeru) pada tanggal 1 Desember 2021. Sudah terjadi awan panas guguran dan hal ini sudah kami sampaikan kepada para stakeholder di daerah melalui grup WhatsApp. Selain itu, pada 2 Desember 2021 kami juga mengeluarkan surat yang ditujukan kepada Kepala BNPB, Gubernur Jawa Timur, Bupati Lumajang, dan Bupati Malang mengenai kondisi kekinian beserta imbauan yang kami sampaikan di dalam surat tersebut,” papar Andiani, dikutip dari laman NU.or.id.

PVMBG melalui pos pengamatan Gunung Semeru, kata Andiani, juga melakukan pemantauan selama 24 jam dalam satu hari dan melaporkan hasil pengamatan tersebut tiap 6 jam sekali.

“Selain itu pemberian informasi peringatan dini juga kami lakukan melalui aplikasi MAGMA Indonesia sebagai aplikasi kebencanaan yang dimiliki oleh badan geologi, website PVMBG dan grup WA pemantau Gunung Api Semeru,” kata Andiani.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Joko Sambang mengatakan bahwa tidak terdapat keberadaan EWS di Desa Curah Kobokan.

Padahal, EWS tersebut merupakan alat penting untuk mendeteksi peringatan dini bencana.

“Alarm EWS nggak ada, hanya ada seismometer di daerah Dusun Kamar A. itu untuk memantau pergerakan air dari atas agar bisa disampaikan ke penambangan di bawah,” kata Joko.

Sebelum erupsi terjadi, Joko menyebut bahwa alat seismometer membaca getaran kenaikan debit air yang mencapai 24 amak, sedangkan secara visual aktivitas vulkanik tidak kelihatan karena turtutup kabut tebal.
“Info detail yang saya dapat sebelum kejadian, Gunung Semeru tertutup kabut. Tapi dari kamera CCTV pos pantau di Gunung Sawur, terlihat kepulan namun tidak terekam getaran,” urainya.

BACA JUGA : Potensi Erupsi Susulan Gunung Semeru, Ini Penjelasan PVMBG 

Selain minimnya peringatan dini, ia juga menilai banyaknya korban dalam bencana tersebut karena minimnya edukasi kepada masyarakat.

“Waktu awan panas guguran (AGP) turun, banyak orang yang lihat di sungai. Mungkin mereka tidak membayangkan sebesar itu. Memang biasanya waktu banjir orang-orang lihat terus di video,” ujar Joko.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia