SDM & Finansial Jadi Kendala Internasionalisasi Kampus

Kegiatan International Office Conference (IOC) 2021 di salah satu hotel di Kota Jogja, Sabtu (4/12/2021). - Ist.
06 Desember 2021 11:57 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dukungan sumber daya manusia (SDM) dan finansial masih menjadi kendala program internasionalisasi perguruan tinggi di Indonesia. Dari 4.000 kampus saat ini hanya 250 yang secara khusus memiliki divisi yang menangani internasionalisasi atau dikenal dengan lembaga Kantor Urusan Internasional (KUI).

Ratusan pengelola KUI berbagai kampus di Indonesia membahas persoalan internasionalisasi melalui International Office Conference (IOC) 2021 di salah satu hotel di Kota Jogja, Sabtu (4/12/2021).

Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan UII Wiryono Raharjo selaku penyelenggara konferensi menjelaskan kemampuan setiap kampus di Indonesia berbeda-beda. Saat ini dari sekitar 4.000 kampus, baru 250 saja yang secara khusus aktif menangani urusan internasional yang tergabung di forum KUI. Ia menilai kondisi kampus DIY sudah cukup kuat dalam melakukan internasionalisasi, hampir 80% kampus di Jogja memiliki program yang mengarah ke internasionalisasi.

Kemampuan finansial dan SDM memang menjadi kendala utama dalam internasionalisasi kampus. “Kendalanya internasionalisasi itu butuh dukungan bisa SDM pembiayaan. Tidak semua perguruan tinggi memiliki dukungan memadai. Level berbeda-beda, ada yang sudah ekstensif punya mahasiswa internasional banyak, ada yang tidak sama sekali,” katanya di sela-sela kegiatan konferensi tersebut.

Wiryono menyatakan melalui forum KUI tersebut memberikan dukungan kepada kampus yang belum secara aktif melakukan internasionalisasi. Terutama membantu dalam membuka jaringan internasional.

“Ini jadi tantangan kami bekerja sama untuk menguatkan teman-teman di luar anggota forum KUI. Membantu yang belum [melakukan internasionalisasi], melalui berbagai macam kegiatan berjaringan dengan kami, kadang ada program di luar KUI, hibah dari Eropa kami mengajak. Kami memberdayakan mereka yang belum memiliki KUI,” ujarnya.

Ia menilai posisi KUI sangat dibutuhkan di tengah semakin terbukanya persaingan pendidikan tinggi di ranah global. KUI menjadi salah satu motor dari internasionalisasi perguruan tinggi sehingga forum tersebut selalu dibutuhkan. Forum ini telah berkontribusi bersama dengan pemerintah salah satu melalui program International Student Mobility Awards (ISMA) yang kegiatannya melakukan pengiriman mahasiswa ke berbagai perguruan tinggi di dunia, di mana proses seleksinya melibatkan forum KUI.

“Kami sebagai pintu masuk program tersebut yang intinya adalah mengawal internasionalisasi melalui mobilitas mahasiswa. Melalui konferensi ini kami mendorong kampus-kampus yang belum fokus internasionalisasi agar bergabung dan memberikan sejumlah rekomendasi untuk pemerintah,” katanya.